bisa dari lingkungan sekitar kita saja

pada hari jumat malam tanggal 30 januari 2009 jam 20.00 saya diajak oleh teman-teman mahasiswa kkn dari universitas airlangga untuk jadi penyuluh masalah kewirausahaan di sebuah kampung di wiyung.

mereka memberi saya data sekilas kondisi warga di kampung tersebut. rata-rata warga kondisi perekonomiannya lemah dimana banyak kepala keluarga yang tidak punya penghasilan tetap sehingga dalam mencari penghasilan buat keluarga para istri juga ikut aktif bekerja. tingkat pendidikan warga mayoritas tamatan sma yang berakibat banyak pula generasi muda yang menjadi penganguran disitu.

para mahasiswa ini berinisiatif untuk mengajarkan pada warga cara-cara membuat briket yang nantinya bisa digunakan sebagai pengganti gas atau minyak dan dapat pula dijual untuk menambah penghasilan mereka. dimana bahan dasar dari briket ini adalah sampah kering yang pastinya banyak disekitar kampung itu.

sebagai pembuka wawasan warga, maka saya ditugaskan untuk memberikan penjelasan dalam bentuk penyuluhan.

malam itu saya datang ke lokasi dalam guyuran hujan deras yang sudah dimulai sejak siang. dalam acara ini diundang juga seorang penyuluh dari dinas koperasi yang bertugas menjelaskan tentang permodalan.

sepanjang perjalanan saya mencari-cari, materi apa yang sebaiknya disampaikan karena materi yang sudah saya bikin dan saya kirim ke panitia bersifat sangat umum yang saya yakin pasti gak kena bila disampaikan ke warga.

ternyata kampung tempat saya harus beri penyuluhan, tempatnya agak masuk kira-kira 300m dari jalan besar dan yang gak saya sangka di daerah yang hanya berjarak sekitar 300m itu ada sebuah perkampungan yang masih mempunyai sawah dan kebun-kebun yang luas, dimana warganya juga suka memelihara burung merpati terbukti dari banyaknya rumah burung merpati disitu.

dari kondisi itu saya dapat ilham tentang apa yang harus saya sampaikan nanti. saat dipekenalkan dengan aparat kampung yakni pak rt dan pak rw saya mengajak ngobrol mereka tentang burung merpati tadi. rupanya pertanyaan tadi gak terlalu direspon dengan baik, karena kedua bapak-bapak tadi merasa aib bila membicarakan tentang burung dara yang diidentikkan dengan perjudian yang berakibat pada kampung mereka sering digerebeg oleh petugas kepolisian.

walaupun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan saya tetep memulai penyuluhan saya tentang bisnis yang bisa dikaitkan dengan lingkungan sekitar kampung itu.

saya bilang pada warga bahwa lokasi kampung mereka cukup menarik karena tidak jauh darijalan besar tapi masih memiliki sawah dan kebun yang luas dan masih terdapat banyak populasi burung dara. kondisi ini sangat layak buat dijadikan wisata alam dimana mereka cukup merubah pola kerja bakti yang biasa mereka lakukan. yang biasanya kerja bakti hanya sekedar bersih-bersih atau mengecat lingkungan ala kadarnya, sekarang bisa mulai dirubah dengan mulai merapikan rumah-rumah burung dara yang mereka miliki sehingga menjadi bersih dan enak dilihat. apabila kondisi sudah bersih dan rapi maka mereka harus mengundang tamu untuk datang kesitu.

kemudian tamu yang datang ke kampung itu disuguhi atraksi ‘adu doro’ atau adu burung merpati. atraksi ini pastinya sangat menarik bagi warga kota besar disekitar kampung tersebut. saya bilang kemereka, kebanyakan warga kota besar seperti saya belum pernah liat yang namanya burung merpati, seperti apa bentuk sesungguhnya, biasanya warga kota hanya tau ‘burung dara goreng mentega’ saja.

apabila program ini berjalan maka warga selain memiliki lingkungan yang indah juga pasti dapat menghasilkan uang sendiri sesuai dengan prinsip-prinsip kewirausaaan. dengan banyak tamu yang datang warga bisa memungut jasa parkir, uang tanda masuk bahkan bisa menjual makanan dan minuman.

warga mulai tertarik dengan paparan saya, ini terbukti dengan protes seorang ibu yang mengatakan bahwa gak mungkin bikin atraksi adu doro disitu karena pasti akan membuat perjudian marak lagi.

