cerita tentang Kentang Goreng

posted in: Entrepreneurship | 0

Saat saya diajak main ke kawasan pariwisata Dieng yang ada di jawa tengah, saya menemukan sebuah fenomena unik. Dikawasan itu hampir gak ada café dan restorant cepat saji asing, tapi kentang goreng sangat mudah saya temui disana. Penganan ini ada di setiap warung, bahkan gampang juga ditemui di warung yang lokasi jualannya berada di dalam pasar tradisional.

Kentang goreng atau yang biasa di kenal dengan istilah kerennya French Fries biasanya selalu saya jumpai di retoran cepat saji asing atau di cafe-cafe yang sekarang sedang marak bertebaran di berbagai kota di Indonesia. Kentang goreng selalu menjadi salah satu menu andalan karena pada kenyataannya kentang goreng adalah salah satu jenis kudapan yang di sukai oleh segala usia, maka.

Di kawasan pariwisata Dieng yang masih sangat sederhana dan nampak banget kurang tergarap, masyarakat dan para wisatawan menjadikan kentang goreng sebagai penganan camilan saat mereka sedang istirahat sambil minum kopi atau minum teh di warung.

Di warung-warung itu kentang goreng dengan potongan segede jari tangan, disajikan dalam tumpukan yang tampak menggunung di sebuah nampan saji besar. Kentang goreng di pajang berjajar dengan camilan lain yang lumrahnya tersaji di warung-warung kopi,  seperti tahu isi dan tempe goreng tepung. Tumpukan kentang goreng itu begitu menggoda mata saya.

Dalam hati saya bersorak girang ketika melihat tumpukan kentang goreng itu, senang rasanya bisa menemukan makanan favorit di sebuah tempat yang bener-bener gak disangka-sangka. Emang sih air liur saya akan selalu menetes tanpa bisa ditahan saat melihat kentang goreng, hhehehe…

Penasaran juga, kenapa di daerah pucuk gunung seperti Dieng ini kentang goring bisa terjadi sedemikian rupa sejajar dengan tempe atau tahu goreng.

Disurabaya atau di kota-kota lain, kentang goreng gak mungkin disajikan setara dan sejajar dengan tahu atau tempe goring. Apalagi di kawasan dieng ini harga seporsi kentang gak beda jauh dengan harga seporsi tahu atau tempe goreng. Sama-sama murahnya.

Dari rasa penasaran itu lantas saya berusaha mencari informasi dari ngobrol sana sini dengan kawan atau pedagang di pasar. Berdasarkan jawaban orang-orang yang saya tanya, saya baru tau kalo ternyata pegunungan dieng memang kawasan penghasil kentang terbesar di jawa tengah. Dan kentang yang di tanam di pegunungan dieng hasilnya lebih bagus bagus dan merupakan kentang unggulan jika dibandingkan kentang yang berasal dari daerah-daerah lain di jawa.

Saya liat emang agak beda kentang yang di jual oleh petani dieng dengan kentang yang biasa saya beli dan saya konsumsi di surabaya, kulit kentang yang berasal dari dataran tinggi dieng berwarna kemerahan. Karena kulitnya yang berwarna kemerahan itulah maka kentang dari dieng menjadi lebih enak dan tahan lama serta tidak mudah busuk.

Hehehee pucuk dicinta ulam tiba, kentang goreng bikin saya kalap, bikin saya menjadi mata gelap. Saat nyangkruk, sambil ngopi dan ngobrol ngalor ngidul mulut saya nggak berhenti terbuka, sesekali ngobrol tapi lebih banyakan mulut saya ini saya pake buat nyamil dan memamah kentang goreng sepuas-puasnya.

Para pedagang kentang goreng di warung-warung itu biasa menyiapkan kentang goreng yang kita pesan dalam kardus kue, lantas kita bisa menambahkan dan menaburkan garam gurih di atasnya atau menaburkan bubuk perasa macam rasa keju atau balado dengan bebas.

Seperti yang sudah saya tuliskan tadi, harga seporsi kentang jauh lebih miring banget dibandingkan di resto cepat saji atau di cafe-cafe, masalah harga ini juga yang bikin penggemar kentang goreng seperti saya ini menjadi kalap dalam memesan dan menyantapnya.

Sungguh menyenangkan sekali, apalagi kentang goreng ini selalu di hidangkan dalam kedaan panas mengepul. Udara di dieng ini dingin banget, maka gorengan matang yang baru diangkat dari minyak panas bisa langsung bisa disantap dalam hitungan menit saja walaupun masih dalam kondisi mengepulkan asap.

Yang tadinya cuman mau ngemil sekotak kentang goreng, karena hawa mendukung dan harga mendukung jadinya bisa nambah terus dan terus nambah. Apalagi kalo ngemilnya sambil ngobrol dan obrolannya mengasikkan. Bisa sampe gak bisa jalan karena kekenyangan.

Hahhaaaha…..