bisnis-mu bukan bisnis-ku

seorang teman baik saya cerita kalau istrinya yang telah berhenti kerja ternyata tidak tertarik dengan bisnis yang sudah dia persiapkan buat dikelola istrinya. dia bilang istrinya sama sekali tidak tertarik dengan bisnis yang telah dipersiapkannya. apalagi keluarnya sang distri dari pekerjaannya, padahal tengah berada di puncak prestasi itu sangat disesali oleh orang tua istrinya alias mertua teman saya ini.

jadinya walaupun tidak terjadi masalah tapi tetep ada problem yang timbul karena sang mertua pingin anaknya kembali bekerja dan tidak berbisnis, karena berbisnis itu bukanlah suatu prestasi menurut pandangan mereka.  sedangkan teman saya ini inginnya sang istri tidak bekerja melainkan menjadi pebisnis seperti dirinya, salah satu alasan yang diajukanya adalah supaya si istri  punya waktu bersama lebih banyak dirumah.

kalo boleh saya simpulkan ada tiga macam konflik kepentingan yang terjadi dalam cerita ini.

yang pertama, si istri enjoy keluar dari pekerjaannya tapi gak tertarik dengan bisnis yang disiapkan oleh suaminya.

yang kedua, si suami enjoy dengan keluarnya istri dari pekerjaannya tapi menjadi tidak nyaman karena istrinya menolak bisnis yang sudah disiapkannya sehingga sekarang dia harus berpikir ulang untuk menyiapkan bisnis lagi buat istrinya tapi kali ini harus yang disukai oleh istrinya karena kalo tidak maka masalah akan semakin berlarutl-larut.

yang ketiga,  mertua yang sama sekali tidak suka terhadap apa yang dilakukan oleh anak dan menantunya.

ketika hal ini saya ceritain ke istri ternyata ada masukan dari istri yang sama sekali gak pernah terpikir oleh saya sebagai seorang laki-laki. hal ini berkaitan dengan ego seorang wanita. sebenernya seorang wanita itu juga punya ego yang tinggi dan tidak mau kalah dengan kaum pria. ego ini akan semakin besar apabila wanita tersebut sudah pernah berkarier sebelumnya, lebih-lebih bila karier sebelumnya sangat moncer.

ego ini tidak akan terlalu nampak pada wanita yang lemah dan tidak pernah berkarir sebelum menikah.

nah ego raksasa ini yang menurut istri saya sering kali luput atau  diabaikan  begitu saja dari perhatian pria yang berstatus suami atau pacar.   pria sangat egois dalam hal ini, ego mereka yang  luar biasa besar  selalu ingin agar pasangannya nanti menuruti dan mengikuti semua yang sudah mereka persiapkan untuk istrinya.

mereka sering tidak sadar bahwa wanita pasangannya itu juga punya keinginan sendiri  punya mimpi sendiri.  keinginan dan ego wanita karier, tadinya selalu diasah dikantor dimana dia pernah bekerja,  dan biasanya bila si wanita itu cerdas apalagi cantik maka mulai bawahan, rekan kerja, partner , relasi bahkan  atasannya ( baik yang wanita, terlebih dan terbukti pada rata-rata yang berkelamin laki-laki) akan patuh dan menurut, dan seringkali tanpa perlawanan yang berarti.  itu yang juga  mungkin tidak pernah disadari oleh pria sebagai pacar atau suami.

sebagai sikap kompromi wanita sebagai istri, mereka mau saja keluar dari pekerjaan dan meninggalkan karier moncernya. tapi itu bukan berarti terus akan langsung mau mengikuti dan menjalan apa yang telah suaminya siapkan. walau dalam persiapan melahirkan bisnis yang dibikinkan suami untuknya, si istri nampak selalu koperatif dan kompromi.

sikap kooperatif dan kompromi itu sebenarnya lebih ditujukan agar sang suami sadar bahwa dia menikahi wanita yang berpotensi yang tidak hanya bisa duduk manis saja, tapi juga wanita yang bisa diajak betukar pikiran dan berdiskusi. jadinya saat persiapan semua tampak lancar dan keduanya tampak antusias dalam persiapan melahirkan bisnis baru itu.

