Indahnya Pantai Akkarena di Makassar

posted in: Entrepreneurship | 0

Saya baru dengar tentang pantai Akkarena yang letaknya juga di sekitaran kota makassar, dalam pikiran saya pantai di kota makassar hanyalah pantai Losari aja. Ternyata ada pantai lain juga. Saya jadi penasaran, dan pingin berkunjung kesana.

Pantai Losari memang sudah terkenal dan jadi ikonnya kota Makassar. Sebagai ikon sebuah kota besar, tentunya setiap orang yang berkunjung ke makassar pasti pingin mampir dan ngeliat seperti apa pantai Losari yang terkenal itu.

Saking banyaknya yang datang berkunjung dari pagi sampai pagi lagi maka akibatnya pantai Losari jadi kumuh banget dan ramai sekali. Buat saya yang sering banget datang main-main ke makassar, pantai Losari nggak seru lagi deh buat saya kunjungi.

Karena bosan dengan Losari saya tanya kepada kawan yang ada di Makassar, saya bertanya tentang pantai lain yang ada didekat kota, dan kalo ada saya minta ke kawan itu untuk diajak kesana.

Kata kawan saya ada pantai lain yang juga bagus di makassar, dekat dengan kota, dekat mall dan gak kalah bagus dengan Losari, bahkan beliau bilang losari kalah bagus dengan pantai akkarena ini. Penasaran dong saya jadinya dan saya langsung minta diantar kesana biar tau sendiri seperti apa bagusnya pantai akkarena itu.

Pantai akkarena berada di kawasan tanjung bunga berada tepat di seberang GTC mall, dan hanya berjarak sekitar 10 menit dari pusat kota dengan naik mobil sendiri. Kalo naik motor pastinya lebih cepet lagi.

Tanjung bunga, wilayah tempat pantai akkarena berada adalah sisi lain kawasan kota makassar yang baru di kembangkan. Di kawasan tanjung bunga ini ada beberapa mall baru dan terdapat juga beberapa perumahan elit disana. Kalo saya nggak salah Trans Studio Makassar juga berada di wilayah ini.

Saat saya berkunjung ke pantai akkarena, waktu sudah menunjukkan pukul 19 waktu indonesia bagian tengah. Pantainya masih buka, saya bilang masih buka sebab pantai ini nggak terbuka seperti losari, pantai akkarena terletak dalam sebuah kawasan yang tertutup oleh pagar, kalo di surabaya mirip-mirip kawasan pantai kenjeran baru.

Karena kawasan tertutup kalo kita pingin masuk ke pantai ini, kita musti bayar dulu dan  bayarnya sekitar 25 ribu untuk 2 orang plus sebuah mobil, itu juga kalo saya gak salah ingat lho.

Setelah masuk lewat loket karcis kita akan melewati semacam jalanan yang membentuk lorong panjang, lampu penerangannya remang banget, langsung aja terbayang ama saya image mesum saat melewati jalanan remang itu. Apalagi sebelum sampai sepanjang jalan kawan saya bercerita kalo saat malam di pantai akkarena akan mudah di temui ’mobil goyang’ disana.

Aroma mesum terasa banget, dan beneran diujung jalanan berlampu temaram sepanjang kurang lebih 500m di sepanjang parkiran pantai berjajar aneka mobil yang parkir. Mobil banyak berjajar di pinggir pantai yang berpasir, tapi saya nggak melihat ada orang yang berseliweran disana.

Kalo menuruti rasa iseng, saya hampir saja menyorotkan lampu jauh di mobil yang saya kendarai ke deretan mobil-mobil yang parkir disitu. Dan mobil emang saya jalankan pelan-pelan, pingin banget ngeliat apa bener mobil-mobil yang parkir itu bergoyang-goyang atau tidak,.

Hehehe…

Diujung pantai berpasir itu ada sebuah hall besar dan sebuah rumah makan, tapi sama aja kondisinya gelap temaram dan mesum. Saya datang pada hari rabu malam. Pantainya nggak begitu rame pengunjung.

Di parkiran hanya ada nggak sampai 5 mobil yang parkir disitu, jauh lebih banyak mobil yang parkir berjajar di pinggiran pantai yang gelap yang langsung berbatasan dengan laut.

