berubahlah dan berhentilah mengeluh

Saptuari Sugiharto Overload, sudah 2 orang pemilik warung kelontong mengeluh warungnya jadi sepi, lokasi di timur bandara Adisucipto jogja, dalam jarak 1 KM dikepung 1 Alfamart, 2 Indomaret, 1 Circle K..!! inilah ketika kapitalisme pasar masuk, siap tidak siap harus siap! dgn harga yg sama (bahkan ada yg lebih murah) konsumen pasti memilih belanja di tempat yg terang benderang, parkirnya luas, &pelayanan yg ramah plus serba dpt bonus! ckckckck! 149599_173156509375715_100000441004182_477472_7914563_n

Kalimat diatas saya dapatkan dari status facebook salah seorang senior saya pemilik kedai digital di jogja. Nggak ada yang salah dengan status itu dan gak ada yang salah dengan nama-nama modern market yang beliau sebutkan, karena ini merupakan persaingan bisnis yang disesuaikan dengan perubahan jaman dan kondisi konsumen pada saat ini. konsumen sekarang saat berbelanja gak cuman pengen belanja saja tapi mereka juga butuh gaya dan butuh pelayanan lebih dalam berbelanja.

Ada rasa bangga yang sering kali muncul dalam wajah-wajah seseorang yang keluar dari sebuah mini market modern dengan menenteng sebuah kantong plastik putih yang jelas bertuliskan nama mini market modern tempatnya berbelanja walaupun yang di belinya hanya sebungkus rokok atau sebatang sabun mandi. Rasa bangga ini jelas gak didapatkan saat konsumen usai berbelanja di toko atau warung kelontong di dekat rumahnya dengan belanjaan yang sama tapi hanya di bungkus kantong plastik berwarna hitam polos.

Jurus ini yang dipakai oleh toko kelontong modern itu, mereka bikin tokonya bersih rapi, diberi pendingin udara sehingga konsumen bisa merasa nyaman saat mengambil dan memilih barang kebutuhannya sendiri, mereka beri pnjaga toko yang ramah tamah dan selalu siap melayani para pembelinya. Dengan kenyamanan ini semua seorang pembeli bisa datang ke situ tidak sendirian tapi bisa mengajak seluruh anggota keluarganya sehingga yang terjadi yang dibeli menjadi berbeda dengan tujuan awal.

Karena datang beramai-ramai ke toko kelontong modern itu maka bisa saja mereka membeli lebih dari satu kebutuhan, sianak merengek minta permen, lalu si ayah ingat bahwa rokonkya sudah habis dan membeli itu semua padahal niat awal mereka datang hanya mengantarkan sang ibu yang ingin membeli sekotak susu.

Hal yang sama terjadi walaupun seorang pembeli datang sendirian, padahal niat awal dia hanya ingin membeli sebatang sabun mandi tapi karena nyamannya suasana dan dia bisa memilih serta mengambil sendiri apa yang dibutuhkan, maka saat dia melihat sekantuk kripik dan sekotak juice keinginannya bertambah karena memang uang disaku ada maka yang dibelipun jauh lebih banyak.

Saya mencoba membandingkan saat saya berbelanja kebutuhan di toko kelontong tradisional, seringkali saya merasa sebel karena saat saya datang tidak ada yang berjaga di toko itu, saya harus menunggu atau mengetuk bahkan berteriak untuk memanggil sepenjual agar melayani saya. Setelah menunggu ternyata yang datang si penjual dengan wajah masam, atau wajah datar tanpa senyum, lalu saya harus menunggu dia mencari barang yang saya butuhkan. Proses yang seperti ini pasti bikin saya ‘il fil’ ilang feeling dari niatan saya untuk membeli, jangankan sempet melirik barang yang lain yang ada disitu karena dalam hati seringkali ngomel-ngomel dengan proses jual beli ini, rasanya pingin cepet-cepet aja pergi dari toko tersebut.

Saya ingat dimasa kecil saya saya suka sekali ikut sama ibu jika beliau belanja di warung atau toko kelontong tradisional karena saat kami datang si penjual menyambut dengan senyuman, menyapa dengan menyebut nama ibu bahkan nama saya, dia juga seringkali mengajak saya ngobrol. Rasanya situasi dan suasana yang begini ini gak ada lagi saya temukan sekarang ini, si penjual penginnya si pembeli cepet-cepet belanja sehingga tugas melayaninya bisa segera usai, padahal si pembeli pinginnya saat berbelanja ada rasa nyaman yang didapat seperti persaan saya saat ibu belanja dulu.

Dua kepentingan yang berbeda ini yang mungkin di tangkap oleh mini market modern, mereka tetep berusaha menyenangkan konsumennya dengan tetep memberikan kenyamanan saat berbelanja. Dan kondisi ini rasanya tidak tertangkap oleh para pemilik toko kelontong tradisional, mereka yang sukses dengan membuka toko kelontong mungkin merasa tidak perlu memberikan fasilitas dan pelayanan yang lebih pada para konsumennya, mereka masih berpedoman pada cara yang lama dan tradisional apalagi jika pada masa itu warung dan toko kelontong mereka sukses.

Saya merasa di luar kendala modal yang selalu dijadikan alasan para pemilik toko kelontong trdisional itu gak mampu bersaing dengan toko kelontong modern adalah kurang tanggapnya para pemilik tradisional dengan perubahan jaman, si pemilik yang dulu masih muda dan kuat bisa berjaga sendiri melayani pembeli dengan ramah kini sudah uzur termakan umur tidak sekkuat dan selincah dulu, jadi pelayanannya menjadi lebih lambat, atau sudah tidak melayani sendiri tapi diteruskan oleh anaknya atau karyawannya.

