3 kawanku

ini cerita tentang tiga orang teman baik saya yang masing-masing punya karakter yang berbeda, tapi mereka semua punya keinginan untuk berubah dari seorang karyawan menjadi entrepreneur.

yang pertama sebut saja si a,

setahu saya dulu dia ini dalam perusahaan tempatnya bekerja telah memperoleh posisi yang cukup tinggi, tapi dia lebih memilih mengundurkan diri untuk membesarkan perusahaan katering milik keluarganya yang tadinya dikelola oleh sang bunda. dalam perjalanan dia melihat kue-kue buatan bundanya memperoleh perhatian khusus dan banyak disukai oleh para pelangggan. kemudian dengan hitungan yang cermat dia mulai memberanikan diri membuka divisi khusus kue dalam bisnis kateringnya itu dan untuk menunjang penjualan dia pun membuka sebuah toko. memang terbukti enak kue-kuenya sehingga dalam sekejab bisnis ini pun bisa makin memperluas usaha dengan membuka toko kue yang kedua. Itu tidak cukup, tidak puas dengan toko kue dia mulai berniat menambah divisi barunya dengan membuka sebuah rumah makan dan tidak berjalan lama dia sudah punya tiga rumah makan.

si a ini sebenarnya adalah seorang yang cermat dan penuh perhitungan, dia tidak pernah melalukan langkah gegabah dalam menjalankan usahanya, tapi semuanya dipikirkan dengan matang, banyak bertanya dan belajar dari yang ahli seperti konsultan atau ikut berbagai macam pelatihan baru kemudian melakukan action membuka usaha.

walaupun cermat dan penuh perhitungan si a ini punya kencederungan memiliki keberanian lebih karena langkah-langkah ekspasinya tergolong cepat. menurut saya hal ini didasarkan karena secara kondisi ekonomi si a relatif mapan, jadi setelah menghitung dan mempelajari segala sesuatunya dengan cermat si a langsung action, dia tidak terlalu takut dengan resiko karena sudah melakukan perhitungan dengan teliti selain itu si a juga punya dana cadangan yang cukup bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan usahanya.

makanya tampak si a ini berkesan tidak memiliki rasa takut dalam mengembangkan usaha dan usahanya pun cepat beranak pinak.

yang kedua adalah si b,

seperti si a kondisi ekonominya relatif mapan dan dia juga posisi yang cukup tinggi di perusahaan tempatnya bekerja. walaupun sudah punya sebuah toko baju dan perusahaan IT yang cukup bagus pergerakan usahanya, si b ini tetep belum berani meninggalkan statusnya sebagai karyawan. alasannya dia masih belum mempunyai kepercayaan pada dua unit usahanya itu. dia beranggapan dua usahanya itu belum bisa memberikan kepastian penghasilan padanya untuk membiayai semua kebutuhan hidup keluarga. dia merasa gajinya sebagai karyawan masih lebih pasti dan lebih dari cukup dalam memberikan rasa aman dalam menghidupi keluarga dibandingkan semua penghasilan dari bisnis-bisnisnya.

tentang si b yang saya tau, seperti saya juga, karena sama-sama punya took baju. memang bisinis toko baju itu turun naik omsetnya, tapi tolak ukurnya bukan omset bulanan tapi omset bisnis itu pertahun. sedangkan menurut pengamatan saya bisnis it si b sebenarnya bagus banget, walaupun menurut si b sendiri belum setiap bulan mendapatkan omset. tapi sekali mendapatkan order, omset dan keuntungannya dapat menutup 2-3 bulan biaya operasional. yang bikin semuanya belum berjalan baik menurut saya adalah karena si b ini dalam menjalankan roda bisnisnya hanya sebagai sambilan dan dia masih fokus pada pekerjaan utamanya sebagai karyawan di sebuah perusahaan it terkenal. yang namanya bisnis itu jika dijadikan sambilan pasti hasilnya sambilan juga. jangankan bisnis status karyawan jika dijadikan sambilan pasti sulit untuk memperoleh prestasi.

karena ketidak puasan dan ketidak pecayaan pada kedua bisnis tadi si b rajin mengikuti seminar dan berbagai pelatihan dan sering biaya yang dikeluarkan cukup tinggi. tapi ya itu tadi karena semua pelatihan yang diikutinya tidak segera di aplikasikan bisnisnya seolah jalan ditempat. padahal kalo kedua bisnisnya diseriusin dengan sungguh-sungguh, apalagi dengan adanya back up dana yang seharusnya tidak dibelanjakan di seminar atau pelatihan yang menyimpang dari core bisnisnya saya yakin dan banyak teman yang yakin si b ini akan bisa membawa terbang kedua bisnisnya itu.

