<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; hutang</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/category/hutang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 08:27:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>jika tidak paham, kedit adalah sebuah perangkap</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/24/jika-tidak-paham-kedit-adalah-sebuah-perangkap/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/24/jika-tidak-paham-kedit-adalah-sebuah-perangkap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 01:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[credit wisdom]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1932</guid>
		<description><![CDATA[Haloo pak, saya  mau tanya, begini pak, kakak saya pinjam uang di bank pakai sertifikat rumah terus katanya kalau sisa angsuran itu mau di lunasi sebelum waktunya maka kakak saya itu malah akan terkena pinalty dan denda dari pihak bank. 
Padahal  cicilan hutangnya  tinggal lima saja lho. Kemudian kakak saya juga dikasih informasi oleh petugas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Haloo pak, saya  mau tanya, begini pak, kakak saya pinjam uang di bank pakai sertifikat rumah terus katanya kalau sisa angsuran itu mau di lunasi sebelum waktunya maka kakak saya itu malah akan terkena pinalty dan denda dari pihak bank. <span id="more-1932"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Padahal  cicilan hutangnya  tinggal lima saja lho. Kemudian kakak saya juga dikasih informasi oleh petugas bank-nya kalaupun sudah dilunasi sertifikatnya juga belum bisa diambil. Saya kurang paham dengan istilah &#8216;belum bisa diambil&#8217; itu yang bagimana sih pak? Lantas apa kira-kira solusinya ya pak? Terima kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang begitulah peraturan dari bank. Kalo kredit ingin kita lunasi bank jarang memberikan diskon tapi malah memberikan sangsi berupa pinalty atau denda. Sebab menurut perhitungan bank, nasabah yang melunasi kredit lebih cepat dari waktu yang sudah disepakati dalam perjanjian akan membuat keuntungan dari pihak bank berkurang. Maka untuk itu nasabah diberikan sangsi pinalty atau denda guna menggantikan keuntungan bank yang berkurang akibat pelunasan sebelum waktunya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Seharusnya setelah kredit dilunasi sertifikat harusnya bisa diambil karena semua kewajiban sebagai nasabah yang berhutang sudah dipenuhi, tapi jika setelah lunas sertifikat tidak bisa diambil kita bisa menuntut bank tersebut karena tidak memberikan dengan segera sesuatu yang menjadi hak kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata pihak bank begini pak, jika kakakku titip uang untuk 5 setoran berarti kakakku harus menunggu 7 bulan lagi untuk bisa ambil sertifikat. Kata bank 5 bulan itu adalah masa sesuai angsuran yang tersisa dan 2 bulan kemudian adalah waktu yang dipakai untuk proses pengembalian jaminan dari bank ke nasabah.</p>
<p style="text-align: justify;">Wah, kok seenaknya gitu ya bank nya bikin peraturan. Kalo menurut saya daripada ribet karena nasabahnya polos dan awam banget mending dibayar sesuai angsuran aja deh daripada kena pinalti dan denda, toh nanti lom bisa langsung diambil juga kan setelah semua lunas lebih cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh kaya gitu ya pak,terima kasih sarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seep&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Haloo pak, saya mau nanya lagi neeh.</p>
<p style="text-align: justify;">Begini pak kakak saya punya hutang tapi sekarang dia pergi ke luar negeri untuk kerja, selama kakak pergi rupanya kakak tidak membayar hutang-hutangnyanya maka akibatnya ada debcoletor (DC) menagih hutang kakak kerumah ibu saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya tanyakan apakah kita sebagai keluarga juga ikut bertanggung jawab untuk membayar hutang-hutyang kakak? Sedangkan kakak saya sudah berkeluarga dan kita benar-benar tidak tahu urusan hutang-hutang itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sesunggu- sungguhnya tidak ada kewajiban seperti itu, tidak ada kewajiban yang mengharuskan pihak keluarga membayar hutang-hutang orang yang tagihannya macet. Hutang macet adalah tanggung jawab dari orang yang berhutang bukan tanggung jawab dari keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Atau minta surat tugas dari bank yang menyebutkan jika si DC yang datang memang ditugaskan oleh bank tersebut untuk menagih ibu, kalo gak bawa surat tugas suruh pergi saja DC-nya karena datang tidak bawa surat tugas dan datang ke tempat yang salah (yang berhutang bukan ibu dan gak ada ditempat) Apabila si DC masih tetep ngeyel segera laporkan saja ke pihak yang berwajib seperti polisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh seperti itu ya pak, tapi katanya dia harus mencapai  target dan DC itu harus setor ke atasan, jadi kemarin saya kasih aja 100rb sedangkan setoran utang kakak harusnya Rp4.720.000,-  karena kurang dari yang seharusnya dibayar maka si DC itu malahan minta tambah uang bensin ke saya terus dia bilang juga kalo bulan depan dia mau datang lagi untuk menagih. Pak jadi kalau DC itu besok-besok datang lagi, saya musti bilang apa ya pak?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang namanya DC pasti harus setor sesuai target itu kan tugasnya sebagai DC, jika target gak terpenuhi atau dia gagal mendapatkan uang maka si DC itu bisa gak dapat komisi padahal rata-rata DC gak punya gaji tapa hanya dapat fee yang dihitung berdasarkan prosentase besarnya tagihan yang berhasil ditagihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu ngasih duit pake tanda bukti setoran gak? jangan-jangan gak pake bulti setoran lagi, jadi si DC malah bisa main-main dengan uang tagihan tadi, jangan-jangan malahan uang yang diterimanya itu gak disetorkan sebagai penerimaan dari nasabah <img src='http://www.samuraijagoan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Apabila  si DC itu sampe minta transport jangan dikasih karena itu bukan kewajiban nasabah, sekali dikasih biasanya bikin ketagihan dan akan datang terus minta uang transport lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Besok-besok kalo datang lagi minta kembalikan aja uang transport yang sudah terlanjur dikasih dan sudah dia bawa trus usir suruh pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang tidak ada bukti setoran pak sama sekali. Baik pak, nanti kalau ada yang datang lagi untuk menagih hutang kakak saya, berarti saya biarkan saja ya pak gak usah saya kasih uang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih ya pak, jadi keluarga tidak harus bertanggung jawab ya pak atas hutang-hutang kakak soalnya kakak masih pakai alamat rumah ibu. Sedangkan dirumah itu, saya cuma tinggal bersama ibu. Kadang kalau saya pergi ibu sendirian saja dirumah, kasihan ibu kadang harus hadapi DC sendirian.</p>
<p style="text-align: justify;">Titipkan aja sama tetangga atau hansip atau satpam supaya ibu ada yg bantu, beri fee pada mereka. Jadi kalo pas ada DC datang para petugas itu langsung bertindak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya pak, terimakasih ilmunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga bermanfaat&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/24/jika-tidak-paham-kedit-adalah-sebuah-perangkap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Nabi Sering Berlindung dari Hutang?</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2010/01/24/kenapa-nabi-sering-berlindung-dari-hutang/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2010/01/24/kenapa-nabi-sering-berlindung-dari-hutang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 04:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[Faedah Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[resiko]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[shallallahu ‘alaihi wa sallam]]></category>
		<category><![CDATA[Success]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1520</guid>
		<description><![CDATA[ 

Dalam sebuah do’a yang dibaca di akhir shalat (sebelum salam), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari dua hal ini yaitu berbuat dosa dan banyak utang.