Pada saat tidak ditangani sendiri ini maka rasa memiliki bisnis menjadi tidak ada, yang muncul hanya sekedar kewajiban saja, si penjaga ya hanya menjaga dan menjual saja kerjanya bisa jadi dah gak ada sama sekali keinginan tuk membuat pembelinya nyaman, dan terjadilah hal-hal yang tidak dikehendaki, karena para pembeli yang juga sudah berubah, bukan lagi konsumen yang dulu yang seusia dengan pemilik, tapi konsumen baru yang juga pinginnya gak sekedar belanja saja tapi juga pinginnya dilayani lebih.

Dua kepentingan yang berbeda gak mungkin bertemu, yang sati pingin cepet-cepet melayani tapi banyak yang beli tapi disisi lain pihak satunya kalo pingin beli pinginnya di hormati dan dilayani bak raja atau ratu. Jika ini dua kepentingan yang berbeda ini gak ketemu maka dah jelas pembeli perlahan tapi pasti akan pergi. Dan tinggalah pemilik kelontong tradisional mengeluh tak berkesudahan serta mencari kambing hitam untuk pelampiasan.

Jika kita gak bicara soal modal, maka mestinya pemilik warung atau toko kelontong tradisional mestinya tetep bisa mempertahankan para pelanggannya jika mau menyadari kondisi perubahan jaman lalu cepat-cepat berubah dan gak hanya sibuk mengeluh saja sebab apapun toko kelontong yang dimilikinya lebih lama ada disitu daripada toko kelontong modern. Apapun pasti sisa-sisa kenangan dan nostalgia dari para pelanggan akan tetep melekat dalam alam bawah sadarnya, kenangan dan nostalgia itu bisa menjadi senjata ampuh kok kalo memang si pemilik toko itu mau merubah sistemnya.

Yang mesti dilakukan juga sebenernya relative mudah kalo menurut saya, beri saja kenyamanan dan keramahan pada para pelanggan jika gak punya modal cukup, maka niscaya pelanggan juga gak akan serta meta memindahkan tempat belanja mereka. Berikan saja sentuhan personal seperti dulu saat saya kecil atau keramahan yang sama saat saya belanja di mini market modern maka warung tradisional itu akan tetep punya nilai jual dan daya saing yang tinggi.

Saya tetep sebel kalo datang di  mini market modern dan para karyawannya sibuk ngobrol sendiri-sendiri serta tidak sigap melayani saya yang datang, tapi lebih sebel lagi jika hal ini terjadi di toko kelontong tradisional. Perasaan yang sama yang saya rasa di tempat yang berbeda tapi jelas bila rasa sebel itu datang saya akan pilih meninggalkan yang tradisional daripada yang modern, karena jelas yang tradisional kalah, sudah nyebelin, panas gak ada pendinginnya gak bisa ngambil sendiri lagi.

Mungkin perasaan ini gak saya rasakan sendiri tapi dirasakan juga oleh banyak pelanggan seperti saya. Jadi jika hampir semua pelanggan punya perasaan yang sama tinggal satu kunci buat warung tradisional, berikan pelayanan dan kenyamanan pada konsumen seperti yang saya udah ulang-ulang dalam tulisan ini. Jika ini terjadi bukan lagi soal modal masalahnya tapi tinggal ada niat untuk berubah atau tidak, ada niat untuk memperbaiki diri atau tidak?

Jangan hanya mengeluh tapi bergerak dan berubah, bukan modal masalahnya saya rasa tapi hanya niat tuk berubah. Berikan permen pada anak-anak setiap belanja disana, belikan kue-kue, gak perlu yang mahal tapi disukai oleh anak-anak, ini salah satu contoh bentuk pelayanan selain keramahan dan senyuman tulus dari si penjual. Jika anak-anak senang maka otomatis orangtuanya juga ikut senang dan orang tua seringkali mengikuti kata si anak saat berbelanja.

Jaman memang terus berubah  tapi saya tetep yakin yang tradisional akan bisa bertahan jika mau mengikuti perkembangan jaman. Arahkan perhatian dan fokus pada keinginan mayoritas konsumen lalu usahakan penuhi keinginan mereka, maka mereka tak berpaling dari kita yang tradisional. Diawal tulisan juga dah disinggung oleh senior saya bahwa yang mengepung warung kelontong tradisional bukan hanya dari satu perusahaan mini market modern tapi dari banyak perusahaan, artinya yang modernpun tetep bersaing satu dengan yang lainnya untuk memperebutkan konsumen yang sama.

Siapa pemenangnya?

Saya yakin yang menang adalah mereka-mereka yang bisa mengambil hati dan perhatian konsumen. Sekarang tidak ada  lagi konsumen loyal, yang ada adalah konsumen akan datang ketempat belanja yang nyaman menurut kata hati mereka. Persaingan terjadi gak hanya yang modern dengan hyang tradisional, yang modern dengan yang modern pun terjadi persaingan dan mestinya hal ini adalah hal yang biasa terjadi dalam dunia dagang dan dunia bisnis dimanapun juga. Berikan kenyamanan dengan tambahan sentuhan nostalgia pada konsumen maka warung kelontong tradisional bisa bertahan dan bersaing dengan yang modern…

Mau berubah atau tetep hanya mengeluh?

Leave a Reply