belajar banyak dari pasar tradisional

posted in: Entrepreneurship | 0

Masih teringat petualangan kuliner semalam, disepanjang jalan cokro dan agus salim madiun berjajar berderet-deret penjual pecel trotoar atau pecel tenda yang masing-masing ramai oleh pelanggannya.

Hal yang sama juga saya alami saat menikmati kuliner gudeg di kampung wijilan kota jogja. Disepanjang jalan itu yang ada hanya penjual gudeg.

Yang ada dalam pikiran saya apakah mereka tidak saling bersaing satu dengan yang lainnya ya? Padahal dagangan mereka itu sama semua dan lagian mereka itu berjualan ditempat yang juga sama berderet-deret pula.

Yang lebih menarik buat saya karena ternyata tiap warung atau rumah makan itu ada pelanggannya dan relative ramai, atau kalaupun gak rame banget, pelanggannya selalu datang dan pergi secara bergantian.

Saya berusaha mencari info ke kenapa kok kondisinya seperti itu. Bayangan saya dengan berjualan secara berjajar gitu kan tingkat persaingannya sangat tinggi.

Ketika saya bertanya pada penjualnya, dengan cara mencoba makanan disana secara bergilir di sepanjang jalan itu, warungnya juga saya pilih dengan acak, baik yang dimadiun ataupun yang dijogja.

Ternyata jawaban para penjualnya hampir mirip-mirip. Mereka bilang paling nyaman memang berjualan berjajar dengan pedagang lain yang punya dagangan sama. Mereka bilang memang tingakat persaingannya tinggi banget tapi, dengan berjualan berjajar maka bikin para pelanggan nya tau kemana mereka harus mencari saat kepingin makan gudeg atau makan pecel.

Jadi dengan berjualan berjajar gitu maka akan memudahkan pelanggan untuk datang. Pelanggan datang sendiri karena sudah tau, itu yang bikin tiap pedagang gak terlalu harus berpromosi sendiri-sendiri karena promosinya secara tidak langsung di lakukan oleh semua pedagang yang ada disana.

Ada lagi yang bisa didapat oleh mereka dengan berjualan berjajar begitu. Jika warung favorite atau warung yang sudah terkenal dan punya nama yang juga berjualan disitu sedang ramai atau penuh maka biasanya pelanggan yang datang pingin makan tapi gak mau mengantri terlalu lama akan memilih untuk mencari warung yang ada disekitarnya yang tidak terlalu ramai.

Dengan demikian para pedagang akan bisa mendapat konsumen baru limpahan pelanggan dari warung favorite yang penuh.

Ternya itu yang jadi penyebab kenapa ada banyak pedagang sejenis yang suka berjualan berjajar jajar di lokasi yang sama.

Kalo menurut saya mereka itu menggunakan ilmu pasar tradisional, di dalam pasar tradisional para pedagang yang punya dagangan sejenis berkumpul disuatu tempat secara bersama-sama.

Gak ada tukang daging yang berjualan secara terpisah denga tukang daging lainnya, begitu juga dengan tukang buah dan tukang sayur. Dan istimewanya mereka masing-masing punya pelanggan semua.

Hukum perdagangan tetep berlaku di pasar tradisional, pedagang yang terbaik habis duluan disusul oleh pedagang lainnya tapi tetep aja para pedagang itu pulang dengan dagangan yang sudah ludes terjual.

Sepertinya memang lebih menguntungkan berjualan di tempat yang sama dengan para pedagang lain yang dagangannya sama dengan kita dari pada bikin tempat usaha yang menyendiri.

Jika usaha kita dah gede dan sudah punya nama memang lebih mudah tapi jika baru mulai atau baru merangkak membangun omset, bisnis secara berjajar seperti teori pedagang pasar tradisional rasanya lebih menguntungkan deh.

Gimana?

Pantas buat dicoba kan?