apakah enak menjadi sponsor?

posted in: Entrepreneurship | 1

suatu saat saya minta kawan saya untuk mensponsori acara yang saya bikin. dengan janji bahwa nanti akan saya sediain alat sajinya sebanyak yang dia butuhkan, dan brosur berupa stiker yang mencantumkan nama dan nomor teleponnya yang akan saya tempel di alat saji tersebut.  kawan tadilah yang saya minta untuk membiayai serta mengisinya dengan makanan.

si kawan menyetujui, dan memang mempersiapkan dengan baik semua yang dibutuhkan, tapi ternyata dalam praktek menuju hari H banyak hal tiddak diinginkan yang terjadi, ada  saja halangan yang menghadang persiapan-persiapan kami.

semua sibuk, saya si kawan dan team saya memang sibuk dengan urusan dan bisnis masing-masing. 3 hari sebelum hari H, team saya yang mempersiapkan peralatan yang hendak di pakai tiba-tiba sakit sehingga berhalangan untuk belanja peralatan tadi. akibatnya anggota team saya itu baru bisa belanja keesokan harinya. ndak dinyana ndak disangka hari itu ternyata tanggal merah yang berarti liburan sehingga banyak tempat yang tutup, ternyata lagi tanggal merahnya dua hari berturut-turut, pusing deh jadinya sebab hari H semakin dekat padahal peralatan belon siap. team saya segera memberi tahu pada kawan itu dan si kawan memaklumi dengan syarat sore hari pada hari H minus 1 semua peralatan harus sudah diantar ke tempatnya. team saya menyanggupinya.

alhamdulillah, sesuai dengan janji maka pada sore hari yang dijanjikan yaitu hari H minus 1, maka peralatan dan stiker yang kami janjikan berhasil dikirim ke tempat kawan saya. kawan tadi menerima dan sempat melihat apa yang tertcantum pada stiker yang rencananya akan di tempel di peralatan yang telah kami siapkan juga. beliau tanpa komplain menerima, bahkan sempat mengemukakan komentar pada kami, ”kok ada nama saya juga disamping nomor teleponnya?”

saya pun merespon ”supaya mereka tau siapa nama yang harus dihubungi bila mereka berminat” begitu kata saya dan kawan tadi pun manggut-manggut. setelah beliau menerima semuanya dan tidak ada lagi yang mesti dibicarakan, saya buru-buru berpamitan karena besok pagi-pagi saya harus mempersiapkan fisik dan mental pada acara itu, antara kami datang dan pamit mungkin sekitar 10 menit saja kurang lebih. pokoknya rada terburu-buru deh….

malamnya team saya sempat berhubungan lagi dengan kawan tadi, dan menegaskan janji untuk ketepatan waktu datang di acara. kesepakatan yang terjadi adalah, karena tidak ada yang bisa menjemputnya maka kawan tadi akan mengusahakan kiriman datang pada pukul 12, satu jam sebelum acara kami berakhir.

esok paginya saya dan team focus pada acara yang kami bikin, kami yakin banget pada kawan tadi bahwa semuanya akan beres dan tepat waktu kaena beliau memang sudah punya jam terbang yang terbukti kehebatannya dalam hal kreadibilitas.

nah, ternyata masalah muncul lagi. pada jarum jam menunjukkan pukul 11.30 siang, lom ada tanda-tanda kiriman dari si kawan datang. padahal kesepakatan yang kami bikin adalah, paket akan datang pukul 12 siang. yang bikin tambah panik, adanya situasi dimana si kawan gak bisa dihubungi, telepon tidak diangkat dan sms tidak terbalas.

kepanikan makin merajalela karena pada saat pukul 12 siang, tetep aja lom terjadi komunikasi. sebagai akibat team yang ada diluar meminta agar team yang ada didalam memperpanjang acara, entah gimana caranya supaya para hadirin yang datang tidak mengetahui adanya keterlambatan kedatangan paket yang dijanjikan.

