ilmu balon….

posted in: Entrepreneurship | 6

Ketika itu saya lagi chatting sama seorang senior saya yang tinggal di kota balikpapan kalimantan timur, kami berdua sedang asyik berdiskusi tentang kebangkitan seseorang dari permasalahan keuangan jika bisnisnya bangkrut.

Beliau bilang pada saya jika seseorang yang sedang terpuruk keuangannya dan pingin segera  bangkit lagi mesti pinter-pinter untuk make ilmu balon. Ilmu balon yang di maksudkan adalah, balon itu baru bisa terbang jika dalam kondisi ringan, jika balon itu berat maka dia nggak akan mungkin bisa terbang melayang dengan cepat.

Ilmu sederhana ini juga di pake saat manusia bikin roket untuk keruang angkasa, coba liat saja di acara televisi, jika roket tersebut mencapai ketinggian tertentu maka roket itu akan melepaskan bebannya, dengan beban yang terlepas maka roket itu akan dapat terbang semakin tinggi sampai akhirnya bisa menembus atmosfir bumi dan mencapai ruang angkasa dengan beban yang sudah terlepas sama sekali.

“lepas semua beban maka bisa terbang melayang – semakin banyak beban semakin nggak bisa terbang”

Itulah inti dari ilmu balon, ilmu ini dahsyat sekali jika kita mau mempraktekkannya pada kehidupan nyata diluar ilmu pengetahuan. Secara teori yang bikin seseorang itu sulit sekali bisa melakukan hal-hal yang baru yang dapat menyelamatkan dirinya dari permasalahan keuangan, seperti beban hutang atau permasalahan dalam bisnisnya adalah keengganan untuk melepaskan beban yang selama ini sedang dipikulnya.

Padahal beban itu berat banget sehingga bikin langkah yang dipake buat melangkah menjadi terseok-seok, untuk bangkit saja susah apalagi untuk melangkah.

Rasa gengsi kita sebagai mahluk sosial yang membuat kita berat meninggalkan benan yang sedang kita panggul. Beban saya sangat banyak, saya menanggung rumah, mobil dan apartemen. Rumahpun jumlahnya nggak cuman satu begitupun dengan apartemen. Pada saat saya jaya dengan keuangan yang stabil banyak maka semua angsuran yang harus saya bayar untuk memiliki itu semua bisa saya bayarkan tepat pada waktunya dan nggak pernah terlambat.

Tapi pada saat bisnis saya drop dan keuangan saya berubah menjadi stabil sedikit dan tidak tetap lagi maka semua itu yang tadinya nggak kepikir akhirnya sekarang menjadi sebuah beban berat yang menyita pikiran banget.

Pembayaran saya menjadi tersendat dan sebagai akibat keterlambatan tadi maka surat cinta dari bank pemberi kredit berdatangan, yang isinya  memberikan peringatan akan keterlambatan pembayaran saya pada mereka. Tentunya semua itu bikin pikiran bertambah nggak tenang, dan dengan pikiran yang nggak tenang maka semua hal bisa menjadi berantakan sebab konsentrasi untuk melakukan sesuatu menjadi sangat terhambat.

Dalam hati saya dan istri tetep punya keyakinan untuk membayar semua itu walaupun dengan berat dan perlu kerja extra yang luar biasa. Kami nggak mau mengecewakan pihak bank yang sudah mempercayai kami dan memberikan kredit pada kami dengan jumlah yang gak main-main. Apalagi oleh semua motivator yang kami dengarkan dan dalam semua buku-buku motivasi yang kami baca dikatakan harus selalu optimis dan nggak boleh berputus asa. Kami berusaha keras.

Alasan yang juga tetep bikin harus selalu opotimis adalah kami nggak pingin kehilangan semua barang, semua aset dan semua harta yang sudah kami kumpulkan dengan susah payah itu. Kami nggak pingin kehilangan semua yang sudah kami dapatkan dengan susah payah dari keringat dan tenaga kami. Dalam pikiran ini jika semuanya itu hilang, kami jual atau kami lepaskan apa yang akan terjadi pada diri kami? Pastinya sungguh sangat memalukan banget kan, apa kata orang lain yang mendengar berita ini? apa kata dunia?

Semua alasan demi gengsi itulah yang bikin semua penghasilan yang kami peroleh justru habis karena di pake hanya untuk membayar dan membayar, penghasilan kami dari hasil kerja keras kami nggak lagi ada yang tersisa untuk mengembangkan usaha kami yang sedang terpuruk. Semua duit yang ada hanya terfokus pada upya membayar hutang demi bisa mempertahankan gengsi kami.

Saat chatting tadi saya tersadar,

plak, plak, plak….

Rasanya pipi ini serasa di tampar oleh pukulan yang kuat. Saya jadi ingat tentang apa yang dilakukan oleh kawan senior saya itu ketika sedang mengalami hal yang sama. Beliau baru saja terpuruk karena ekspansi gila-gilaan dalam bisnisnya, karena kurang cermat dan terbawa emosi bisnis beliau hancur, semuanya terpaksa di lepas pada pihak ketiga, apakah itu toko bajunya, rukonya dan aset lainnya. tapi yang bikin saya melek dan melotot adalah ketika saya melihat beliau berboncengan dengan istrinya berkunjung ke hotel tempat saya menginap. Beliau dan istri berboncengan naik motor.