tapi untuk selanjutnya yang bikin kaget saat bisnis di luncurkan si isteri tampak malas dan ogah-ogahan.

kenapa itu terjadi?

menurut istri saya, jika menjalankan bisnis itu si istri jadinya tidak nampak istimewa lagi dimata umum. karena menurut pola pikir wanita, bisnis yang disiapkan suami adalah bisnis suami, karena memang si suami adalah pebisnis handal jadinya bila si istri terjun disitu dia tidak akan tampak istimewa karena potensinyatidak akan tampak sama sekali. artinya jika berhasil dia tidak akan dipuji-puji masyarakat karena memang dia mengelola bisnis yang disiapkan dan di support suaminya yang notabene pebisnis handal. jadinya kapan si istri yang mantan wanita karier hebat ini bisa menunjukkan pada masyarakat umum bahwa dirinya secara pribadi itu juga hebat dalam membangun  dan mengembangkan bisnis terlepas dari bayangan si suami yang meman entrepreneur top, jika bisnis yang dikelolanya itu disiapkan oleh pasangannya.

lalu bila bisnis itu gagal maka apapun yang terjadi, si istrilah yang akan disalahkan dan dikecam oleh masyarakat walaupun sebenarnya si isteri sudah bekerja ekstra keras dan hati-hati. tapi masyarakat mana mau tau tentang hal itu. taunya mereka si istri tetep seorang wanita yang gak becus di bidang entrepreneur.

jadinya dari sudut pandang manapun tidak akan ada predikat entrepreneur hebat yang akan disandangnya!!

makanya saran istri saya,  dalam menyiapkan sebuah bisnis untuk istri atau paasangannya, si suami harus paham betul apasih sesungguhnya yang disukai oleh istrinya itu.  lalu setelah ketemu,    segera giring lah setiap dialog kearah itu agar segera bisa diwujudkan sebagai bisnis. biarkan si istri yang memilih, merintis, memupuk dan menjadikan bisnisnya itu sukses. tugas si suami hanyalah mengawasi dari jauh dan berperan sebagai konsultan hanya apabila ditanya dan dimintai pendapat. si suami harus mau dan tidak boleh bertindak lebih dari itu.

itu yang saya maksudkan dengan ego seorang wanita yang sudah menjadi istri. dia tetep pingin diakui oleh suaminya dan orang lain bahwa tanpa bantuan siapun, dirinya sebagai seorang istri yang menjadi entrepreneur akan tetep dianggap sebagai seorang pribadi wanita yang hebat serta profesional. apabila terjadi kesalahan serta kegagalan, maka tidak akan ada seorangpun yang menyalahkannya,  karena toh semua langkah yang diambil adalah langkah-langkah pribadi sebagai seorang wanita mandiri dan profesional.

istri saya menekankan agar selalu berusaha untuk memahami dulu semua karakter, sifat dan kesukaan siwanita sebagai pasangannya. setelah itu baru deh digiring dan diarahkan selalu setiap saat, agar dia sendiri yang bertindak sebagai entrepreneur tanpa ada campur tangan siapapun.  apapun hasilnya sang istri akan menikmati !00%,  sebab yang dilakukanya itu semua berhasil atau tidaknya suatu bisnis bener-bener murni karena cipta dan rasa dirinya sendiri.

sekali lagi itulah ego wanita yang seringkali pria sebagai pasangan atau suami tidak peka.

dan pengertian tentang ‘ego wanita’ adalah suatu masukan yang luar biasa dari istri saya.

http://yatiesamsul.files.wordpress.com/2009/02/mertua-vs-menantu-a.jpg?resize=144%2C84

trus buat masalah dengan mertua, biarin aja dan jangan pernah dipikir jika masalah dengan istri belum selesai. masalah dengan mertua otomatis akan selesai kalo masalah dengan istri selesai karena jelas, istrilah yang akan ngomong ke bapak ibunya kalau dia gak punya masalah apa-apa. nah kalau anaknya tenang otomatis mertua juga tenang.

gitu seeh yang biasa saya dan istri lakukan jika mertua saya mulai gak suka dengan apa yang kami lakukan,  tapi untungnya saya itu menantu yang baik jadi jarang punya masalah dengan mertua.

Leave a Reply