kepanikan semakin menjadi-jadi karena pada saat pukul 12.30 masih lom ada kontak dari si kawan. kondisi tambah memanas sebab yang punya tempat sudah memberi isyarat agar acara diakhiri pada pukul 13, sesuai dengan kesepakatan.

dalam panik team ndak putus asa, tehnik negosiasi dipakai jurus rayuan maut dikeluarkan untuk minta perpanjangan waktu lebih lama, agar dapat menggunakan tempat itu sedikit lebih lama lagi dengan alasan para hadirin benar-benar tehibur dan ndak beranjak sedikitpun dari tempat acara. kami semakin bersemangat untuk nego dengan pemilik acara karena tiba-tiba si kawan mengabarkan bahwa beliau akan tiba dengan paket yang dibawanya sekitar 20 menit lagi.

sekali lagi kami ucapkan alhamdulillah, sebab pemilik tempat memberi kan ijinnya, dan singkat cerita, paket yang dibawa si kawan datang tepat pada acara kami tutup, walaupun terlambat 90 menit dari waktu yang sudah disepakati bersama.

efek dari keterlambatan itu, cukup parah dimaka maka hadirin yang datang langsung mengambil isi dari paket tanpa membaca lagi peralatan yang sudah di tempeli stiker brosur promosi. hadirin mengambil isinya, dan langsung pulang tanpa peduli pada peralatan yang telah ditempeli stiker promo, karena memang sudah lewat waktunya untuk pulang.

si kawan kecewa sekali hatinya, beliau merasa semua jeih payah tenaga dan biaya besar yang dikeluarkannya untuk acara itu tidak dihargai sama sekali, apalagi saat ucapan terima kasih di sampaikan. maka yang dibacakan adalah sponsor dari brand atau merek nya saja, nama kawan tadi sama sekali ndak disebut-sebut dalam acara itu. beliau sakit hati sekali, padahal ndak sedikit tenaga, pikiran dan biaya yang telah dikeluarkannya untuk kesuksesan acara ini.

beliau merasa ndak ada penghargaan sama sekali yang beliau terima, ndak ada ucapan terima kasih yang beliau terima, bahkan beliau sempat dipersulit masuk karena namanya tidak dikenal oleh team yang menjaga di pintu masuk.

marah besar beliau pada saya, saya dianggap mau menang sendiri karena notabene hanya merek saja yang disebut, padahal merek itu merek saya, tapi status kawan tadi sebagai partner yang telah bekerja keras dan berkorban baik tenaga dan uang yang tidak sedikit sama sekali tidak disebut-sebut.

semakin marah  dan kecewa hati kawan saya itu karena ternyata pada x banner yang berada disana tidak disebut juga nama dan nomor telepon beliau. jerih payahnya ndak dihargai sama sekali, sponsor shipnya ndak di gubris, saya dianggap mau menang sendiri dan mau terkenal sendiri.

pastinya beliau marah besar, sebab bukan sekali itu saja beliau menjadi sponsor terhadap acara dan merek dagang saya, sudah berulang kali dan itu selalu dengan pengorbanan tenaga dan uang yang besar. saya benar-benar dianggap mau menang sendiri.

tentu saya punya alasan kenapa hal tersebut terjadi, bukannya saya ndak menghargai beliau, toh semua sudah berdasarkan kesepakatan, dan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan itu memang karena dari awal semuanya sudah salah dan terburu-buru.

pertama ada masalah saat penyediaan bahan baku sehingga semua dilakukan dengan terburu-buru, tapi tidak ada komplain jadi dianggap semua beres. dan sampai hari H para pihak yang terlibat tidak ada yang membicarakannya lagi, jadi masing-masing menganggap tidak ada masalah.

