Catatan dari Tidore

posted in: Entrepreneurship | 0

Jam 7 pagi waktu indonesia bagian timur, kami » saya dan pak Rony founder TDA Indonesia sudah di jemput oleh kawan-kawan komunitas TDA Ternate untuk diajak mengunjungi pulau tidore.

Pulau ini berjarak hanya 15 menit nyabrang laut naik speed boat dari ternate. Tidore sebuah pulau kecil dengan sebuah gunung yang tidak aktif lagi. Dulunya tidore ini adalah ibukota dari Irian Barat tapi sekarang masuk wilayah Maluku Utara.

Naik speed boat nyabrang laut sebuah pengalaman baru buat saya, saat itu saya untuk pertama kalinya merasakan yang namanya mabok laut. Justru rasa mual, pusing dan pingin muntah ini terasa mengaduk-aduk perut dan kepala saya pada saat speed boat itu belum bergerak. Goyangan speed boat terkena hempasan arus laut pada saat masih terikat dipelabuhan itulah yang paling gawat. Goyangan yang gak beraturan itu yang bikin mabok.

Untungnya pagi itu hanya sarapan beberapa butir tempe goreng, kalo nggak jelas saya akan mengeluarkan lagi apa yang saya santap. Kepala terasa pusing sementara perut berasa mual banget. Untungnya speed boat itu segera berangkat, agak lamaan dikit aja trikat di pelabuhan saya pasti gak bisa bertahan lagi ?

Rasa pusing dan mual itu jadi gak begitu terasa lagi saat sampai di pelabuhan speed boat tidore. Dari situ pemandangannya bagus banget, lautnya tetep jernih berwarna hijau kebiruan, walaupun ada nampak beberapa sampah disana sini. Padahal lokasi saya berada di sebuah pelabuhan antar pulau lho, sebab yang namanya pelabuhan itu yang sering saya temui terutama di jawa kotor banget dan lautnya gelap.

Dan pemandangan yang nampak di mata saya adalah gugusan pulau-pulau yang juga berwarna hijau, oleh pepohonan dikejauhan. Emang sih gak heran karena berdasarkan cerita dari kawan-kawan di sana propinsi Maluku Utara memang terdiri dari ratusan pulau, baik yang dihuni maupun yang tidak ada penghuninya.

Walaupun begitu ini mata tetep gak bisa diboongin dan masih terkaget-kaget melihat pulau disana sini, apalagi liatnya dari Tidore. Pemandangan hampir sama dengan pemandangan yang saya liat kalo saya memandang gugusan pulau itu dari pelabuhan ternate, namun jauh lebih keren. Lebih hijau, lebih biru, lebih bening dan jelas lebih indah.

Tidore dikenal juga dengan julukan pulau seribu masjid, disini kita bisa liat masjid berjejer tetanggaan bahkan dempetan 🙂 Dan memang pemandangan itulah yang nampak oleh saya tiap sebentar, saat saya melanjutkan perjalanan naik mobil mengelilingi pulau tidore.

Dalam radius yang relatif dekat, itungannya mungkin tiap 500m saya akan menemukan sebuah masjid, bahkan bisa juga ada dua masjid yang letaknya saling berdempetan. Kata sopir yang mengantar saya mengelilingi pulau ini bisa dibilang dalam sebuah kelurahan di pulau tidore yang kecil mempunyai paling sedikit 4 masjid, yang rata-rata gede bangunannya dan bertingkat dua.

Kalo di surabaya sering kita bingung nyari masjid pas waktunya sholat, maka di tidore ini begitu sulitnya nyari tempat yang gak ada masjidnya 🙂

Saat saya berkeliling mengitari pulau ini naik mobil, saya merasa hampir tidak melihat adanya warung kelontong atau warung sembako di tidore, bahkan pak sopir itu bilang selain di pelabuhan yang menghubungkan tidore dan ternate maka di pulau ini hanya ada 1 warung atau rumah makan aja.

Mungkin karena mayoritas penduduk  pulau ini profesinya adalah PNS (pegawai negri sipil) yang juga merangkap petani cengkeh dan pala. Dalam sebuah keluarga selalu bisa ditemukan profesi si suaminya PNS, lantas si istri juga bekerja sebagai PNS trus kalo punya anak maka anaknya sudah di mindset dari kecil untuk jadi PNS dan nyari istri yang PNS juga.

