Digoda Pergedel Bondon

posted in: Entrepreneurship | 0

Pergedel bondon di jual di salah satu warung makan yang terletak berderet di bekas terminal yang sekarang gak terpakai lagi, lokasi bekas terminal itu ada di seputaran stasiun Bandung.

Lokasinya kumuh dan sumpek khas warung tradisional yang ramai dikunjungi pelanggannya. Nyari parkir susah dengan antriannya panjang. Bekas terminalnya juga kumuh dengan jalanan yang beraspal bolong-bolong gede dan dalam.

Tapi kondisi yang menyebalkan itu nggak mengurangi para pelanggannya datang lantas mengantri panjang serta lama hanya sekedar untuk menikmati pergedel yang disajikan disitu.

Bahkan saking ramainya para pelanggan yang datang di beri nomor antrian oleh sipemilik warung yang bukannya menjelang tengah malam itu agar lebih tertib dan gak berebut.

Warung makannya kecil aja, hanya ada dua meja didalam warung itu, dimana setiap meja hanya bisa menampung sekitar enam sampai delapan orang saja. Sementara di luar warung, tanpa atap dan tenda, tergeletak diantara parkiran mobil dan motor ada sebuah meja lagi yang bisa menampung delapan sampai sepuluh pelanggan yang makan.

Kalo gak kebagian tempat maka pelanggan yang datang harus rela mengantri, bahkan makan sambil berdiri, hehehe tapi tetep aja situasi itu nggak mengurangi animo pelanggan yang datang untuk makan disana.

Apa sih hebatnya pergedel bondon?

Alkisah nama pergedel bondon diambil dari pelanggan dimasa awal warung itu buka. Warung yang dulu bukanya lewat tengah malam itu menjadi langganan makan para bondon. Kalo kata orang bandung, bondon itu sebutan untuk ‘cewek nakal’ alias ‘wanita malam’.

Bondon kalo disurabaya biasa dikenal dengan istilah lonte, dijakarta dengan istilah perek, di solo dan sekitarnya dengan istilah baulan dan di semarang denga istilah ciblek. Tiap daerah pasti punya istilah sendiri-sendiri untuk profesi tersebut 🙂

Karena dimasa awalnya yang jadi langganan disitu adalah para bondon yang kelaparan sehabis bekerja, maka buat siapapun yang pingin tau, mingin liat bahkan pingin kenalan dengan para bondon itupun ikutan makan disana.

Karena makin ramai, akhirnya para bindon pun mulai tiarap dan pelan-pelan menghilang. Pengunjugpun berganti dengan para turis yang penasaran atau para penikmat hiburan malam yang pulang dugem.

Fenomena bondon ini yang bikin rame, rasa penasaran yang bikin orang datang dan makan disana. Padahal pergedel yang disajikan juga biasa aja. Kalo saya bilang yang disebut pergedel yang disajikan disana itu bukan seperti pergedel yang selama ini saya kenal.

Pergedel bondon itu lebih dari hanya sekedar kentang goreng berbumbu yang ditumbuk halus lantas digoreng lagi dengan bentuk seperti seperempat kepalan tangan. Kalo pergedel yang saya kenal kan biasanya kentang goreng berbumbu yang ditumbuk halus itu dicelupin dulu ke telur kocok sebelum digoreng.

Sederhana banget kan.

Rasanya juga biasa aja. Kata saya dalam hati, nggak ada hebat-hebatnya deh dalam rasa 🙂 Kalo boleh saya simpulkan yang bikin ramai adalah namanya yang bikin penasaran dan antrian yang panjang yang harus ditempuh sebelum kita bisa menyantapnya.

Mungkin itu yang bikin pergedel bondon jadi hebat dan menghebohkan.

Emang jarang sih yang datang sendirian untuk makan disana, bisanya pengunjung selalu datang berombongan. Jadi pesennya biasanya banyak-banyak 50 biji sampai ratusan biji.

Antrian semakin diperlama karena kayaknya cuman ada dua kompor kayu bakar yang di gunakan untuk memasak disana.

Hanya ada satu warung pergedel bondon dibandung. Kayaknya gak buka cabang ditempat lain, mungkin karena nama ‘bondon’ nya itu.

Kalo saya ingat saat saya sma di bandung dulu, tahun 80-an, saat itu awalnya makanan yang disebut batagor (baso tahu goreng) muncul. Kalo saya pingin makan batagor saya harus menuju ke sebuah tempat, disana satu-satunya penjual batagor berada, jauh sempit dan sumpek.

Saat itu katanya batagor hanya khas di daerah itu saja, jadi nggak bisa ditemui ditempat lain. Tapi kemudian situasi berubah, sekarang di bandung batagor bisa dijumpai hampir disetiap sudut jalan. Bahkan penjual batagor keliling juga banyak. Bahkan sampai di kota lain juga ada.

Sama aja saat saya baru datang di surabaya, katanya kalo mau makan rawon yang khas hanya ada di ‘rawon setan’ yang bukanya tengah malam sampai pagi yang juga jadi langganan para penggemar dunia malam. Rasanya juga biasa aja dan katanya ditempat lain gak bakalan ada rawon yang seperti itu.

Tapi semuanya jadi berubah ketika ada yang berani membuka warung rawon setan versi lain. Sebagai akibat ada yang memulai maka warung rawon yang menggunakan nama rawon setan bertebaran dibanyak tempat bahkan diluar surabaya.

Balik ke pergedel bondon lagi, kalo ada yang berani memulai pastinya pergedel bondon ini bakalan bisa ditemui dimana-mana dan kita bisa makan tanpa perlu ngantri dalam situasi gak nyaman lagi.

Hehehehe….