Ali Sadikin Contoh Gubernur Entrepreneur

Ekonomi Bisnis

[ Selasa, 29 September 2009 ]

Ali Sadikin Contoh Gubernur Entrepreneur

Davao di Filipina tidak sebesar dan seriuh Jakarta. Tetapi trik dan aksi sang Wali Kota, Rodrigo Roa Duterte, bisa menjadi inspirasi bagi kepala-kepala daerah di negeri ini. Dia mirip Letnan Jenderal TNI KKO AL (Purn) H Ali Sadikin yang biasa disapa Bang Ali, saat memimpin DKI Jakarta.


SETIDAKNYA
itulah kesan Ir Ciputra setelah membaca laporan INDO.POS (Grup Jawa Pos) yang ditulis dari Davao. Orang menyebut Rodrigo Roa Duterte sebagai walikota nyentrik, walikota koboi, walikota Django, karakter film koboi era 70-an yang dibintangi aktor Franco Nero. Di mata Ciputra, dia sudah bisa dikategorikan sebagai walikota entrepreneur. Dia sudah menciptakan sesuatu yang baru. Dia berinovasi, berkreasi, berdampak lebih baik, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Rodrigo Roa Duterte bisa sangat tegas. Dia disegani baik oleh kelompok-kelompok revolusioner maupun bandit-bandit yang acap mengacau keamanan. Ciputra pun ingat zaman Jakarta dipimpin Gubernur Bang Ali yang juga kontroversial. Orangnya sangat tegas, berani, dan konsisten. Karena itulah, tidak salah jika dia mendapatkan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana tahun 2003, karena dinilai berjasa luar biasa terhadap negara. Khususnya mengembangkan Kota Jakarta sebagai Metropolitan.

Presiden Soekarno mengangkat putra bangsa kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 ini sebagai orang nomor satu di ibu kota ini, salah satunya karena dianggap “keras kepala.” Pria beralis tegas itu dianggap berhasil, justru karena pembawaannya yang keras itu.

Berkat “kekerasannya” itu, Jakarta memiliki Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Ismail Marzuki (TIM), Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta (PRJ), Gelanggang Mahasiswa, Gelanggang Remaja, dan Pusat Perfilman Usmar Ismail. Jakarta juga memiliki bangunan bersejarah seperti Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik, dan Museum Wayang. Bahkan, berkat kebijakannya, Jakarta mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah, seperti Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda.

Bang Ali dikenang Ciputra sebagai tokoh tergolong beda, berkarakter, keras, temperamental, tapi tetap berkomitmen tinggi pada kemajuan Jakarta. “Saya sempat terkaget-kaget dengan aksi koboinya. Saat saya bangun Atrium Senen, pusat perbelanjaan di pusat Jakarta ada satu orang yang berusaha menghasut. Kasak-kusuk sana-sini, untuk memboikot dan menggagalkan proyek pembangunan mal itu. Saya temui Bang Ali, saya laporkan ini semua,” jelas Ciputra.

Apa yang terjadi? Mantan gubernur yang pernah dianggap “pembangkang” oleh Orde Baru ini langsung berkata: “Kamu jemput dia, saya tunggu di sini (Kantor Gubernur DKI),” kata Ciputra menirukan Ali Sadikin. Tak lama kemudian, orang yang dimaksud datang dan berada di ruang tunggu. Bang Ali keluar dari ruangannya, terus langsung berkata: “O.. Ini to orangnya?!”

Tanpa ba.. bi.. bu.. Tangan kanan Bang Ali menempeleng si pemuda itu. “Tidak mengepal, tidak seperti tinju. Tangannya terbuka langsung mendarat di pipi kirinya. Saya kaget juga, wah begini cara Bang Ali menyelesaikan masalah ya, ” kenang Ciputra.

Bang Ali menatapnya dengan mata tajamnya, sambil menuding dengan telunjuk kanan di depan mukanya? “Kamu mau menantang saya? Itu proyek saya bikin untuk memajukan Jakarta. Sekarang hentikan kasak-kusukmu! Beritahu seluruh staf dan karyawanmu, aku akan ke kantormu di Senen,” katanya.

Dua jam setelah itu, Ali Sadikin betul-betul datang ke kantornya, di Senen. Dia menegaskan sekali lagi, apakah dia masih ingin mengacau? Kalau iya, itu akan berurusan dengan dirinya.

Peristiwa di tahun 1968 itu bukan yang pertama. Dua bulan kemudian, suami Linda Mangaan ini juga membuat aksi koboi lagi. Gubernur yang nyentrik ini kembali menggunakan fisiknya untuk meneguhkan ketegasan sikapnya. Yakni saat menyerbu tukang calo dan tukang catut tiket di stasiun bus.

“Inilah model entrepreneur yang baik bagi pejabat di negeri ini. Bahkan, tulisan di INDO.POS soal walikota Davao itu bisa jadi semacam replika Bang Ali,” kata Ciputra.

“Terus terang, saya sudah sampaikan konsep governance entrepreneur ini kepada Pak Fauzi Bowo, Gubernur DKI. Dia orang baik, dia orang pintar. Tetapi dia sangat gampang marah, jika dikritik. Padahal, kritik itu ibarat cermin. Untuk berkaca, sudah sampai di mana saya,” kata kakek berusia 78 tahun ini.(*/Don Kardono) (jawa pos)

Leave a Reply