Luar bisa banget dan mereka tetep tersenyu lebar. Senyum yang dari hati dan tanpa di buat-buat, saya yakin itu semua bisa terjadi karena rasanya mereka sudah berhasil membuang jauh-jauh gengsi yang dulu mereka pikul demi meningggalkan beban yang harus mereka pikiu. Saya juga ingat mobil mereka jauh lebih bagus dari saya, bahkan saya sering di tegur sama beliau ketika kami jalan bareng hanya karena saya selalu menutup pintu mobil bagusnya terlalu keras.

“mobil nya baru kok pak, jadi nutup pintunya pelan aja, gak perlu di banting”

Selalu tersenyum saya kalo mengingat kalimat teguran ini. Mobil kesangan nya yang sangat di banggakan harus dilepaskan demi meringankan beban keuangan.

Dan mereka bisa!!!!!!

Itu yang harus saya tiru, itu yang harus saya contoh. Saya harus bisa melepaskan semua beban keuangan yang saya miliki supaya keuangan saya bisa menjadi lebih longgar, sehingga saya bisa bernnafas lebih lega dan bisa mengatur lagi, memulai lagi dari awal lagi. Secara logika saja dengan meniru apa yang dilakukan oleh senior saya itu, jika beliau melepas mobilnya ke pihak ketiga artinya beban yang harus di bayarkan tiap bulan sudah pasti berkurang.

Anggap saja angsuran mobil itu beban angsuran yang harus dibayar sekitar lima juta sebulannya. Nah, jika mobil tadi sudah nggak, bisa di jual atau bisa juga di kembalikan pada leasingnya, maka jika penghasilannya tetap, pasti akan ada setiap bulan duit sebesar lima juta yang tadinya harus dipake untuk mbayar angsuran, dan duit itu akan menjadi free, sebab nggak ada lagi tagihan mobil yang harus di bayar.

Dengan tidak adanya posko pembayaran lagi maka uang lima juta perbulan yang di hasilkan oleh senior saya ini bisa di putar llagi dalam bisnisnya dan dengan perputaran bisnis maka uang lima juta tadi pasti akan berkembang biak menjadi profit.

Yang saya bisa ceritakan sebagai keterangan dalam kisah ini bahwa bisnis senior saya ini nggak tutup, hanya drop saja kok, omsetnya melorot drastis, turun drastis, ini karena  sebelumnya senior saya ini kurang konsentrasi dalam mengelola bisnis ininya, beliau menganggap bisnis intinya itu sudah bisa ditinggal-tinggal dan tanggung jawab operasionalnya sudah bisa diserahkan pada karyawannya. Akibat optimisme nya itu beliau kemudian malahan kemudian sibuk bereksperimen dengan bisnis-bisnis yang baru alias merintis bisnis baru.

Pelajaran dan pengalaman yang dilakukan oleh senior saya itu yang sedang saya coba terapkan pada diri saya di surabaya. Saya harus melepas semua beban dengan artian saya harus memulai dari awal lagi tanpa fasilitas dan tanpa gengsi yang tadinya sudah melekat erat pada saya. saya harus mulai berusaha menjadi bukan siapa-siapa lagi padahal kondisi saya sekarang sangat berbeda dari saat saya memulainya dulu.

Harga diri dan gengsi saya, disini yang menjadi tantangan. Saya harus bisa menahan malu, dan harus bisa hidup tanpa fasilitas. Itu yang terberat dan memang sangat berat. Itu lebih berat dari harus kehilangan semua harta benda. Tapi itu tantangan buat saya.

Yang pertama saya harus bisa meninggalkan semua beban saya, saya harus bisa menutup jalur duit keluar, saya harus bisa menahan agar duit keluar bukan lagi untuk mbayar utang tapi sebagai duit yang bisa diputar. Saya berusaha mengikhlaskan semuanya. Kalo memang harus hilang sekarang ya saya harus siap, harus bisa mempersiapkan hati dan otak saya atas semua kehilangan ini

“yang saya maksudkan hilang dalam cerita ini artinya bisa jadi dijual murah atau diambil lagi oleh pemilknya, yang dalam cerita ini pemiliknya adalah leasing dan bank”

Jika saya bisa melakukan itu, seperti yang senior saya lakukan maka otomatis beban saya gak ada lagi, minimal akan jauh berkurang, akibatnya pikiran saya menjadi semakin tenang sehingga langkah yang akan saya ambil bisa semakin cepat dan jitu.

Nah buat memenangkan otak dan hati saya maka saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri kalo semua itu berhasil beban-beban yang hilang karena tadinya memberatkan saya toh pasti bisa kita saya ambili lagi kan satu persatu.

Persis seperti ilmu balon, untuk bisa terbang kosongkan semua beban yang ada agar bisa membumbung tinggi dengan cepat dan ketika kita bisa meluncur dengan kecepatan penuh maka gunakan beban untuk menghambat kecepatan

Leave a Reply