Bukhari membawakan hadits ini pada pembahasan adzan, sedangkan Muslim membawakan hadits ini pada pembahasan masjid dan tempat shalat.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- //HEADER --> <!-- MAIN NAVIGATION --><!-- JoomlaWorks "Disqus Comment System for Joomla!" Plugin (v2.1) starts here --></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://rumaysho.com/images/stories/uang_3.jpg" alt="" width="115" height="90" />Dalam sebuah do’a yang dibaca di akhir shalat (sebelum salam), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari dua hal ini yaitu berbuat dosa dan banyak utang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukhari membawakan hadits ini pada pembahasan adzan, sedangkan Muslim membawakan hadits ini pada pembahasan masjid dan tempat shalat.<span id="more-1520"></span></p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “<strong>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MASIHID DAJJAL, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYA WAL MAMAAT, ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGROM [Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari adzab kubur, aku berlindung kepada-Mu dari bahaya dajjal, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan hidup dan mati. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari berbuat dosa dan banyak utang].”</strong></p></blockquote>
<p>Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah) mengatakan,</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak utang karena <strong>banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.</strong></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Itulah yang diajarkan oleh suri tauladan kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdoa meminta perlindungan dari kedua hal ini dengan tujuan agar tidak merugi di dunia dan akhirat.<br />
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan banyak utang. Kami juga berlindung kepada-Mu dari kerugian di dunia dan akhirat. AMIN …</p>
<p><span style="color: #0000ff;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Artikel http://rumaysho.com</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Faedah Ilmu: 9 Dzulqo’dah 1429, di Panggang-Gunung Kidul.</span></p>
<div id="ja-mainnav"><span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2877-kenapa-nabi-sering-berlindung-dari-hutang-.html"><span style="width: 76px; height: 21px;">Kenapa </span><span style="width: 48px; height: 21px;">Nabi </span><span style="width: 66px; height: 21px;">Sering </span><span style="width: 108px; height: 21px;">Berlindung </span><span style="width: 41px; height: 21px;">dari </span><span style="width: 76px; height: 21px;">Hutang? </span></a></span></div>
<p><!-- //MAIN NAVIGATION --> <!-- CONTENT --></p>
<div>
<div>
<div>Rabu, 20 Januari 2010 05:00</div>
<div>Muhammad Abduh Tuasikal</div>
<div><a href="http://rumaysho.com/faedah-ilmu.html"> Faedah Ilmu </a> &#8211;   <a href="http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu.html"> Faedah Ilmu </a></div>
<p><!-- Start addthis module --></p>
<div><!-- AddThis Button BEGIN --> <script type="text/javascript">// <![CDATA[
// <![CDATA[
var addthis_pub = 'rumaysho';
var addthis_brand = 'Rumaysho.com';
// ]]&gt;</script> <a onclick="return addthis_sendto();" onmouseover="return addthis_open(this, '',  '[URL]', '[TITLE]'); " onmouseout="addthis_close();" href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/lg-share-en.gif" border="0" alt="AddThis Social Bookmark Button" /></a> <script src="http://s7.addthis.com/js/200/addthis_widget.js" type="text/javascript"></script> <!-- AddThis Button END --></div>
<p><!-- End addthis module --></p>
<div><a title="E-mail" onclick="window.open(this.href,'win2','width=400,height=350,menubar=yes,resizable=yes'); return false;" href="http://rumaysho.com/component/mailto/?tmpl=component&amp;link=aHR0cDovL3J1bWF5c2hvLmNvbS9mYWVkYWgtaWxtdS8xNS1mYWVkYWgtaWxtdS8yODc3LWtlbmFwYS1uYWJpLXNlcmluZy1iZXJsaW5kdW5nLWRhcmktaHV0YW5nLS5odG1s"><img src="http://rumaysho.com/images/M_images/emailButton.png" alt="E-mail" /></a> <a title="Cetak" onclick="window.open(this.href,'win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2877-kenapa-nabi-sering-berlindung-dari-hutang-.html?tmpl=component&amp;print=1&amp;layout=default&amp;page="><img src="http://rumaysho.com/images/M_images/printButton.png" alt="Cetak" /></a> <a title="PDF" onclick="window.open(this.href,'win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2877-kenapa-nabi-sering-berlindung-dari-hutang-.pdf"><img src="http://rumaysho.com/templates/ja_nickel/images/pdf_button.png" alt="PDF" /></a></div>
<div>
<div id="comment_643877733_265648699261_10124078"><a title="Singgih Wahyudiyana" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000004789023"><img src="http://profile.ak.fbcdn.net/v22940/357/45/q100000004789023_5292.jpg" alt="Singgih Wahyudiyana" /></a></p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000004789023">Singgih Wahyudiyana</a></p>
