dua kuping saya

saya dikaruniai oleh allah dua daun telinga oleh karena itu keduanya saya pergunakan semaksimal mungkin untuk mendengar. saya sadar bahwa selama ini saya lebih banyak berbicara daripada mendengar, akibatnya saya menjadi seseorang yang kurang dalam pengetahuan. walaupun salah satu hobi saya adalah membaca tapi karena saya lebih sering mendebat pendapat orang lain bila sedang ngobrol dan selalu berusaha mencari pembenaran atas diri saya, makanya banyak kemampuan saya yang tidak berkembang.saat saya selesai pelatihan entrepreneur saya merasa dunia yang saya hadapi benar-benar dunia baru yang sangat asing, tidak banyak orang yang mengenalnya, tidak hanya aktivitas hariannya yang jauh berbeda, kawan-kawan yang saya temui semuanya baru dan saya merasa semua kawan saya itu hebat-hebat dan saya satu-satunya yang paling bodoh disana. rasa minder itu muncul dan sebagai seorang yang merasa paling bodoh supaya saya tidak banyak ditanya maka saya harus bertindak sebagai pendengar yang baik dan jarang berbicara dalam setiap forum entrepreneur yang saya ikuti.

secara saya tidak sadari, kebiasaan saya mendengar ini tumbuh dan berkembang karena saya merasa orang yang paling bodoh, gak ngerti apa-apa dan menghindari berbicara karena takut salah. rupanya dalam bidang entrepreneur, atau juga di dalam segala bidang kehidupan mendengar itu adalah tindakan yang sangat disarankan. rupanya lagi mendengar itu menjadi sangat penting karena selama saya menjadi pendengar dari berbagai percakan yang ada antara kawan-kawan, senior dan mentor-mentor saya secara tidak sadari selama itu pula saya menyerap pengetahuan baru. terutama pengetahuan di bidang entrepreneur, bidang yang hendak saya tekuni.

banyak hal baru yang saya dapatkan dan banyak informasi baru  yang saya peroleh. dari semula saya adalah seorang yang gak ngerti apa-apa karena kemudian saya ketagihan menjadi pendengar maka secara perlahan tapi pasti otak saya yang semula kosong mulai terisi. saat awal saya gak terlalu menyadari hal ini, saya ketagihan menjadi pendengar semata-mata yang saya dengar itu adalah ilmu baru, pelajaran baru yang sebelumnya saya gak pernah dengar apalag mengerti, dan saya hanya yakin bahwa hanya dengan mendengar semua hal yang positif tentang entrepreneur kelak saya juga bisa menjadi entrepreneur yang baik. saya juga gak terlalu peduli terhadap yang saya dengar itu apakah bisa saya terapkan atau tidak, apakah cocok atau tidak dengan bisnis saya, saya gak ambil pusing, yang saya yakin kelak bila saatnya tiba pasti berguna dan saya bisa lakukan dengan baik, walaupun saat saya mendengar itu saya dalam kondisi ingung dan gak mengerti jelas apa yang saya dengar.

meskipun dalam kondisi minder, saya juga bukan seorang yang tidak mau berbicara sama sekali, dan saya walaupun mengurangi dan menjaga supaya gak terlalu banyak omong tapi saat ada suatu hal yang saya dengar dan saya tidak mengerti maka saat itu juga saya akan bertanya tanpa ragu-ragu. selama proses mendengar ini ada hal baru juga yang tumbuh dalam diri saya, saya menjadi suka bertanya dan selalu bertanya saat saya gak ngerti apa yang dibicarakan, kadang sikap saya juga agak keterlaluan karena bertanyanya tidak melihat situasi dan kondisi. semuanya muncul begitu saja dan mungkin mendekati reflex. Hal ini bisa jadi karena saya merasa kawan, senior atau mentor yang saya tanya biasanya akan menjawab dengan senang hati dan akan menjelaskan sampai saya mengerti. saya sendiri juga heran kenapa itu terjadi, tapi mungkin karena saya bertanya apa adanya dan polos dikarenakan benar-benar gak ngerti dan bukan mengada-ada makanya yang njawab juga senang.

