hari ke tiga – ledakan

di hari terakhir saya dijakarta, saya dan mas rozy janjian sama pak isdianto dari majalah wirausaha dan keuangan.  kami minta ijin beliau untuk dapat berkunjung ke dapurnya majalah wk. untungnya kami janjian berkunjung sehabis jumatan karena dipagi hari itu ada dua bom yang meledak dan mengguncang ibukota sehingga mengakibatkan jakarta dalam kondisi siaga satu. tapi akibat dari ledakan bom itu juga yang menguntungkan perjalanan saya dari bintaro ke pasar minggu.  jalanan menjadi sangat lenggang sehingga perjalanan menjadi lancar selancar-lancarnya.

kedatangan kami sudah di tunggu oleh pas isdi dan kami langsung disambut oleh sekotak nasi ayam bakar ‘mas mono’.  dengan sedikit agak basa basi langsung kami sikat nasi sekotak dengan lauk ayam bakar plus tempe bacem dengan potongan raksasa itu. karena memang sudah waktunya makan siang dan memang perut kami sedang keroncongan maka dalam sekejap ludeslah makanan tadi kami sikat.

pak isdi ternyata seorang yang sangat lincah dan tidak bisa diam, idenya sangat banyak dan cenderung loncat-loncat.  melihat kami sudah meludeskan menu santap siang yang beliau sajikan, segera kami diajak untuk jalan-jalanuntuk melihat  bisnis kuliner yang sedang beliau kelola.  memang selain sebagai owner dari majalah wk, bisnis beliau juga macam-macam dan yang terbaru adalah bisnis kuliner.  hebatnya, beliau bisa dapatkan semua bisnis itu hampir dengan tanpa modal,  sebab sebagai owner dan wartawan utama  sebuah  majalah entrepreneur beliau bisa meliput berita apa saja yang berhubungan dengan  bidang kewirausahaan.  dari situlah biasanya beliau dapat banyak tawaran untuk mengelola bisnis yang sedang dijalankan oleh para narasumber yang sedang diliput. mungkin itulah keuntungnya punya majalah entrepreneur sendiri,  jadi mudah mendapatkan dan memilih peluang bisnis.

memang ada untungnya berkeliling jakarta setelah ledakan bom, jalanan menjadi sangat lancar tanpa macet sehingga perjalanan menjadi sangat cepat.  tujuan pertama kami adalah ke warung pempek patrolnya pak isdi. sampai disana langsung kami disuruh mencicipi seporsi pempek kapal selam yang jadi andalan menu disitu, sambil menunggu masakan matang kami juga diminta untuk mencicipi cakwe goreng dan roti goreng, bisnis jajanan ini juga dimiliki beliau dan dibuka di sebelah warung pempek.

sambil makan beliau cerita kalo warung-warungnya itu dikelola oleh remaja yatim piatu yang sedang beliau latih dan diberdayakan,  dari pada hanya menjadi penganggur karena kesulitan cari kerja. misi beliau mulia sekali, mungkin itulah cara beliau membagi rejeki yang selama ini didapatkan dari bisnis-bisnis beliau.

pak isdi ini menurut saya rada nyentrik pola pikirnya, misalnya jawaban beliau atas pertanyaan saya tentang majalah wk yang sering tidak jelas kapan terbitnya. kadang awal bulan, kadang tengah bulan dan kadang di akhir bulan. beliau bilang itulah nikmatnya jadi pengusaha sebuah majalah,  jadinya bisa menerbitkan majalahnya sesuai kehendak hati, beliau juga bilang bahwa punya otoritas penuh untuk memerintahkan staffnya untuk mendistribusikan majalahnya,  apakah ingin ditaruh ditoko buku seperti gramedia atau hanya dijual secara eceran.  itu menjawab juga keheranan saya kenapa majalah wk kadang ada di toko buku dan kadang sulit sekali ditemukan di toko buku.

ego beliau sebagai owner bermain disini.  tapi beliau juga bilang supaya tidak diprotes sama pelanggannya beliau harus akrab dengan berbagai kalangan  pengusaha yang menjadi tujuan utama konsuman pembaca majalahnya. komunitas pengusaha yang ada diberbagai kota dan pemerintah bahkan lembaga-lembaga swasta yang sangat menunjang perkembangan kemajuan dunia usaha seperti perbankan juga beliau bikin networknya. karena beliau sangat gaul diberbagai kalangan tersebut dan sangat ‘entengan’ serta sering membantu memberikan liputan-liputan khusus bagi teman-temannya dikalangan ukm, makanya majalah wk yang terbitnya tidak jelas itu hampir tidak pernah dapat komplain bahkan jadinya menjadi majalah yang ditunggu-tunggu terbitnya.