<div id="text_expose_id_4b5bce4c4fba54144939a">bagaimana pandangan Pak Sam tentang ini pak :<br />
<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;8de9bf94b5faae640e42d7d179921c0b&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2877-kenapa-nabi-sering-berlindung-dari-hutang-.html" target="_blank"><span>http://rumaysho.com/faedah</span><span>-ilmu/15-faedah-ilmu/2877-</span><span>kenapa-nabi-sering-berlind</span>ung-dari-hutang-.html</a></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<div>
<div id="profile_stream_container">
<div id="profile_minifeed">
<div id="div_story_1115704969_267837720339"><a title="Sam Urai" onclick="ft(&quot;4:9:74:100000004789023:::0:::267837720339:::5:1:28&quot;);" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1343940194&amp;ref=mf"><img src="http://profile.ak.fbcdn.net/v22941/325/28/q1343940194_2701.jpg" alt="Sam Urai" /></a></p>
<div>
<div style="text-align: justify;"><a rel="dialog" href="http://www.facebook.com/ajax/minifeed/remove_confirm.php?story_id=div_story_1115704969_267837720339&amp;profile_id=100000004789023&amp;story_key=5429984459932105242&amp;story_type=74&amp;handler=prof"><span> </span></a><span><a onclick="ft(&quot;4:9:74:100000004789023:::0:::267837720339:::5:1:28&quot;);" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1343940194&amp;ref=mf">Sam Urai, </a> </span></div>
<div style="text-align: justify;"><span> </span>saya setuju banget pak &#8211; banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia, kalo kita nggak tau mau dipake apa duit hutang itu &#8211; tapi saya tidak setuju jika dilarang berhutang jika kita bisa memanfaatkan hutang itu untuk meningkatkan kesejahteraan diri kita, keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat yang membutuhkan&#8230;<span> </span></div>
<div style="text-align: justify;"><span>semoga berkenan pak atas jawaban saya&#8230;.</span></div>
</div>
<div><a onclick="ft(&quot;25:9:74:100000004789023:::0:::267837720339:::5:1:28&quot;);" href="http://www.facebook.com/walltowall.php?id=1343940194&amp;banter_id=100000004789023&amp;ref=nf"><br />
</a></div>
<form id="commentable_item_1115704969" action="/ajax/ufi/modify.php" method="POST"><span> </span></p>
<div>
<div>
<div id="comment_1115704969_267837720339_10118712"><a title="Singgih Wahyudiyana" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000004789023"><img src="http://profile.ak.fbcdn.net/v22940/357/45/q100000004789023_5292.jpg" alt="Singgih Wahyudiyana" /></a></p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000004789023">Singgih Wahyudiyana</a></p>
<div id="text_expose_id_4b5bc998de4555a7bcc70" style="text-align: justify;">terima kasih pak sam atas pandangannya&#8230; sy sedang membutuhkan pandangan pandangan dari orang2 yang saya anggap akan memperluas pengetahuan saya termasuk pak sam&#8230; karena saya &#8216;terlanjur&#8221; untuk berhutang banyak (untuk ukuran saya)&#8230; sebagian gaji saya saat ini untuk mengangsur hutang2 untuk modal bisnis saya&#8230; tetapi alhamdulillah yang saya dapat jauh lebih banyak&#8230;.<br />
sekali lagi terima kasih dan mohon maaf</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<input name="link_data" type="hidden" value="{&quot;sty&quot;:&quot;74&quot;,&quot;actrs&quot;:&quot;100000004789023&quot;,&quot;fbid&quot;:&quot;267837720339&quot;,&quot;s_obj&quot;:&quot;5&quot;,&quot;s_edge&quot;:&quot;1&quot;,&quot;s_prnt&quot;:&quot;28&quot;,&quot;src&quot;:&quot;9&quot;}" /></form>
</div>
</div>
<div id="profile_pager_container">
<div>
<div><a onclick="ProfileStream.getInstance().showMore();return false;" href="http://www.facebook.com/profile.php?v=feed&amp;story_fbid=267837720339&amp;id=100000004789023#"></a><a onclick="ProfileStream.getInstance().showMore();return false;" href="http://www.facebook.com/profile.php?v=feed&amp;story_fbid=267837720339&amp;id=100000004789023#"><br />
</a></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2010/01/24/kenapa-nabi-sering-berlindung-dari-hutang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>debt collector</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2010/01/02/debt-collector/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2010/01/02/debt-collector/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 19:37:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[Success]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1370</guid>
		<description><![CDATA[ketika tagihan saya macet saya sudah tau bahwa akibat terburuk dari kelalaian saya itu adalah saya akan di datangi oleh debt collector. mereka para debt collector akan mendatangi saya untuk melakukan segala tindakan yang perlu agar saya membayar semua kewajiban saya yang macet itu.