saya kemudian menambahkan, bahwa yang namanya judi itu tidak mungkin dilakukan secara terbuka pasti dilakukan secara sembunyi-sembunyi. perjudian tidak akan muncul bila tamu-tamu yang datang benar-benar bukan hanya dari warga sekitar yang mereka kenal. yang dimaksud dengan tamu-tamu adalah warga perumahan mewah yang tidak jauh dari situ. yang pasti sama dengan saya tidak pernah melihat burung merpati. bila warga-warga elit itu yang datang kesitu menikmati sawah, kebun, melihat rumah merpati dan anak-anak mereka asik berlomba adu doro. kecil kemungkinan akan muncul lagi perjudian disitu.

jawaban ini cukup memuaskan, trus muncul lagi pertannyaan gimana caranya supaya orang luar tau disitu ada wisata alam. saya bilang kemereka bahwa suatu usaha itu harus diwartakan kebanyak orang supaya semakin banyak orang orang yang tahu. cara termurah adalah dengan mengundang wartawan dari media karena wartawan itu juga butuh berita untuk liputan mereka. bila di suatu daerah terdengar suatu hal menarik mestinya wartawan akan datang dengan sendirinya.

contohnya kata saya sering di suratkabar memuat pohon yang aneh bentuknya dengan foto yan besar dan berita yang panjang atau sering pula hanya terdamparnya ikan hiu dipantai bisa masuk halaman depan suatu surat kabar, itu mencontohkan bahwa wartawan pasti mendengar dan kemudian meliput berita-berita yang menurut kita sepele.

supaya tambah dukungan saya bilang harus juga melibatkan aparat sekitar seperti lurah, camat, kapolsek, koramil dan sebagainya.

tugas ini kelihatannya sulit tapi memang tidak ada yang mudah untuk mencapai suatu kemajuan. saya juga bilang ke warga, dengan banyaknya mahasiswa kkn yang datang ini juga bisa dipakai buat melancarkan sarana promosi, karena mahasiswa adalah golongan mahluk pintar yang bisa di manfaatkan untuk bikin proposal ke media atau instansi-instansi terkait. juga bila dalam program kkn-nya biasanya ada acara gotong-royong, nah arahkan para mahasiswa ini intuk merapikan bekupon-bekupon rumah merpati yang ada.

jadi disini semua kepentingan bisa terwujud, mahasiswa bisa kkn sementara warga bisa meminta mereka berfikir untuk mewujudkan program wisata alam disitu.

saya juga bilang ke warga bahwa denga hanya merubah sedikit tampilan dari masakan warung yang biasanya mereka jual bisa meningkatkan harga jual sekian kali lipat. saya beri contoh, jagung bakar bila dijual begitu saja dengan bumbu paling mahal laju 2 ribu tapi jagung bakar itu bisa laku sampai 10 ribu bila penjualan dengan mangkuk kertas yang berisi jagung bakar yang sudah dipipil trus ditambahi sedikit keju dan susu.

berkaitan dengan pembuatan briket tadi, juga bisa dijadikan atraksi yang juga bisa menghasilkan uang. yang tadinya warga dilatih oleh mahasiswa, maka dalam wisata alam warga bisa melatih para tamu untuk bikin briket, karena para tamu itu juga seperti saya gak paham apa yang dimaksud dengan briket, bentuknya seperti apa dan gimana cara bikinnya.

tidak terasa penjelasan yang saya berikan bisa membuat warga bertahan sampai jam 22.30 dan sampai-sampai penyuluh dari dina koperasi tidak kebagian presentasi, beliau hanya kebagian menjawab pertanyaan warga tentang bagaimana cara memperoleh modal lewat koperasi.

dengan bergotong royong seperti gambaran diatas tadi mungkin warga bisa merubah kondisi kehidupan mereka, karena kondisi ekonomi kampung itu pun tidak memungkinkan untuk bisa berbbisnis perseorangan. sebab diawalpun pak rw sudah mengeluh untuk iuran wajib sebesar 10ribu pun warga sering sulit ditagih pembayarannya.

apapun ini semua kembali ke kesadaran dari semua yang hadir apakah masing-masing pihak mau memanfaatkan peluang yang ada dan tidak hanya sekedar menjalankan kewajibannya saja.

Leave a Reply