semua harus balance dan seimbang, begitu kata beliau, sehingga membuat langkah kakinya jadi lebih mudah melangkah sebab dapat dukungan dari banyak pihak. seperti bisnis kulinernya, mainan baru yang sedang beliau jalankan, mulai dari jenis bisnisnya, tempat, design outlet sampai karyawan bisa diperoleh dan dikelola beliau karena support dari pihak-pihak yang merasa berterima kasih karena sudah disupport lebih dulu lewat majalah wk dan hasil dari liputan di majalah itu sungguh luar biasa.

mas rozy termasuk yang merasakan hasil luar biasa akibat support dari majalah wk terhadap bisnis ‘raja sandalnya’. walaupun sudah beberapa bulan lewat, tapi efek dari liputan tersebut masih terasa sampai hari itu karena masih banyak saja orang yang bertanya tentang bisnis raja sandal, dan semua mengaku tau dan tertarik dengan bisnis itu akibat membaca majalah wk.

saya sendiri juga merasakan walaupun berada di surabaya, banyak bisnis teman-teman saya baik yang dari surabaya entrepreneur club atau dari komunitas lain yang bertambah kencang jalannya setelah diliput oleh wk. makanya saya selalu menunggu-nunggu, walaupun dengan dengan pasrah, kiriman majalah wk setiap bulan. yang saya cari hanyalah siapa lagi dari teman-teman saya yang liputannya dimuat dalam wk edisi terbaru.

sambil berusaha mengabiskan seporsi pempek, dua potong roti goreng dan dua potong cakwe yang disediakan, kuping saya tetep terbuka lebar untuk mendengarkan tuturan pak isdi.

ada teori beliau yang juga unik menurut saya. kata pak isdi, dalam bisnis itu yang penting terus ekspansi dan membuka usaha lagi dan lagi. nggak terlalu penting menunggu datangnya BEP atau kondisi plus karena sudah laba. yang terpenting hanyalah pendapatan dari perputaran bisnis itu sudah bisa menutup biaya operasional perbulannya. hanya itu saja yang penting. kalo itu tepenuhi segera buka bisnis lagi. gitu seterusnya, bisnis itu juga  sebuah investasi jangka panjang. makanya jangan buru-buru pingin dapat untung.

ada yang setuju dengan teori ini?

teori berikutnya juga gak kalah menariknya. kalau kita sebagai seorang entrepreneur sudah menemukan pola bisnis yang tepat dan sesuai dengan karakter kita, maka bisnis apapun itu otomatis akan jalan dengan sendirinya dan menghasilkan. gak perduli jenis bisnisnya. semua bisnis pasti bisa  jalan asalkan si owner sudah menemukan jiwa atau pola yang tepat tadi.   kenapa pasti bisa, karena setelah formula tadi ketemu maka binis berikutnya yang dijalankan hanyalah sekedar ‘copy paste’ saja dari bisnis awal.  pada prinsipnya, kata pak isdi, semua bisnis itu jadi hampir sama hanya jenis dan siapa yang mengelolanya saja yang berbeda.

dan lagi kita sebagai boss atau owner gak perlu turun langsung campur tangan sendiri dalam setiap menjalankan bisnis. mulailah belajar mempercayai karyawan kita bagaimanapun caranya,  termasuk apabila kondisinya sangat sulit.

yang dijadikan contoh pak isdi adalah pengusaha-pengusaha keturunan.   mereka semua rata-rata memilki banyak ragam bisnisnya dan sering kali bisnis yang dikelola tidak ada kaitan langsung satu bisnis dengan bisnis lainnya.  tapi hebatnya bisnis beraneka ragam yang mereka kelola itu berjalan, bertambah besar dan semakin mengurita. rata-rata dari mereka, walau skala bisnisnya sudah mendunia tidak dikenal oleh kebanyakan warga indonesia lainnya terutama yang pribumi. kalaupun ada satu dua yang terkenal karena memang care dengan pertumbuhan dunia entrepreneur di indonesia, sedang yang lainnya terkenal hanya namanya saja atau dikaitkan dengan nama induk perusahaannya.

misalnya ciputra dengan citraland, sampoerna dengan  pabrik rokok sampoernanya di surabaya atau bob sadino dengan supermarket kem ciks-nya di kemang jakarta.

padahal selain nama usahanya yang sudah terkenal itu mereka juga punya banyak jenis usaha lain yang juga maju dan berkembang.  tapi kita sebagai orang pribumi awam, bahkan yang juga entrepreneur, sering tidak mengerti bisnis apa saja yang mereka kelola.

lain halnya dengan orang pribumi, baru saja mulai bisnis sudah pingin terkenal dan lalu  jadi identik dengan bisnis yang dijalankannya. karena belum menemukan pola bisnis, roh bisnis atau jiwa bisnisnya maka setelah identik dengan suatu bisnis, entrepreneur kita yang pingin mengembangkan bisnis lainnya, padahal kadang hanya brand-nya saja yang beda, menjadi sangat kesulitan. masyarakat sudah terlanjur meng-indentikkan atara seorang entrepreneur dengan suatu bisnisnya yang paling populer.   akibatnya  jika dia pingin bermain dibisnis lainnya masyarakat sulit untuk percaya.