kedua, adanya keterlambatan kedatangan paket di tempat acara yang tidak memungkinkan hadirin untuk membaca atau menikmati peratatan yang membungkus paket itu, yang dituju hadirin adalah isi lalu langsung pulang. andai paket tidak telat mestinya hadirin akan sempat menikmati peralatan dan membaca stiker promosi yang ada pada peralatan pembungkus paket itu.

ketiga, tidak adanya koordinasi yang baik antara para pihak. dimana para pihak tidak bisa saling berhubungan sebelum semuanya menjadi terlambat.. andai ada komunikasi yang baik sebelum acara, pada saat acara, ada kejelasan tentang keterlambatan, dan ada komunikasi tentang situasi acara. pastinya kesalahpahaman tidak terjadi.

keempat, andai sesudah acara kawan tadi langsung mendamrat saya karena kekecewan dan kemarahan yang dirasakannya tentunya semua bisa dibicarakan dengan baik. tapi yang terjadi berbeda, kawan itu tidak berbicara dengan saya dan karena saya anggap semuanya clear saya dan team pulang duluan. yang terjadi ternyata beliau yang pulang lebih lambat dari saya ngobrol dengan  team panitia yang lain yang masih belum pulang dan mereka ndak ngerti apa-apa tentang deal ddan kesepakatan yang di bikin anatara saya dan si kawan. jadi komentar-komentar dari mereka yang gak ngerti apa-apa itu semakin bikin memuncak kemarahan si kawan.

dengan adanya keempat hal diatas maka semua alasan pembelaan saya ndak bisa diterima oleh si kawan, padahal kesepakatan tidak tertulis kami menyatakan adanya open managemen dan semua hasil dari acara yang disponsorinya akan dimasukkan dalam omsetnya.

amarah membutakan segalanya, saya hampir saja terpancing juga, untung ada anggota team yang masih berkepala dingin dan menasehati agar saya bersabar.

nasehat dari anggota team bikin kepala saya dingin, dan saya dinasehatinya lain kali jika meminta seseorang untuk menjadi sponsor sebaiknya dijelaskan dengan detail bahwa hasil sponsor itu tidak bisa langsung dirasakan saat itu juga, atau dalam waktu dekat. menjadi sponsor itu ibarat investasi, namanya juga investasi maka serta merta hasil yang diingankan blom dapat langsung diukur tapi memerlukan waktu.  Apalagi untuk produk-produk yang termasuk pendatang baru maka sponsorship merupakan budget terbesar yang resiko hilangnya juga sangat besar. Karna biaya untuk membangun awareness sangatlah besar. Efek yang diharapkan natinya ketika smua aware dan dibawah sadrnya penuh dengan nama produk kami maka ketika mereka ingin berbisnis otomatis akan bergerak ke merk kami.

lain kali saya juga di minta untuk memberi tahu pada calon-calon sponsor kami, bahwa hasil pengorbanan dalam menjadi sponsor ada kemungkinan kembali dalam waktu yang lama atau tidak kembali sama sekali. karena sekali lagi menjadi sponsor itu sama dengan investasi pada suatu bisnis.

satu lagi yang diminta oleh team agar para sponsor saya yang kecewa langsung komplain pada saya selaku penanggung jawab atau yang meminta mereka menjadi sponsor secepat dan sesegera mungkin. jika ini terjadi maka kekecewaan bisa dibicarakan langsung tanpa memungkinkan melibatkan pihak ketiga yang gak ngerti apa-apa dan ada peluang untuk memperkeruh suasana karena memang mereka ndak tau apa-apa.

jika para calon-calon sponsor ini tahu resiko mereka tentu hal yang saya alami ini tidak akan terulang lagi.

dan kasus yang saya alami ini semoga bisa menjadi pelajaran berharga buat saya untuk berhati-hati serta gak gegabah dalam berbicara dan bernegosiasi dengan semua pihak, termasuk jika pihak-pihak itu sudah sangat akrab dengan saya….

mantabz kanan!!!!!!!!

Leave a Reply