Saya dan kawan saya turun dan melanjutkan jalan kaki menyusuri parkiran menuju pantai, wiiih nggak nyangka pantainya bagus banget. Jauh lebih keren dan bagus daripada losari. Malam itu bulannya lagi bulan sabit, ombaknya lagi nggak gitu gede walaupun airnya lagi pasang.

Hanya gelobang-gelombang saja air laut yang menyapu pantai. Dalam keremangan malam bulan sabit aja pantainya jelas banget terasa indahnya. Disisi pantai yang saya kunjungi ini aroma mesumnya gak terasa dibanding sisi lain pantai ini. Lebih kental aroma romatisnya.

Suara debur air lat dan desah angin laut yang dominan, bisa deh di bayangin sendiri gimana serunya suasana disini kalo datang berdua ama pasangan, yang lagi berantem ama pasangan saya jamin kalo mampir ke pantai ini pasti baekan lagi ?

Mungkin jika malam itu bulannya sedang purnama, pemandangan di akkarena ini akan terasa lebih menggigit. Kalo jalan ama cewek dah pasti pinginnya nggandeng atau meluk aja. Romantis banget. Terbukti malan itu pengunjung yang ada disana yang lagi nongkrong adalah pengunjung yang saling berpasangan.

Saya merasa sayang banget, pantai sebagus ini kok aroma mesum yang kental yang berasa. Tapi saya nggak ngerti juga, mungkin andai saya datangnya agak sore atau pada saat pagi hari kemungkinan pengunjungnya lebih ke family kayaknya. Tapi awan yang mengantar saya itu dari awal promosinya adalah tentang ’mobil goyang’ aja selain tentunya keindahan pantai akkarena itu sendiri.

Di depan hall ada semacam jembatan kayu yang menjorok ke laut. Di ujung jembatan itu ada semacam mimbar besar yang juga terbuat dari kayu, jadi para pengunjung yang pingin merasakan sensasi jalan di laut dan sensasi menikmati keindahan pantai tapi di kitari oleh air laut dapat berjalan menyusuru jembatan kayu tersebut dan kemudian berdiri menikmati pemandangan laut di  mimbar besar itu.

Bagus banget, keren abis suasananyadan pemandangannya….

Pingin rasanya berlama-lama disana, tapi gak asik juga karena disekitar saya semuanya orang pacaran atau bersama pasangan masing-masing. Gak bisa nongkrong juga di situ, padahal waktu baru jam 19.30, warung makannya sepi banget, restonya tutup, hallnya apalagi.

Kalo saya dateng bareng pasangan pasti saya akan lebih betah disana,

hehehe…

Jadi akhirnya pilihan kami adalah meninggalkan pantai itu, padahal hati dan pikiran pinginnya masih mau berlama-lama disana. Jalan keluar dari komplex pantai ternyata gak sebagus jalan masuknya. Lebih gelap dan lebih jelek, bakan bisa dibilang seperti jalanan yang belom jadi.

Eh, yang nggak saya sangka ternyata pintu keluar dari pantai akkarena ini, tepat berada di ujung pintu masuk sebuah perumahan elit, ”waaah kok gak digarap dengan baik ya,” batin saya saat itu. Terasa njomplang banget deh, kawasan mesum berdampingan dengan kawasan elit, hehehe…

Tapi beneran deh, andai saja lampunya lebih terang, andai kata fasilitasnya di jaga, situasi malam di pantai ini akan berasa lebih menyenangkan, karena walaupun saya bukan seorang photographer tapi kawasan pantai akkarena ini cocok banget dijadikan ajang tempat pengambilan foto-foto pre weedding.

Saya nggak sempat balik lagi ke pantai akkarena saat pagi atau sore hari, tapi suatu saat saya pasti balik kesana dan menikmati suasana di pantai ini saat pagi atau sore, nongkrongin matahari yang mau terbit atau terbenam…

Hehehe…

Peluangnya masih terbuka lebar di pantai ini, saya sempat perhatikan hallnya dilengkapi dengan sound dan bahkan ada layar LCD nya, kayaknya bagus juga di pake seminar atau wedding.

Tinggal penggarapannya aja.