30 hari jadi pengusaha

Pada suatu saat di pertengahan tahun 2008 datang suatu tawaran dari sebuah stasiun televisi local di jawa timur datang ke sekertariat Surabaya Entrepreneur Club (sec). Isinya adalah JTV televisi lokal di jawa timur itu mengajak SEC bekerjasama untuk mengadakan sebuah acara reality show yang berjudul 30 hari jadi pengusaha dalam upaya meningkatkan dan menggugah semangat kewirausahaan di jawa timur,

Dalam acara yang akan dikerjakan bersama itu, peserta dan pemirsa akan diajak untuk bersama-sama merubah wawasan atau mindset-nya agar kemudian bisa menjadi pengusaha beneran dalam waktu 30 hari. Dengan kata lain dalam acara ini akan bercerita secara real bahwa jadi pengusaha itu tidak sulit bahkan dapat diwujudkan dalam tempo 30 hari. Tentu saja tidak semua orang dapat jadi pengusaha sukses dan berhasil, banyak hal yang harus dilewati, tapi sekedar untuk jadi seorang pengusaha tidaklah sesulit yang dibayangkan, tidak lebih sulit dari melamar menjadi karyawan sebuah perusahaan misalnya.

Acara yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 2 juni – 2 juli 2008 di surabaya ini free, bebas dari biaya apapun bagi pesertanya. Syarat jadi pesertanya pun mudah yaitu siap menerima tantangan dan musti berusia tidak lebih dari 30 tahun. Perserta yang lolos dari seleksi administasi akan dites wawancara, outbond dan tes mental. Tes itu akan diadakan selama 4 hari. Setelah itu peserta yang berhasil melewati tahap ini akan dikarantina selama 26 hari. Dalam masa karantina ini peserta akan diberi wawasan berupa materi dan praktek bisnis baik berupa games atau praktek sesungguhnya. Mereka akan diberi penjelasan tentang apa itu bisnis, apa itu pengusaha dan masalah – masalah yang akan dihadapi selama jadi pengusaha dan menggeluti dunia bisnis, seperti masalah sumber daya manusia, penjualan, marketing, pengadaan modal, bernegosiasi dan sebagainya. Dalam 26 hari masa karantina itu peserta yang tidak berhasil melewati tantangan akan dieliminasi sehingga hanya tinggal 3 peserta unggulan yang nantinya bisa memperoleh hadiah.

Selama program acara ini para peserta akan dibimbing langsung oleh tujuh orang dari surabaya entrepreneur club. Ke tujuh orang tersebut diberi julukan sapta penggembleng, yang masing-masing adalah :

  1. Hendi Setiono, ownernya Kebab Turki Baba Rafi, julukannya sang motivator
  2. Samurai, ownernya Lavender Triarsan, julukannya sang provokator
  3. Andi Sufarianto, ownernya Virto (virtual office), julukannya sang idealis
  4. Mudji Harmanto, ownernya MD Trans, julukannya sang idealis
  5. Danton Prabawanto, ownernya Jagoanhosting.com, julukannya sang diktator
  6. Riano Dwi Permana, Reng Oneng restoran madura, julukannya sang polarman
  7. Laila Asri ownernya, Pourvous Natural Body Care & Aromatherapy , julukannya sang Victoria

Lima dari tujuh penggembleng ini usianya belum mencapai 30 tahun bahkan ada yang berusia 25 tahun. Mereka memang masih muda-muda tapi dalam berbisnis pengalamannya sudah teruji.

Tentunya pengalaman dari para penggembleng ini tidak diragukan lagi, karena selain sebagai entrepreneur yang merintis bisnisnya masing-masing dari nol mereka ini juga adalah para dedengkot dan motor penggerak SEC yang sudah malang melintang dalam dunia komunitas entrepreneur di Surabaya bahkan virus entrepreneur dari SEC sudah meyebar juga ke beberapa kota di jawa timur.

Selama hampir dua bulan, team dari SEC bekerja sama dengan team dari JTV menyusun konsep tentang acara 30 hari jadi pengusaha. Masalah tersulit dalam menyusun konsep adalah menyamakan persepsi antara kedua belah team yang saling bekerja sama ini. Berbagai pertentangan dan perdebatan seru selalu mewarnai diskusi antara mereka, hal ini terjadi tentunya karena latar belakang kedua team ini jauh berbeda bahkan saling bertentangan.

Team sec terdiri dari para praktisi entrepreneur, mereka itu adalah owner dari binis dan perusahaannya masing-masing. Sekecil apapun skup bisnis mereka, tetap saja mereka menjadi orang nomor satu diperusahaannya.

Dan sebagai entrepreneur jiwa mereka adalah jiwa bebas yang tidak tunduk dan takut terhadap birokrasi. Jadi kadang team dari SEC ini masih bertindak sebagai leader dan owner saat duduk bareng dan berdiskusi dengan team partnernya. Ditambah lagi sebagai praktisi entrepreneur mereka hampir tidak punya gambaran tentang acara on air.

Sedang team dari jtv adalah segerombolan kaum birokrat yang tunduk pada peraturan dan tunduk pada atasannya. Sehingga bila salah satu anggota team yang merupakan leadnya tidak hadir maka diskusi pun menjadi terhambat dan tertunda karena keputusan tidak bisa diambil tanpa kehadiran dan persetujuan sang leader. Leader itupun bukanlah seorang pembuat keputusan, karena di kantornya dia masih punya atasan yang berhak untuk memutuskan sesuatu hal. Memang wajar bila dalam jajaran birokrat selalu berjenjang untuk masalah-masalah kewenangan dan keputusan. Tapi ini jadinya seringkali berakibat pada sebuah diskusi menjadi terkatung-katung karena team jtv tidak berani mengambil sebuah keputusan.

Apalagi team dari jtv sama sekali tidak punya bayangan apapun tentang apa itu yang namanya entrepreneur atau pengusaha.

Berbagai perdebatan seru yang sering terjadi dalam berbagai diskusi antara kedua team ini dalam penyamaan visi diantara mereka. Diskusi diadakan dibeberapa tempat seperti kantornya jtv, dimarkasnya kebab turki babarafi milik hendy setiono dan di virto (virtual office) kantornya andi sufariyanto.

Belum lagi dalam pengambilan gambar untuk promo iklan yang akan ditayangkan di televisi. Grogi melanda ke tujuh penggemleng ini, jadinya take promo musti diambil berulang-ulang karena ternyata seorang penggembleng bisa mengulang-ulang adegan pengambilan gambar sampe 5-6 kali. Para dedengkot SEC ini kemudian baru menyadari bahwa ternyata pengambilan gambar untuk suatu acara tv itu tidaklah gampang, malahan menurut para dedengkot ini pengambilan gambar itu pada prakteknya lebih sulit dari pada bernegosiasi bisnis dengan partner bisnisnya.

Kesulitan-kesulitan terus bermunculan dalam persiapan dan penyusunan konsep acara. Tapi tetep aja profesionalisme dijunjung tinggi disini oleh kedua team tersebut sehingga apapun yang terjadi dalam ruang diskusi tidak dibawa keluar ruangan dan deadline acara yang telah disepakapi bersama tetap terpenuhi.

Walaupun penuh sengketa, perdebatan seru dan perbedaan konsep pemikiran dalam berdiskusi tapi akhirnya pada tanggal yang disepakati bersama kedua team bisa bahu membahu bersama-sama menyelenggarakan acara 30 hari menjadi pengusaha itu.

Leave a Reply