tapi karena saya sudah tau akibat terburuk dari ketidak mampuan bayar saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.fairdebthelpers.com/images/intro-debt.jpg" alt="" width="215" height="113" />ketika tagihan saya macet saya sudah tau bahwa akibat terburuk dari kelalaian saya itu adalah saya akan di datangi oleh debt collector. mereka para debt collector akan mendatangi saya untuk melakukan segala tindakan yang perlu agar saya membayar semua kewajiban saya yang macet itu.<span id="more-1370"></span></p>
<p style="text-align: justify;">tapi karena saya sudah tau akibat terburuk dari ketidak mampuan bayar saya adalah didatenginara debt collector maka dari pertama saya mengambil kredit mental saya sudah saya persiapkan. bukan hanya mental saya saja tapi juga mental keluarga saya terutama mental istri saya. karena kami berdua tahu dan paham akibat kelalaian kami maka apapun yang terjadi saya dan istri harus siap menghadapi para debt collector itu dan siap bernegosiasi dengan mereka. tentu saja dalam hal ini urusan malu dan gengsi dibuang jauh-jauh dari diri kami, toh semuanya sudah terjadi dan semua itu akibat pilihan yang kami ambil saat pertama hendak menjadi etrepreneur. jadi ya sekarang dihadapi sajalah dengan tabah, toh itu juga akibat kesalahan dan kelalaian kami.</p>
<p style="text-align: justify;">sebenernya apasih debt collectot itu.<img class="alignright" src="http://rlv.zcache.com/retired_debt_collector_tshirt-p235020986610664242qw9u_400.jpg" alt="" width="144" height="144" /></p>
<p style="text-align: justify;">secara harafiah artinya adalah tukang tagih, yaitu petugas yang harus mengunjungi si kredit macet dengan harapan mengetahui kondisi si kredit macet beserta kondisi keuangannya. disini si collector biasanya akan memberikan pengertian  mengenai kewajiban si kredit macet dalam hal melakukan pembayaran angsuran, dan yang dijelaskan biasanya mengenai akibat yang dapat ditimbulkan apabila keterlambatan pembayaran tersebut tidak segera diselesaikan. supaya ada kesepakatan pembayaran dengan si kredit macet maka  si collector juga dapat memberikan kesempatan atau tenggang waktu bagi debitur untuk membayar angsurannya, karena tujuan utama dari si collector adalah menerima pembayaran dari si kredit macet.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi jika si kredit macet ternyata tetep tidak memberikan itikad baik untuk melakukan pembayaran maka si collector tersebut  akan melakukan berbagai cara untuk melakukan kewajibannya dan menghadapi tantangan dari si kredit macet. yang dilakukannyapun dalam menggertak si kredit macet agar membayarpun bervariasi mulai dari membentak, merampas dengan paksa dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi disini ada dua kepentingan yang bertabrakan dimana si debt collector harus mengambil uang dari saya karena saya menunggak, sementara saya harus terus menunda pembayaran selama mungkin agar duit yang ada dapat saya putar lagi dalam bisnis, sebab tanpa duit pastinya bisnis saya tidak dapat berjalan normal bahkan bisa mati beneran.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan segala keterpaksaan, ketakutan dan kecemasan saya terpaksa menghadapi para debt yang berdatangan kerumah saya untuk melakukan tugasnya. sedapat mungkin saya tidakmenghindari mereka, saya berusaha untuk menemui mereka sepahit apapun nanti yang terjadi. seperti yang sudah di duga para debt menggunakan berbagai cara untuk menagih saya dan saya pun berbicara apa adanya kepada mereka tentang kondisi saya.<img class="alignright" src="http://dwikisetiyawan.files.wordpress.com/2009/05/teror-debt-collector1.jpg" alt="" width="132" height="165" /></p>
<p style="text-align: justify;">karena saya selalu menemui mereka ataupun kalo saya tidak berada di tempat saya selalu menerima telepon dari mereka saya tidak pernah meneui hal-hal yang tidak menyenangkan dari perilaku mereka. mereka memang rata-rata bertampang sangar dan berusaha berbicara dengan nada tegas pada saya tapi tidak dengan nada membentak-bentak, berbeda engan para penagih yang menagih melalui telepon dan mengatas namakan pegawai bank itu, karena menagih melalui telepon mereka punya kecenderungan untuk berbicara keras, kasar dan cenderung arogan.</p>
<p style="text-align: justify;">justru dengan para debt collector yang dikirim oleh bank ini saya lebih bisa bernegosiasi dan meminta pendapat pada mereka tentang apa yang harus saya lakukan dalam menyelesaikan hutang-hutang saya.  sementara dengan para penagih lewat telepon saya tidak bisa berdialog samasekali kecuali saya dipaksa untuk mendengarkan omongan mereka yang biasanya selalu menyuruh saya membayar kewajiban saya tanpa peduli akan kondisi keuangan saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://3.bp.blogspot.com/_BcGhVfj5kI4/SZRdGoCO2WI/AAAAAAAAAAM/2MBxtLD_v48/S220/off_duty_debt_collector_shirt.jpg" alt="" width="126" height="126" />ada beberapa kewajiban saya yang awalnya tertunggak jadinya bisa saya selesaikan bahkan bisa saya lunasi karena jasa-jasa para debt ini.   langkah-langkah para debt ini biasanya akan membantu memberikan re-schedule ulang dari seluruh hutang saya yang tertunggak, tentunya dengan persetujuan dari bank tempat saya punya kewajiban, atau merka juga menawarkan diskon yang besar kalo saya bisa melunasinya sekaligus. dan yang juga luar biasa jika bank nya tidak ada kebijakan apapun terhadap saya maka mereka menawarkan dulu pembayaran saat tanggal jatuh tempo tiba dengan kesepakatan saya akan membayar pada si debt collector tersebut setelah lewat tanggal jatuh tempo yang sudah kami sepakati bersama. dan itu semua tanpa bunga atau tanpa tambahan biaya apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">dalam kondisi kesulitan financial yang saya alami ini, saya banyak merasa terbantu dengan saran-saran atau solusi yang ditawarkan oleh para debt collector ini. ya saya memang bercerta apaa adanya pada mereka saat mereka datang kerumah untuk menagih termasuk jika saya bener-bener gak punya dana yang di alokasikan buat membayar.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata debt itu adalah teman yang baik saat saya mengalami kesulitan keuangan tapi itu rasanya juga karena perilaku saya yang tidak pernah menghindari mereka dan berusaha tidak pernah melanggar janji dengan mereka. apapun mereka itu juga sama-sama manusia seperti saya yang sama-sama mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. saya berusaha menghormati mereka apapun tingkah mereka, saya yakin mereka tidak akan mungkin selama-lamanya selalu bersikap buruk pada saya, mereka toh punya banyak target yang harus ditagih sementara saya hanya hanya menghadapi para debt collector sesuai dengan seberapa banyak bank yang saya macetkan pembayarannya.<img class="alignright" src="http://rlv.zcache.com/off_duty_debt_collector_mug-p1681294416000957452om5g_400.jpg" alt="" width="144" height="144" /></p>
