bersyukur

posted in: Entrepreneurship | 0

seringkali saya lupa dengan sebuah kata yang namanya ‘syukur’ – lupa sama sekali. padahal arti kata tersebut juga sederhana yakni berterima kasih terhadap apa yang sudah saya dapatkan.

padahal sudah banyak orang yang mengingatkan pada saya, bahwa saya harusnya selalu bersyukur terhadap apa yang sudah saya peroleh selama ini.

padahal orang yang mengingatkan saya itu banyak sekali bukan hanya satu atau dua orang saja dan saya pun selalu diingatkan di berbagai kesempatan bukan hanya di satu atau dua kesempatan saja yang berlangsung secara tidak sengaja.saya sendiri selalu berpikir apa sih yang bikin saya sering lupa terhadap kata tadi, sehingga tidak melakukan makna kata tersebut. gak gampang memang merenung dan berpikir untuk menyadari kekurangan diri sendiri itu. tapi setelah saya berusaha keras akhirnya saya menemukan bayang-bayang dari hal-hal yang menjadi penyebab yang bikin saya lupa bersyukur.

saya justru menemukannya setelah saya sering menegur dan memarahi anak saya. saya ngomel dan marah padanya, karena menurut saya jagoan saya yang sulung itu kok nampak tidak pernah puas terhadap apa yang sudah diperolehnya.

saat saya ngomel, sacara tidak sengaja, saya mengucapkan dan menemukan kalimat kunci yang menjadi alasan kenapa saya lupa bersyukur. saya bisa ngucapin dan menasehati ke anak saya, tapi ternyata saya sendiri masih kesulitan juga untuk mempraktekkannya.

“tidak pernah puas terhadap apa yang sudah diperoleh” kalimat luar biasa ini jarang sekali saya sadari.

saya tidak pernah puas terhadap apa yang sudah saya perloleh, makanya saya tidak pernah bersyukur. yang saya rasakan selalu saja kurang – kurang dan selalu kurang. kondisi saya rupanya tidak beda jauh dengan kondisi anak saya yang masih berusia sembilan tahun yang selalu saya omelin dan nasehatin karena ‘tidak pernah puas’dan tidak pernah berterima kasih terhadap apa yang sudah diperolehnya.

contoh tergampang saja misalnya, saat permohonan pengajuan credit card saya disetujui oleh bank penerbit. ternyata saya hanya memperoleh plafond lebih rendah dari yang saya harapkan – otomatis saat saya menerima kartu tersebut dan membaca limit yang tertera disana saya ngomel-ngomel dan mengeluh “dapat kartu kredit kok limitnya sedikit sekali ya, nyebelin banget”

saya lupa bersyukur padahal buat ndapetin kartu kredit baru dengan limit yang ‘cuman segitu’ saja sudah berapa banyak aplikasi saya yang ditolak dan sudah berapa lama waktu saya yang terbuang buat menunggu ddan berusaha sampai akhirnya permohonan saya itu disetujui.

saya lupa bersyukur padahal pada saat saya memperoleh credit card itu masih banyak teman-teman saya, yang tadinya barengan mengajukan aplikasi permohonan, tapi sampai saat saya memperoleh credit card tersebut, permohonan mereka juga belum kunjung disetujui atau kalaupun disetujui, kredit limit yang mereka peroleh masih jauh dibawah limit saya.

saya tidak memerhatikan dan melihatnya – sehingga lupa bersyukur.

banyah hal yang luput dari pengamatan dan perhatian saya dan semua itu membuat saya lupa bersyukur.

padahal data-data dan beritanya gampang saya dapatkan dan saya temukan setiap hari. tapi mungkin karena itu merupakan kejadian biasa dan lumrah, jadinya malahan gak bikin hati dan otak ini bergetar dan gak bikin saya mengucapkan kata syukur buat semua yang sudah saya peroleh.

kemiskinan dan penderitaan begitu akrab dengan negri tercinta ini. pemberitaan mengenai hal tersebut selalu muncul dan menjadi berita rutin setiap hari di berbagai media yang ada, baik itu media cetak atau elektronik. saking rutin dan gamblangnya berita itu maka malahan membuat hati dan otak saya jadi kebal dan bebal.

pemandangan yang nampak dan yang muncul dikesaharian saya justru yang lebih mengena dan berpengaruh. pemandangan yang tampak dijalanan saat saya beraktivitas atau saat saya cankruan diwarung, justru itu yang lebih mengena di hati dan otak saya, sehingga lambat laun kata syukur mulai akrab saya ucapkan.

paling gampang dan paling hot, adalah pemandangan yang nampak saat saya melakukan perjalanan mudik di hari lebaran. disepanjang jalan saya melihat banyaknya petugas berseragam yang sibuk mengatur lalu lintas agar perjalanan para pemudik menjadi lancar.

saya gak peduli akan penghasilan para petugas itu dan saya lebih gak peduli lagi dengan asset yang dimiliki mereka, apakah lebih atau bahkan kurang dibandingkan saya. tapi ada hal yang bikin saya peduli dan bikin saya bersyukur dibandingkan dengan mereka.

ketika saya melihat mereka bekerja, ditengah terik matahari atau saat matahari terbenam bahkan saaat menjelang tengah malam, saya selalu berada dalam kondisi bersama dengan keluarga saya. dan saya sedang dalam kondisi tidak bekerja, melainkan sedang menikmati masa liburan bersama keluarga saya. saya berbeda jauh dengan para petugas itu, mereka sedang sibuk bekerja ditambah lagi jauh dari keluarga mereka. Sedangkan saya tidak!!!

saat saya berkendara dengan keluarga dan menikmati hari pertama lebaran, saya melihat disepanjang jalan banyak para entrepreneur yang masih menjaga peralatan tambal ban mereka sendiri, mereka masih berharap ada kendaraan yang butuh bantuan apakah bannya bocor atau kurang angin, dan pemandangan ini saya lihat hanya satu jam setelah sholat ied selesai. padahal saat itu saya dan keluarga besar saya baru saja selesai bersantap bersama dan baru saja selesai bersalaman memohon maaf satu dengan yang lainnya.

bukan hanya entrepreneur tambal ban, banyak juga yang lain, dengan berbagai latar belakang usaha yang berbeda-beda. yang pasti, yang saya liat mereka masih bersiaga didepan tempat usaha masing-masing dengan harapan akan ada omset lumayan buat hari itu. dan biasanya mereka sendirian, tanpa didampingi oleh keluarga mereka.

hidup itu memang pilihan, tapi mustinya pilihan yang utama dan paling normal saat hari raya lebaran tiba, adalah berkumpul besama dengan keluarga dirumah dan saling bercengkrama serta saling memafkan satu dengan lainnya.

saya bersyukur sekali bisa melakukannya……

dan saya berjanji tidak akan pernah lagi lupa bersyukur apapun yang saya peroleh karena apapun yang saya peroleh masih banyak orang lain diluar sana memperoleh lebih sedikit dari apa yang telah saya peroleh dan saya nikmati…………

Leave a Reply