ada lagi yang tidak sadari terjadi pada diri saya, ternyata semua yang saya dengar dengan itu ternyata tercatat dengan rapi di alam bawah sadar saya. karena seringnya saya ndengerin orang lain ngobrol seringkali apa yang mereka omongin itu lewat begitu saja dan gak terekam dalam otak saya, tapi yang gak saya sangka ternyata alam bawah sadar saya mencatat semuanya. saya baru menyadari hal ini karena pada suatu saat saya ditanya oleh seorang kawan baru yang tau kalau saya aktif dalam komunitas entrepreneur dan dia mengira saya itu seorang entrepreneur handal. nah pertanyaan kawan baru tadi saya bisa jawab dengan lacar dan saya sendiri heran kok saya bisa mengerti dan menjawab pertanyaan tadi padahal saya kan belum praktek langsung sebagai entrepreneur. setelah saya ingat-ingat lagi ternyata petanyaan kawan tadi sudah pernah saya dengan dalam suatu diskusi saat senior-senior saya mencari suatu solusi atas masalah yang sedang mereka hadapi. saat itu saya memang tidak menangkap arah pembicaraan para senior tapi ternyata saat saya ditanya tentang masalah yang sama saya bisa jawab dengan baik dan memuaskan yang bertanya.

makin bertambah kerajinan deh saya, apalagi kini didukung oleh rasa bangga karena bisa membantu memecahkan masalah orang lain. keaktifan saya dalam komunitas semakin terarah dan semakin menemukan pola, bahwa kumpul-kumpul dan cangkruan itu ternyata bukan pekejaan yang sia-sia tapi merupakan suatu kegiatan yang bermanfaat dan menambah pengetahuan. saya jadi tambah percaya diri, sebab hanya karena banyak mendengar dan bertanya saja, walaupun belom praktek menjalankan bisnis sendiri, ternyata bisa menjadi konsultan bisnis buat orang lain.

ketika komunitas entrepreneur yang saya aktif tergabung didalamnya semakin besar, itu juga berefek pada saya karena jadinya saya termasuk senior disitu. secara otomatis sebagai senior, apalagi termasuk yang paling aktif maka saya menjadi tempat bertanya kawan-kawan atau anggota yang baru. biasanya lagi semua pertanyaan itu dapat saya selesaikan dengan baik, lagi-lagi hanya dengan mengulang semua pembicaraan yang pernah saya dengar yang terkait dengan masalah yang ditanyakan itu. jadilah kemudian saya sebagai tempat bertanya.

kemudian adalagi kejutan baru, ternyata kemampuan berkomunikasi saya menjadi terasah, saya secara tidak saya sadari menjadi seorang yang pandai berbicara. dari seorang yang sama sekali gak bisa ngobrol kemudian berusaha untuk tidak banya bicara kalo gak terpaksa banget karena merasa bodoh, tiba-tiba saya menjadi seorang yang banyak omong dan bisa ngajak ngomong orang lain. ajaib sekali, saya sama sekali gak menyangka dan mengira, bahkan yang pertama kali menyadarinya adalah istri saya yang terbengong-bengong ketika mendengar saya ngobrol dengan seorang kawan baru yang benar-benar baru saya kenal. menurut istri saya yang mendengar percakapan kami saat itu seolah-olah kami sudah saling kenal lama dan sangat akrab, apalagi saya yang banyak membuka percakapan dan kawan tadi hanya mengucapkan satu-dua pertanyaan pada saya.

rupanya kemampuan komunikasi saya secara tidak langsung terasah saat saya banyak menjawab pertanyaan dari kawan-kawan baru yang ingin tau tentang dunia entrepreneur. karena saya rajin melayani petanyaan dari kawan-kawan baru itu dan selalu gampang untuk diajak ketemuan dan cankruan membuat saya banyak dikenal dan banyak diajak ngobrol. banyak diajak ngobrol ini ternyata berefek pada diri saya yang tadinya introvert menjadi suka ngobrol dan gak ragu untuk berhadapan dengan orang baru. keyakinan diri saya ini timbul disebabkan karena saya selalu nyambung dalam setiap obrolan dan lawan bicara saya selalu senang ngobrol dengan saya sebab banyak masukan yang mereka peroleh hanya dengan ngajak saya ngobrol. nah yang mereka gak tau sebenarnya yang saya sampaikan itu semuanya adalah apa yang saya dengar dan kemudian tersimpan rapi di alam bawah sadar saya, bukan karena saya jago atau ahli di bidang entrepreneur.