<p style="text-align: justify;">terganggu pastinya karena setiap hari harus menhadapi dan berbicara serta bernegosiasi dengan debt collector yang berbeda atau yang baru lagi, tapi itu adalah ongkos yang harus saya bayar karena kesalahan saya. saya toh tetep harus menikmati dan menjalani masa sulit ini setelah sekian lama menikmati indahnya dana kredit dari bank. semuanya harus seimbang dan saya yakin saya mampu menghadapinya karena ada janji allah yang hanya memberikan cobaan sebatas seseorang itu mampu menghadapinya.</p>
<p style="text-align: justify;">resiko kedit macet adalah didatangi debt collector, resiko didatangin debt collector adalah terganggu dan malu. tapi itu semua terjadi karena memang resiko itu yang akan saya hadapi karena kesadaran saya saat bermain kredit. jadi apapun yang terjadi saya harus bisa dan mampu menghadapi dan bernegosiasi dengan para debt collector itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2010/01/02/debt-collector/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rapot merah</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/11/25/rapot-merah/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/11/25/rapot-merah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 18:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tahanan]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[terbelenggu]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[universitas Ciputra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[saya pernah diberitahu oleh seorang mentor entrepreneur saya tentang istilah &#8216;pengusaha itu selalu butuh duit buat menjalankan roda usahanya, sedangkan bank itu selalu melihat kredibilitas dalam mengucurkan dana kreditnya&#8217;
itu memang bener banget dan semua orang juga sudah tau, sebab memang itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. siapa sih yang gak mau main aman dalam mengelola [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1641" title="DWS-Raport" src="http://www.samuraijagoan.com/wp-content/uploads/2009/11/DWS-Raport-150x150.jpg" alt="DWS-Raport" width="150" height="150" />saya pernah diberitahu oleh seorang mentor entrepreneur saya tentang istilah &#8216;pengusaha itu selalu butuh duit buat menjalankan roda usahanya, sedangkan bank itu selalu melihat kredibilitas dalam mengucurkan dana kreditnya&#8217;<span id="more-1246"></span></p>
<p style="text-align: justify;">itu memang bener banget dan semua orang juga sudah tau, sebab memang itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. siapa sih yang gak mau main aman dalam mengelola uangnya apalagi jika uang tersebut harus dipinjamkan ke pada pihak lain yang notabene belom dikenal. disisi lain beneran saya ngerasain sendiri saat menjadi pengusaha bahwa memang harus mengeluarkan duit dulu buat mendapatkan duit yang lebih gede lagi, yang pada akhirnya disebut profit.</p>
<p style="text-align: justify;">jadinya seperti lingkaran yang tidak berujung pangkal &#8211; seperti sebuah jargon tentang mana yang terjadi duluan telur atau ayam -</p>
<p style="text-align: justify;">nah dalam kondisi yang begini ini terjadilah adu kepinteran antara pengusaha dengan pihak bank. yang satu supaya kredit buat modal usahanya bisa keluar, sedang yang satunya berupaya agar saat pencairan kreditnya aman dan terbayar sampai lunas.</p>
<p style="text-align: justify;">sebenernya para pengusaha itu tertutama yang bener-bener menggantungkan hidupnya dari bisnis juga gak akan mau main-main dengan uang modal apalagi uang itu hasil dari kredit.  pengusaha tetep punya keingian agar dirinya bisa mengembalikan uang hasil kredit yang diputer dibisnisnya itu tepat pada waktu jatuh tempo.  tujuannya agar semakin dipercaya oleh perbankan sehingga nilai kredit yang diperolehnya dapat naik terus. saya yakin hampir tidak ada pengusaha yang saat mendapatkan uang kredit memang berniat tidak baik untuk membawa kabur duit tersebut.<a href="http://2.bp.blogspot.com/_2zPvcfD1gvM/SmCe0t9xrgI/AAAAAAAAAFA/jLbinrtKQK8/s400/terbelenggu.jpg"><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/_2zPvcfD1gvM/SmCe0t9xrgI/AAAAAAAAAFA/jLbinrtKQK8/s400/terbelenggu.jpg" alt="" width="192" height="144" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">saya juga termasuk yang punya cita-cita mulia itu.  saya juga ngalamin sulitnya mendapat kepercayaan dari bank untuk memperoleh pinjaman walaupun dalam perjalanan bisnis saya, pada akhirnya uang bank yang saya kelola cukup besar. duit kredit itu bukan dibuat main-main atau buat foya-foya tapi beneran diputer dalm bisnis, sekitar lima tahun saya kelola bisnis saya dengan uang hasil kredit itu, hasil yang saya peroleh sangat baik sehingga kepercayaan bank pada saya semakin besar sehingga limit kredit saya selalu naik setiap tahunnya. dan naiknya juga gak tanggung-tanggung selalu dengan plafond yang sangat bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">saya juga gak ada niatan buat ngemplang duit itu. tapi tidak ada seorangpun yang menduga jika diakhir tahu 2008 dan diawal tahun 2009 terjadi krisis ekonomi dunia. dimana-mana timbul masalah terutama dikalangan perbangkan. efek dari masalah tersebut, dunia pebankan mengencangkan sabuknya dalam pengucuran kredit. nah kalo bank sudah mengencangkan