Ir Ciputra : Saya Sukses karena sejak Bayi Pegang Kardus Dagangan

Ekonomi Bisnis

[ Selasa, 22 September 2009 ]

Ir Ciputra : Saya Sukses karena sejak Bayi Pegang Kardus Dagangan

Virus entrepreneur terus merebak, termasuk di kalangan pelajar. Pada acara di sekolah Kanisius Education Fair, Menteng, akhir bulan lalu, murid sekolah itu antusias menyi mak talk show tentang entreprene ur. Pengamat ekonomi Dr Aviliani dan begawan properti Ir Ciputra ha dir untuk memberikan wejangan.

YERI VLORIDA, Jakarta

BINCANG-bincang yang berlangsung hangat itu disimak serius oleh siswa. Dalam pen jelasannya, Pak Ci -sapaan akrab Ciputra- mengisahkan tentang dirinya semasa sekolah hing ga kuliah. Menurutnya, menjadi siswa yang sering dijuluki trouble maker (tukang bi kin onar) di kelas tidak menghalangi untuk ke suksesan orang. “Itu masih wajar alami remaja terutama siswa laki-laki. Saya juga mengalaminya. Waktu sekolah, penjelasan dari guru saya bantah dengan argumen. Dan pada akhirnya guru itu membenarkan ide dan penjelasan saya,” katanya disambut tawa siswa.

Mengapa? siswa seperti itu, menurut Pak Ci, cenderung berbeda dengan murid dan rekan sekolahnya. Sedikit ingin berbuat sesuatu yang beda. Sebab itu pula ide kreatif dan gagasan sering dilontarkan siswa untuk mewujudkan impiannya. Memang sering dianggap tidak wajar dan sedikit provokatif bahkan siswa itu dianggap bandel. Namun, siswa seperti itulah yang akan mengalami kesuksesan.

Diceritakan Pak Ci lagi, semasa kuliah di ITB selalu diajarkan dengan materi rumus yang hi tu ngan yang berat. Akibatnya, siswa sulit me nyelesaikan tugas karena dibebani hafalan ru mus. Mencontek rumus-rumus untuk me¬≠ngerjakan soal ujian. “Pola pendidikan seperti itu harus diubah. Di sekolah milik Grup Ciputra yang ditekankan yakni program entrepreneurs. Sebab otak kiri dan kanan harus berimbang untuk menciptakan konsep ide dan reaksi aktif. Sehingga siswa bisa jadi cerdas tanpa harus menghafal rumus,” tukasnya.

Lantaran tertarik dengan penjelasan Pak Ci, ketika diberikan kesempatan bertanya, para siswa tampak rebutan. Nicholas, siswa kelas 2 IPA Kanisius. menanyakan, jenis bisnis apa yang cocok dilakukan bagi seorang pelajar. “Bagaimana jika seorang pelajar untuk memulai usaha. Jenisnya apa yang cocok ?,” tanya dia. Lain pula dengan pertanyaan yang dilontarkan Nekwel, siswa kelas 2 IPA. Dia minta Pak Ci menjelaskan, apa bisa bersamaan sekolah dan sekaligus menjadi pengusaha ?

Pak Ci menjawab, dirinya dan keluarga sejak lahir di Perigim, Sulawesi Selatan, 78 tahun silam menetap di ruko. Pasalnya, kedua orang tuanya, Tjie Siem Poe dan Lie Eng Nio, merupakan pedagang. “Tangan saya ketika merangkak sudah memegang kardus dagangan. Lingkungan entrepreneurs tercipta di keluarga sejak kecil,” kisahnya.

Jika ingin menjadi pengusaha, anak muda zaman sekarang lebih kreatif. Idenya lebih maju contohnya saja bisnis IT yang tengah digandrungi. Buktinya facebook yang merajai dunia maya. Menyesuaikan dengan jadwal bisa dilakukan bersamaan asal tidak mengganggu. Memasarkan dengan memanfaatkan keluarga ayah, paman, kakak dan saudara untuk target market. Terus berlanjut hingga meluas ke pasaran. Ide, konsep marketing, dan risiko adalah yang diperhitungkan dalam bisnis.

Semuanya itu akan menghambat jika ada ide tetapi tidak mengerti. Lalu mengerti pun tidak berguna jika tidak ada aksi. “Otodidak dan street market akan lebih jitu jika dilakukan daripada hanya mengonsep tetapi no action,” tuturnya disambut aplaus

Sementara itu, Aviliani dalam pemaparannya juga mengungkapkan pengalaman dirinya semasa muda. Pada saat kuliah di Atmajaya, dia memilih jurusan Ekonomi. Sambil kuliah untuk menambah pengalaman, dia juga bekerja. Pengalaman yang bertahun-tahun di bidang perbankan itu mengasah kemampuannya. Akhirnya pada 2005, dia melanjutkan S3 manajemen bisnis di Universitas Indonesia. “Saya sangat menyukai dunia perbankan dan ingin bekerja menjadi orang bank. Ya akhirnya memilih jurusan ekonomi,” jelasnya.

Penyesuaian keinginan, kemampuan, dan pilihan jurusan kuliah, kata Aviliani, harus dilakukan siswa sejak awal. Bukan berdasarkan tiru-tiru atau mengikuti tren di rekan satu sekolah. Sebab itu, ketika lulus dari SMA, siswa disarankan untuk memantapkan untuk konsisten dengan pilihan jurusan.

Selain itu, menurut Presiden Universitas Ciputra Entrepreneurs Center Antonius Tanan, gelar sarjana bukanlah jaminan. Sebab, di Jakarta saja saat ini terdapat 300 perguruan tinggi (PT). Dalam setahun, ratusan PT itu meluluskan ribuan sarjana yang membutuhkan kerja. Bahkan diprediksi pada 2020 mendatang, muncul tuntutan dunia kerja agar para lulusan sarjana memiliki skill entrepreneurs.

Dijelaskannya, di negara belahan Afrika saja entrepreneurs mulai digenjot pemerintah sejak 2008. Sedangkan di Amerika Serikat sudah sejak 30 tahun silam. Mozambik misalnya memiliki penduduk 21.8 juta dengan per kapita mencapai angka untuk Gross Domestic Product (GDP) USD 350. Mozambik juga telah meluncurkan program kurikulum entrepreneurship untuk siswa. Program itu dimulai dari sekolah menengah dan kejuruan di Mozambik. Selain itu, negara lainnya seperti Tiongkok sudah memulai langkah itu dan sekarang terbukti menjadi negara ekonomi maju terkuat di Asia.

Dunia pendidikan dengan konsep entrepreneurs itu juga telah diterapkan di sekolah dan universitas milik Ciputra Grup. Membuat konsep bisnis hingga praktik menjual produk dengan sistem marketing telah diajarkan kepada siswa. Di antaranya di sekolah Global Jaya, Bin taro, dilengkapi dengan program International Baccalaureate (IB) yang diterapkan di berbagai negara di dunia. (*/kim)(jawa pos)

Leave a Reply