rata-rata pengusaha keturunan tidak ingin cepat-cepat terkenal walaupun bisnis yang mereka kelola sudah turun temurun,  yang mereka butuhkan adalah kemapanan bisnis.  ini kebalikan dengan rata-rata pengusaha pribumi yang pingin segera terkenal oleh publik walaupun bisnis yang dikelolanya baru seumur jagung.

nah karena faktor tidak terkenal tadi banyak pengusaha keturunan mudah merambah dan memajukan berbagai ragam bisnis yang ingin dijalankannya.

pak isdi lalu mengembalikan ke saya dan mas rozy, pilih mana terkenal lalu stag di satu bisnis atau tidak terkenal dan lama baru terkenal setelah menjadi konglomerat. kalo saya sih pinginnya langsung terkenal dan langsung jadi konglomerat. semua orang pastinya juga sama keinginannya dengan saya, sekarang tinggal faktor kemampuan diri kita masing-masing.

kita bebas memilih kok.

perjalanan kami dilanjutkan ke warung baksonya pak isdi, tapi disini kami sudah tidak sanggup untuk mencobanya takut ada ledakan baru yang akan mengguncang jakarta, yaitu meledaknya perut kami karena kekenyangan.

cukuplah dua teori saja dari pak isdi, karena rasanya sudah berhasil bikin otak kami berputar keras dan  hampir mejadi ledakan dahsyat. apalagi saat itu  hari sudah menjelang maghrib dan saya baru ingat kalau punya janji dinner dengan kawan-kawan lama dari tempat saya dulu kerja di salah satu bank swasta.   kami pamit dengan pak isdi dan staff-staffnya dengan segudang perasaan yang mengharu biru terhadap teori-teori beliau.

karena besok saya pulang ke surabaya, mas rozy merasa cuman bisa ngobrol dengan saya malam itu saja makanya sebelum saya berangkat menuju tempat dinner, saya diculik oleh mas rozy ke sebuah stasiun pengisi bbm yang jadi satu dengan cafe dan atm dari berbagai bankgak jauh dari kantornya wk.

sambil ngemil kentang goreng dan minum milk shake saya bilang sama mas rozy, saya harus ketemu teman-teman lama itu karena mereka saat ini sudah menjadi orang penting di berbagai bank di jakarta. rata-rata teman saya yang dulu seangkatan atau setingkat diatas saya, sekarang sudah menjabat menjadi kepala atau ‘head’ dari berbagai bank penerbit kartu kredit atau kredit tanpa agunan. atau kalaupun kurang beruntung jabatan terendah yang dipikulnya adalah manager.

setelah berpisah selama hampir sebelas tahun, menyenangkan sekali mendengar kalo perbankan khususnya yang berhubungan dengan kredit dikuasai oleh teman-teman main saya dulu. mungkin kesempatan bertemu langsung dengan banyak kawan secara sekaligus hanya saat itu saja.   setelah itu karena kesibukan, mereka pasti sulit buat diajak cangkruan. lagian yang bikin mereka niat kumpul bareng adalah karena undangan dinner itu datang dari mantan big boss kita (dulunya head collection) yang sekarang jadi big boss besar di arab sana, tapi tetap di bank yang sama.

saya berkesepatan mendengar dan diajak gabung dalam acara tersebut, atas informasi dari teman baik saya mr. rudi lontong. beliau ini satu sekolah dengan saya mulai dari smp dan sma.  karena jasa beliau jugalah yang bikin saya bisa diterima satu kerjaan di bank yang sama setelah saya lulus kuliah. kemudian selama bekerja di collection departemen bank tersebut beliau jugalah yang menjadi mentor saya.  secara personal, beliaulah yang berhasil membimbing dan menjadi mentor pribadi saya sehingga saya fasih dan berpengalaman dalam dunia kaum hawa. bahkan kemudia saya keluar dari bank tersebut juga karena bersengketa secara pribadi dengan beliau. tapi uniknya saya dan mr. rudi lontong tetep jadi kawan baik sampai sekarang.

tapi manusia punya rencana, tetep saja allah lah yang menentukan segalanya. saya akhirnya gak bisa dinner bareng para boss-boss itu karena tiba-tiba ibunda menelepon ngajakin dinner bareng saya dan adik-adik untuk merayakan ulang tahun keponakan perempuan saya.

begitulah malam terakhir saya dijakarta dan kali ini tanpa cewek sama sekali walaupun tetep bergelimang dengan makanan yang enak-enak.

cerita ngobrol saya dengan mas rozy mungkin akan ditulis di catatan saya berikutnya, itu juga dengan catatan kalo saya gak males.

Leave a Reply