kesukaan saya menjadi pendengar kemudian benar-benar terpola saat saat saya sudah menemukan bisnis real yang saya terjuni langsung. banyak hal yang saya gak ngerti tentang bisnis yang saya terjuni ini terutama dalam hal  menggenjot penjualan dan berpromosi. saat itu saya memutar otak gimana saya bisa belajar tanpa saya harus keluar duit banyak, sebab berbagai pelatihan yang mengajarkan tentang bidang-bidang yang saya gak pahami itu sangat mahal biayanya. sedangkan kalo saya hanya belajar dari buku-buku maka tetep mengalami kesulitan dalam meng-aplikasiannya di lapangan.

ketika sedang dalam kondisi bingung itu, saya mendapat kabar bahwa beberapa kawan baik saya mengambil pelatihan dan kursus mengenai hal-hal yang saya gak paham tadi. rupanya banyak kawan saya yang mengalami kendala dalam bidang yang sama, dan rupanya lagi saat level bisnis kita mencapai suatu fase yang sama maka masalah-masalah yang dihadapi hampir sama satu dengan yang lainnya. dan tentu saja yang punya modal kuat akan mengambil kursus dan pelatihan untuk mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi. hal ini harus dilakukan karena secara masalah yang timbul pada level bisnis yang lebih tinggi tidak hanya bisa diselesaikan dengan ‘kebetulaan atau sambil lalu’ tapi harus berdasarkan teori-teori managemen yang ada dan praktis sehingga bisa diterapkan. karenanya harus belajar lagi dan ikut pelatihan yang mengajarkan ilmu itu dan artinya harus keluar duit lagi yang gak sedikit.

karena modal terbatas saya harus pinter-pinter memanfaatkan situasi yang ada. gimana caranya saya bisa dapetin itu ilmu tapi gak perlu ngeluarin duit banyak. kegemaran saya mendengar saya gunakan lagi disini, saya dekati kawan-kawan yang sedang ikut pelatihan itu lalu pada mereka saya banyak bertanya tentang apa saja yang mereka alami saat pelatihan itu. seperti saya sendiri, kawan-kawan itu suka sekali jika ditanya tentang pengalaman baru yang mereka alami selama ikut pelatihan, apalagi pelatihan yang diikuti dengan biaya yang sangat mahal, ada rasa bangga untuk bercerita dan berbagi apalagi pada orang yang gak ngerti dan gak ikut pelatihan.

mungkin ini adalah sifat dasar manusia ya, suka untuk didengar dan bercerita pada orang lain yang levelnya lebih rendah, menjelaskan sesuatu yang baru yang bikin orang yang mendengar terkagum-kagum adalah suatu hal yang digemari manusia normal, dan saya berusaha memanfaatkan hal ini, apalagi setahu saya jarang sekali ada yang bersedia mendengar dengan sukarela sesuatu hal yang berbau teori atau ilmu. seseorang yang punya ilmu baru dan tinggi keinginan berbaginya pasti juga tinggi apalagi untuk dapat ilmu itu harus ditebus dengan harga mahal.

pada teman-teman yang baru selesai pelatihan itu saya banyak bertanya dan menjadi pendengar yang baik saat mereka bercerita, biar lebih seru saya traktir mereka ngopi atau makan diwarung saat bercerita, pastinya yang punya cerita akan lebih bersemangat bercerita karena sudah didengar dengan baik ceritanya, saat bercerita ditraktir pula. jadinya saya dapat pengetahuan baru dan mahal itu tanpa ikutan mengeluarkan biaya yang mahal hanya dengan rajin mendengar saja, dan bertanya jika saya gak ngerti bahkan saya minta contoh gamblangnya supaya bisa langsung saya praktekkan dalam bisnis saya.

kegemaran mendengar selalu saya gunakan dan akan selalu saya gunakan terus, saya gak akan pernah bosan mendengar karena saya tau saya mendapatkan banyak manfaat dan kemajuan dalam personality saya hanya karena saya suka mendengar.

saat saya memulainya dulu, yang saya lakukan hanya banyak mendengar, dari situ saja saya bisa tumbuh dan berkembang. makanya sekarang, setiap saat, saya selalu berusaha meyakinkan diri saya, bahwa hanya dengan banyak mendengar apapun yang sedang saya hadapi sekarang ini akan bisa terlewati dan saya tetep tumbuh dan berkembang dengan makin besar dan kokoh.

Leave a Reply