pengucuran kreditnya yang paling kena imbas adalah para pengusaha, termasuk saya.  tidak ada lagi dana yang bisa diharapkan untuk memutar roda bisnis sambil menunggu tagihan cair atau membeli barang dagangan yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">duit kredit dari bank tidak turun, roda bisnis semakin pelan muternya dan pembayaran tagihan dari  relasipun semakin tertunda, sehingga berakibat fatal bagi bisnis saya. tadinya saya pikir itu hanya terjadi pada diri saya akibat kebodohan saya dalam mengelola bisnis. ternyata saat saya mengeluh dan sharing pada banyak teman, merekapun mengalami kondisi yang sama dengan saya, bahkan seringkali terjadi kondisi mereka lebih parah dari saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan kondisi rumit ini sebagai entrepreneur saya kan gak pingin mati sia-sia dalam waktu cepat. saya harus bisa bertahan memperkuat pondasi bisnis saya sehingga bisa melawati masa sulit ini. pemasukan yang berkurang membuat pengaturan cash flow dalam bisnis harus ektra hati-hati dan mau tidak mau saya juga akhirnya harus mulai menunda pembayaran tagihan-tagihan yang jatuh tempo. duitnya bukan dibuat macem-macem tapi tetep dipakai buat muterin usaha.  dulu duit yang dipake muterin bisnis, selain dari keuntungan usaha, saya dapat juga dari kredit bank.  tapi sekarang karena kredit bank tidak turun lagi maka duit yang saya pake sebagai ganti dari kredit bank adalah duit yang seharusnya digunakan untuk membayar tagihan yang sudah jatuh tempo.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://endangar.files.wordpress.com/2009/07/borgol2.jpg"><img class="alignleft" src="http://endangar.files.wordpress.com/2009/07/borgol2.jpg" alt="" width="180" height="128" /></a>saya yang tadinya selalu bayar tagihan tepat waktunya kini mulai menunda pembayaran, sehingga beberapa tagihan yang sudah jatuh tempo tidak terbayar saat jatuh temponya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya kira ini bisa ditolerir karena toh saat tagihan bulan ini tidak saya bayar, saya sudah terkena  denda dan tambahan bunga akibat keterlambatan pembayaran tagihan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">saya memang pernah kerja di salah satu bank asing saat baru lulus kuliah dulu, jadi sedikit banyak saya paham  apa yang terjadi bila saya gak bayar tagihan tepat pada waktunya. hukuman bagi seorang yang tidak bayar tagihan tepat pada waktunya ke bank adalah tidak hanya terkena bunga berbunga plus denda saja tapi juga tercatat dalam laporan negative di bank indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">ini yang terparah, masuk catatan negative bak indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">tadinya saya agak meremehkan sangsi terakhir. sansi bunga berbunga juga saya remehkan yang saya paling khawatir adalah datangnya para tukang tagih kerumah atau kekantor saya. debt kollektor yang datang itu yang paling saya khawatirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata kekhawatiran saya salah besar.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti bunga berbunga dan denda, debt kollektor ini ternyata bisa saya tangani.  mereka akhirnya menjadi kawan baru saya, bahkan  beberapa diantara debt kollektor itu menjadi kawan baik saya dan menjadi partner bisnis saya.</p>
<p style="text-align: justify;">catatan negative bank indonesia yang tadinya saya remehkan ternyata ini merupakan masalah terbesar yang saya terima. yang kelihatannya remeh ini justru yang paling menghancurkan efeknya dan paling berbahaya. tadinya saya beranggapan jika keterlambatan saya dalam pembayaran tagihan mulai diselesaikan pelan-pelan maka catatan itu akan membaik dengan sendirinya, memang prosesnya lama seiring dengan pembayaran saya, itu yang ada dalam pikiran saya.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata yang terjadi sangat mengerikan. catatan negative saya memang membaik tapi tetep saja nama saya sebagai penunggak kredit di bank gak bisa hilang begitu saja. bank tetep tidak percaya terhadap saya walaupun catatan di bank indonesia mulai menunjukkan kemajuan dalam pembayaran.</p>
<p style="text-align: justify;">untuk menjaga supaya saya gak bertambah macem-macem, walaupun saya sudah mulai membayar tagihan nya lagi, bank menutup akses saya di semua jalur kreditnya.  seperti misalnya, jika pinjaman tanpa agunan saya tertunggak maka kartu kredit saya di bank yang sama dan dalam status lancar pembayarannya tetep diblokir oleh bank, sehingga gak bisa saya pakai lagi. mungkin sistem di bank dibuat begitu supaya kerugiannya gak bertambah. tapi akibatnya sangat fatal buat saya, akses pendanaan saya di perbankan semakin tertutup.</p>
<p style="text-align: justify;">efek lainnya, rekening yang ada uangnya juga di blokir sepihak, dan dananya dipakai untuk membayar tagihan tertunggak di bank tempat saya punya rekening yang diblokir itu. dan yang terparah beberapa fasilitas perbankkan yang tadinya saya terima sebagai nasabah mulai ditarik,  karena saya punya masalah dengan bank mereka. artinya semua jalur hubungan saya dengan dunia perbangkan ditutup.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan begitu habislah saya. <a href="http://buntomijanto.files.wordpress.com/2008/05/tidak-bebas.jpg"><img class="alignleft" src="http://buntomijanto.files.wordpress.com/2008/05/tidak-bebas.jpg" alt="" width="169" height="187" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">bukan hanya saya, istri sayapun terkena imbasnya, sebagai istri yang bersuamikan seseorang yang punya masalah kredit dengan bank maka diapun dianggap berbahaya pula. akses kreditnya pun ditutup, walaupun statusnya di catatan bank indonesia baik.</p>
