Fenomena Kemeja Kotak-Kotak

posted in: Entrepreneurship | 0

Bukannya mau kampanye, karena nggak ada hubungannya sama saya, saya toh berdomisili di surabaya 🙂 cuman ada yang menarik perhatian saya terhadap polah beliau.

Yang saya tau dalam setiap kampanya pemilihan entah bupati, gubernur, angggota dewan sampai ke pemilihan presiden pun setiap calon selalu membuat kaos kampanye yang biasanya bergambar wajah para calon tersebut.

Kaos berwajah para calon itu biasanya terbuat dari bahan murahan, di bikin oleh para pengusaha ukm yang akan selalu kebanjiran order pada masa kampanye.

Karena berbahan murahan maka kaos-kaos kampanye itu biasanya dibagikan secara gratis kepada massa pendukung si calon agar dipakai saat kampanye berlangsung.

Dan karena dibuat dari bahan murahan serta diberikan secara cuma-cuma maka yang memakai secara terus-menerus biasanya cuman massa dari tingkatan ekonomi paling rendah.

Sedangkan massa dari tingkatan ekonomi menengah dan atas hanya memakai saat kampanye berlangsung, setelah itu dibuang atau dihibahkan kepada sopir atau pembantu di rumah.

Dibalik itu semua seringkali terdengar berita sedih dari pengusaha ukm yang tadinya kebanjiran order pembuatan kaos itu.

Berita yang beredar setelah masa kampanye selesai adalah banyak para pengusaha ukm yang telah membuatkan ribuan kaos kampanye ternyata nggak dapat bayaran sesuai perjanjian yang sudah disepakati.

Jadi si pengusaha kaos ukm bukannya panen profit malahan jadi bubrah bisnisnya 🙂

Kampanye yang satu ini beda, para tokohnya nggak melibatkan kaos dengan gambar wajah mereka sebagai atribut kampanye.

Para tokoh justru menggunakan atribut yang nggak biasa yaitu kemeja kotak-kotak lengan panjang dalam setiap acara kampanye pemilihan kepala daerah yang diikutinya.

Seperti yang tampak di berbagai media seperti surat kabar dan tv kedua calon kepala daerah dan calon wakilnya pada setiap kampanye selalu memakai baju kotak-kotak dengan motif yang sama dan baju kotak-kotak itu hanya di pakai oleh kedua calon itu saja.

Sepertinya massa pendukung dan simpatisan nggak ada yang dikasih kaos bergambar wajah mereka apalagi dikasih baju kotak-kotak.

Soalnya hampir nggak ada dan nggak pernah terlihat dalam kampanyenya massa dari si calon yang memakai kaos berwajah mereka atau yang memakai baju kotak-kotak yang menjadi ciri khas kedua calon itu.

Karena nggak ada seragam kampanye, justru malahan menimbulkan peluang bisnis baru di beberapa kalangan pengusaha konveksi.

Para pengusaha ini membuat baju kemeja kotak-kotak lengan panjang persis yang selalu dipakai kedua tokoh itu selama kampanye dan menjualnya di berbagai pelosok kota selama masa kampanye.

Bahkan saat periode kampanye usaipun, massa kampanye, simpatisan atau sekedar pedagang biasa masih banyak yang menjual kemeja kotak-kotak khas kedua tokoh tersebut.

Kemeja kotak-kotak khas mereka jadi banyak ditemui di berbagai sudut jalan dijual di kaki lima bahkan di toko-toko baju, dan hebatnya penjualan kemeja ini laris manis.

Banyak orang ingin membeli dan memiliki kemeja kota-kotak yang khas itu. Bahkan pembeli dan pemakainya bukan dari golongan ekonomi paling bawah, tapi dari berbagai golongan ekonomi.

Kampanye yang beliau berdua lakukan justru menimbulkan peluang bisnis baru. Nggak terdengar berita sedih karena pesanan ke pengusaha ukm gak dibayar. Kayaknya karena memang gak ada pesanan dan peluang itu murni beneran di tangkap oleh para pengusaha yang jeli maka perputaran bisnisnya jadi sehat.

Justru karena gak ada kaos gratis kemeja kotak-kotak lengan panjang itu malahan menjadi trade mark identik mereka. Kalo ada yang peke kemeja kotak-kotak lengan panjang, walaupun bukan seperti motif khas beliau sering terdengar selorohan dimana-mana, “waaa, pendukung jo**** neeh” dan anehnya yang make juga gak malu, hehehe…

Peluang bisnis bisa diciptakan dan bisa tercipta dengan sengaja atau tanpa disengaja, yang penting kita sebagai pengusahanya pandai aja melihat peluang.

Jika semua calon pemimpin seperti mereka berdua mestinya bisnis ukm akan terus menggeliat dan bisa menjadi raksasa.

Hehehehe…