”Pulau PNS” kata saya sambil berseloroh.

Kemudian saya mencoba menganalisa sendiri. Jika di dalam sebuah keluarga ada dua orang yang menjadi PNS maka itu artinya ada dua orang minimal di dalam sebuah keluarga yang punya gaji tetap. Lantas selain menjadi PNS, mereka juga menjadi petani, bukan sekedar petani penggarap tapi mereka adalah petani yang punya kebun cengkeh atau kebun pala.

Saat di pelabuhan saya liat ada warga yang lagi memuat sekitar 20 karung cengkeh, maka saya di beritahu oleh kawan saya yang dari ternate kalo biasanya satu karung itu kira-kira beratnya 80kg dan 1kg harga cengkeh kering sekitar 100rb, jadi bisa diitung sendiri kan berapa duit yang dihasilkan dari satu kali panen saja. Padahal katanya cengkeh itu bisa di panen secara periodik setiap 3 bulan sekali.

Kalo kita liat itung-itungan ini jelas kebayang dong betapa makmurnya warga dipulau tidore itu. Makanya lantas saya simpulkan saja secara ngawur kalo nggak ada alasan yang kuat yang bisa bikin warga tidore untuk tergerak menjadi pengusaha, karena dengan menjadi PNS dan petani aja mereka dah bisa kaya dan hidup nyaman, heheheehe…

Padahal bumi tidore sesungguhnya begitu subur dan kaya lho, ibarat lagu jadulnya Koes Plus yang berjudul ‘kolam susu’, kalo yang masih ingat :

» ’orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman’. Apa yang di tanam di tidor bisa tumbuh dengan subur. Konon ini terjadi karena disebabkan tidore sering terkena abu letusan gunung gamalama yang ada di ternate.

» ’kail dan jalan cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu’ di tidore sini kalo kita macing ikan maka gak perlu pake umpan lagi, begitu kail dilempar maka mata kail yang tajam itu akan langsung ditangkap oleh ikan.

Asik banget kan…

Peluang seperti ini kurang di sadari oleh penduduk asli tidore, mereka terlena dengan pekerjaannya yang nyaman sebagai PNS atau dari hasil panen ladang cengkeh atau pala yang mereka miliki secara turun temurun.

Dengan situasi seperti ini, para penduduk asli tidore hidup dalam zona nyaman sampai-sampai membiarkan saja semua peluang yang ada disana ditangkap dan dinikmati oleh para saudagar dan pedagang yang berdatangan dari bugis, makassar dan jawa.

Para pendatang inilah yang kemudian mengambil dan membawa hasil bumi tidore yang kaya keluar tidore, keluar dari maluku utara. Para pendatang ini yang kemudian malahan menikmati hasil dari kekayaan alam tidore. Sedangkan masyarakat asli tidore hidup begitu-begitu saja dengan nyamannya dan terus terlena dengan kemakmuran dan keindahan alam daerahnya.

Mungkin saja, seandai daerah ini bisa dicapai dengan cepat dan mudah dari jakarta atau surabaya misalnya, pastilah akan semakin banyak pendatang yang datang membanjiri wilayah indah ini, lantas menghisap madunya dan kemudian membawa pergi untuk dinikmati ditempat lain

Kalo ada yang masih ingat sepenggal bait dari lagu Nyiur Hijau » ‘nyiur  hijau, di tepi pantai, siar siur daunnya melambai’ Pemandangan indah mengagumkan seperti itulah yang saya liat sepanjang perjalanan saya mengelilingi pulau tidore.

Saya beruntung banget bisa berkunjung ke tidore, karena memang saya datang diundang untuk sharing dalam festival kewirausaha-an se Maluku Utara.

Semoga hasil sharing kami, saya dan kawan-kawan di sana selama 4 hari mulai tanggal 20 september sampai tanggal 23 september 2012 pada saat festival kewirausaha-an se maluku utara bisa bermanfaat buat kemajuan jiwa kewirausahaan yang sedang di bangun disana oleh pak Ully, pak Iriansyah, pak Riswan dan kawan-kawan TDA Ternate lainnya.

‘Tanah airku, Tumpah darahku, Tanah yang subur Kaya makmur, Tanah airku, Tumpah darahku, Tanah yang kaya Permai nyata’

Amiiiin…