<p style="text-align: justify;">modal kerja yang selama ini bergantung dari bank terputus tus tanpa toleransi, bukan hanya di bank yang bersangkutan tempat kredit macet saya, tapi disemua bank di indonesia,  yang mengakses data diri saya berdasarkan rapot merah saya dalam catatan negative bank indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">yang dulu saya mudah dapat fasilitas, saya sekarang seolah-olah menjadi mahkluk mengerikan dan berbahaya yang harus dijauhi semua bank. kalo pingin membela diri sendiri saya bisa berteriak &#8220;itu kan bukan kemauan saya, saya hanya salah satu korban dari krisis, tapi kenapa akibat yang saya tanggung sedemikian berat, lagian saya kan juga terus membayar semua kewajiban saya yang ada di bank&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">jadi cengeng memang akhirnya saya. tapi itu juga jadi salah satu tantangan lagi buat saya untuk tetep bertahan hidup dan mempertahankan perputaran roda bisnis untuk menghidupi keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">tidak ada toleransi &#8211; itu bila kita berhadapan dengan sistem komputer &#8211; sekali jelek ya tetep jadi jelek &#8211; karena yang menilai sistem. tapi kalo pikiran positif ini tetep bekerja dengan baik, otak saya juga akan bilang kalo ada teman saya yang minjem duit ke saya pembayarannya tersendat saya juga akan ekstra hati-hati pada pinjaman berikutnya bahkan bisa jadi tidak akan saya beri pinjaman lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_yxgqRm-MiFI/SUZC-H4oBiI/AAAAAAAAArU/N0INJYJqkLg/s320/a+woman+hiding+behind+her+turtle+nect.jpg"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_yxgqRm-MiFI/SUZC-H4oBiI/AAAAAAAAArU/N0INJYJqkLg/s320/a+woman+hiding+behind+her+turtle+nect.jpg" alt="" width="115" height="151" /></a>saya pikir-pikir lagi, ternyata apa yang ada dalam otak saya hampir sama dengan sistem di bank. bahkan seringkali terjadi hal ekstrem dalam penagihan jika pinjamannya kepada investor perseorangan. selain mereka tidak mau tahu tentang kondisi apapun yang bikin pembayaran tagihannya tertunda sering juga diiringi dengan kekerasan fisik.</p>
<p style="text-align: justify;">antara mangkel, sebel dan bersyukur bahwa saya walaupun sudah putus hubungan dengan perbangkan tetep tidak pengalami hal-hal buruk seperti yang sering di suguhkan dalam sinetron di televisi jika ada seseorang yang mengalami kredit macet.</p>
<p style="text-align: justify;">jangan menyerah &#8211; masih banyak jalan &#8211; karena kalo gak bisa lewat jalan besar masih tersedia jalan tikus, jalan rahasia atau jalan di bawah tanah.</p>
<h3 id="comments">3 Responses to “rapot merah”</h3>
<ol>
<li id="comment-3735"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/89640379869f7e29edf79a9371627c9d?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>yoga EU31 sby</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-3735">December 9th, 2009 at 12:55 pm</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=3735">edit</a></small>hebat…kisah yang memotivasi!!!<br />
Trims</li>
<li id="comment-4382"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/5a818cb7e407a1d86a3bb565788736f9?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>hilman</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-4382">January 4th, 2010 at 9:15 am</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=4382">edit</a></small>Pak Sam, spertinya saya akan mengalami kejadian seperti itu.</li>
<li id="comment-4383"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/5a818cb7e407a1d86a3bb565788736f9?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>hilman</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-4383">January 4th, 2010 at 9:26 am</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=4383">edit</a></small>wah, kayaknya ntar lagi saya ngalami itu pak, kasih advise ya pak</li>
</ol>
<ol>
<li id="comment-6307"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/075848ccf8d74b0aee1bdbf30139b457?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>seruni 12</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-6307">March 11th, 2010 at 2:52 pm</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=6307">edit</a></small></p>
<p style="text-align: justify;">saya py pengalaman yg sm, hanya telat sekali, bank udah telpon2, masih untung, teman sy sampe didatangi dept coll yg tdk sopan sampe rumah mo kantor, bikin hidup tdk nyaman. mulai saat itu jd males kalo hub dg bank. tekadku memperkuat basis modal usaha, pikir2 kalo tdak pinjam ke bank sebenarnya kita udah punya usaha bank sendiri dg minimal nasabah satu orang yaitu diri kita sendiri. klo emergency skali baru cari bank lain. lagian bank di sini kurang menarik bunganya tinggi banget 12-13%, bandingkan dgn di cina yang cuma1/3 nya, bhkn kurang, disebtkan bunga bank di indonesia masuk tertinggi di dunia, bgmn kita bisa bersaing dgn pengusaha cina? ini tidak adil. BI perlu direformasi</p>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/11/25/rapot-merah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bunga</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/10/06/bunga/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/10/06/bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 17:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[bunga]]></category>
		<category><![CDATA[bunga bank]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[hawa]]></category>
		<category><![CDATA[kaum hawa]]></category>
		<category><![CDATA[otak kanan]]></category>
		<category><![CDATA[prosentase]]></category>
		<category><![CDATA[rate]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=960</guid>
		<description><![CDATA[bunga adalah sesuatu yang indah dan wangi, enak di pandang dan nikmat di cium baunya. oleh karenanya bunga sangat disukai oleh banyak orang terutama oleh kaum hawa. tapi bunga yang saya maksud ini berbeda, bunga yang satu ini tidak disukai oleh orang kebanyakan. bahkan cenderung untuk di hindari dan itu gak peduli lagi dengan jenis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://infosyiah.files.wordpress.com/2008/03/bunga.jpg"><img class="alignleft" src="http://infosyiah.files.wordpress.com/2008/03/bunga.jpg" alt="" width="130" height="128" /></a>bunga adalah sesuatu yang indah dan wangi, enak di pandang dan nikmat di cium baunya. oleh karenanya bunga sangat disukai oleh banyak orang terutama oleh kaum hawa. tapi bunga yang saya maksud ini berbeda, bunga yang satu ini tidak disukai oleh orang kebanyakan. bahkan cenderung untuk di hindari dan itu gak peduli lagi dengan jenis kelamin, pria atau wanita rata-rata tidak menyukainya dan cenderung menghindarinya.<span id="more-960"></span>bunga yang saya maksukan adalah bunga bank.</p>