sedangkan yang ke tiga adalah si c,

walaupun sama-sama karyawan seperti kedua kawanya diatas, memang apa yang diperolehnya tidak sebagus si a dan si b, status karyawannya biasa-biasa saja sehingga penghasilannya juga tidak banyak. sedang keinginannya untuk menjadi entrepreneur agak terhambat karena keterbatasan modal, juga karena pengaruh pengalaman buruknya, si c pernah bangkut dimasa lalu. itu yang membuatnya cenderung berhati-hati dalam bertindak memulai usaha. tapi pada dasarnya si c ini adalah seorang pekerja keras. sehingga walaupun usaha belum jelas kelihatan dan pelatihan yang diikutinya belum bisa secanggih si a dan si b tapi semangat actionnya sangat tinggi. memang si c ini belum memiliki usaha yang tetap dan jelas tapi dari bisnis serabutan yang dikelolanya penghasilan diluar gaji sebagai karyawan mungkin menyamai si b. yang jelas, si c ini tidak ragu mencoba segala sesuatu yang menurut dia mampu dikerjakan untuk memperoleh penghasilan sendiri diluar gajinya sebagai pegawai.

kondisi inilah yang membuat si c tetep betahan sebagai pegawai walaupun dia sudah bosan. rasa takut dan kurang punya rasa percaya diri kalau sebenarnya dia mampu memperoleh penghasilan yang bagus diluar statusnya sebagai karyawan jika dia berani mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.

tiga orang kawan mempunyai tiga latar belakang yang berbeda yang mempengaruhi keberanian mereka masing-masing untuk bertindak sebagai entrepreneur.

masing-masing punya kelemahan dan keunggulan.

sebenarnya saya pribadi yakin si b ini akan jauh bisa meninggalkan dua kawannya itu andaikan dia punya cukup percaya diri dan kesabaran. bisnis itu gak ada yang instan, karena semuanya memerlukan proses dari kecil sehingga menjadi besar, dan semua yang ada pasti mengalami masalah dan hambatan. secara bisnis, perusahaan it si b jauh lebih baik daripada perusahaan si a apalagi dibanding si c. si b punya peluang untuk menjadi yang pertama dan melakukan monopoli dalan bisnisnya karena masih belum ada competitor, apalagi si b sudah mendapat pelanggan kakap yang kalau diolah dia akan bisa membuatnya melejit. sayang si b tidak sabar dan pingin buru-buru menjadi besar serta menghasilkan banyak uang, akibatnya uangnya lebih banyak dihabiskan ikut pelatihan yang belum jelas aplikasinya dalam bisnis si b dan malahan membuat si b terlena serta pelan-pelan berpaling dari bisnis utamanya itu.

sedangkan si a ini walaupun teliti dan termasuk kuat dalam segi modal uang tapi keberaniannya dalam membuka banyak usaha yang hampir bersamaan, bisa jadi menunjukkan bahwa dia tidak terlalu yakin dengan perkembangan bisnis kateringnya. Dengan alas an apapun, membuka bisnis baru walaupun dari core yang sama yaitu kuliner tetap membuat pengelolanya harus meluangkan waktu khusus. dua bisnis yang relatif baru dan dikelola sendiri pastinya bikin waktu dan energinya banyak tersita apalagi masing-masing bisnis punya karakter masalah tak terduga yang berbeda. ini semua menurut analisa saya pribadi, karena saya yakin bila si owner percaya diri dengan bisnis yang digeluti maka dia akan beralih ke diversifikasi usaha yang berbeda pada saat bisnis initinya sudah besar dan cukup sehat untuk bermain-main ditempat lain.

si c adalah karakter mayoritas teman-teman saya. keterbatasan modal membuatnya tidak berani berpindah haluan sehingga yang dilakukan hanyalah mengandalkan bisnis serabutan yang walaupun berpotensi sangat besar intuk maju tapi harus ditemukan dulu alat ungkit yang tepat untuk itu. kerja keras dan kerja keras memang menjadi senjata utama disini.

saya bangga dengan ketiga teman tadi, apapun mereka tetep bersemangat untuk merubah nasib dari karyawan menjadi entrepreneur. saya juga sangat beruntung bisa berkawan dengan ketiga orang itu, sehingga saya bisa berkaca dari mereka apa yang mesti saya lakukan dan apa yang tidak boleh saya lakukan.

akibat dari pergaulan kami itu, saya sudah mulai bisa bersabar dalam menggeluti bisnis saya, saya yakin tidak ada yang namanya bisnis instan. semuanya perlu proses, dan didalam proses itu banyak sekali hambatannya. saya tetep fokus dalam bisnis saya walaupun saya merasa bisnis saya ini jalan ditempat. yang harus saya lakukan hanyalah menemukan kesalahan dan kekurangan saya serta buru-buru memperbaikinya dan selama saya belum bisa menemukannya satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah kerja keras. saya juga menjadi tahu bahwa untuk bisnis tidak melulu keberanian yang di butuhkan tapi kecermatan dan ketelitian juga mutlak dibutuhkan dan keduanya musti seimbang.

terima kasih kawan…….

Leave a Reply