<p style="text-align: justify;">kenapa saya teringat sama bunga yang nyebeliin ini. sebabnya adalah suatu pagi saya di telepon seorang senior saya dari luar kota, beliau meminta pendapat saya tentang penawaran kredit dari suatu bank bumn. beliau ini tertarik untuk mengambilnya sebab beliau sadar sekali tanpa bantuan kredit perbangkan bisnis yang sedang dikelolanya akan sulit untuk diajak berlari. sedangkan untuk mengambil kredit itu beliau merasa sangat sakit hati saat menghitung jumlah bunga yang dibebankan kepada beliau, selama masa angsuran yang sekitar tiga tahun. padahal beliau ini sudah mendapatkan fasilitas spesial rate,  yaitu gak sampai satu persen bunga perbulannya. hal itu disebabkan beliau termasuk nasabah binaan bank tersebut yang terbaik.</p>
<p style="text-align: justify;">saya cuman bisa ngasih saran sama beliau, bahwa prinsip utama saya kalo minjem duit or ngajuin kredit ke bank adalah tidak pernah sekali-kalinya  yang namanya ngeliat dan ngitung bunganya. ngelirik aja gak pernah! yang saya selalu liat adalah jumlah angsurannya. kalo jumlah angsurannya menurut otak dan hati saya mampu saya bayar, maka saya ambil kredit tersebut. tapi jika saya rasa saya tidak mampu maka saya batalkan pengajuan kredit tersebut.<a href="http://www.matanews.com/wp-content/uploads/suku_bunga.jpg"><img class="alignright" src="http://www.matanews.com/wp-content/uploads/suku_bunga.jpg" alt="" width="144" height="108" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">saya ikuti intuisi saya, karena saya yakin kalau intuisi saya bilang bisa maka insyaallah saya benar-benar bisa. saya selalu ikuti intuisi positif saya. total jumlah bunga selalu saya tidak hitung karena pasti bikin sakit hati. saya hanya cukup mengetahui besaran prosentase bunga yang harus saya tanggung. itu saja sudah sangat cukup buat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">kenapa begitu?</p>
<p style="text-align: justify;">pikiran saya biasanya simple aja, besaran bunga bank berkisar antara 1% sampai 2,75%. yang sekitar satu persen biasanya pinjaman dengan jaminan, jaminannya biasanya property dan yang diatas itu biasanya pinjaman tanpa agunan alias KTA atau kartu kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">sedangkan margin keuntungan dari suatu bisnis antara 3% sampai 10% untuk jasa dan perdagangan (ini hitungan versi saya sendiri lho, kalo gak setuju ya monggo kerso) bisa sampai 12,5% atau bahkan lebih tinggi dari itu  bila produknya makanan atau minuman.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi menurut saya selisih dari bunga dan margin keuntungan masih cukup jauh. bila bisnis kita dikelola dengan baik dan benar, maka margin keuntungan sangat bisa untuk menutup pembayaran bunga plus pokok pinjaman yang menjadi beban kita setiap jatuh tempo.</p>
<p style="text-align: justify;">itu saja cara yang saya selalu gunakan buat ngeboongin atau membodohi otak pintar saya. jika otak pintar saya bilang, dengan besaran prosentase sekian yang musti saya tanggung saya mampu membayar maka otak pintar itu akan bikin hati saya tenang dan kemudian saya bisa bekerja tanpa beban untuk menutup semua tanggung jawab tadi. tapi jika otak pintar ini bilang saya gak akan mampu dan saya tetep nekad melakukannya dijamin saya pasti bener-bener gak mampu.</p>
<p style="text-align: justify;">ada lagi cara saya buat ngeboongin otak pintar saya. saat saya mengetahui besaran prosentase bunga kredit usaha maka saya selalu membandingan dengan bunga kredit kepemilikan rumah (kpr) atau mobil (kpm).</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sripoku.com/foto/berita/2009/7/8/8-7-2009-bis55991_ilustrasi_suku_bunga.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.sripoku.com/foto/berita/2009/7/8/8-7-2009-bis55991_ilustrasi_suku_bunga.jpg" alt="" width="144" height="108" /></a>saya bilang sama otak saya, &#8220;tidak ada satupun manusia yang menyesal telah mengambil kpr selama lima belas atau bahkan dua puluh tahun dengan bunga yang besarannya sama ataupun diatas satu persen, padahal kalo dihitung totalnya selama puluhan tahun itu pasti mengerikan jumlah bunganya, atau tidak ada yang menyesal telah mengansur kpm selama maksimal empat tahun dengan besaran bunga yang hampir sama&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">kok bisa gitu ya.</p>
<p style="text-align: justify;">padahal semua orang pasti tahu dan paham, bahwa harga mobil itu selalu turun jauh nilainya pada saat kredit mobil itu lunas dalam kondisi apapun.  atau pada saat mobil itu dijual pasti harganya jauh banget dari harga pada saat mobil itu dibeli.  tapi tetep saja lebih banyak orang yang membeli mobil secara kredit daripada yang secara tunai. kalo kredit rumah masih mending, sebab harga jualnya dalam kondisi normal dan tenang selalu pasti lebih tinggi dari harga saat dibeli walaupun selisih antara harga beli tunai dan beli kredit sangat jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">hampir tidak ada orang yang sakit hati saat kredit rumah atau mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">kenapa bila kita melakukan kredit yang dua tadi pikiran dan perasaan kita tenang,  sedangkan jika melakukan kredit usaha rasanya lebih sakit hati?</p>
<p style="text-align: justify;">kalo saya bilang otak pintar kita sudah senang duluan karena yang tadinya tidak punya rumah atau mobil dengan cara kredit jadinya kemudian bisa memiliki benda-benda yang diidamkan tersebut. secara tidak langsung kita sudah mengalihkan perhatian otak pintar kita pada hal-hal yang menyenangkan,  jadinya otak pintar kita lupa akan total jumlah bunga yang bisa bikin sakit hati dan semua resiko yang bakal dihadapi bila kita gagal bayar.</p>
<p style="text-align: justify;">mengalihkan perhatian otak pintar pada hal-hal yang menyenangkan adalah salah satu bentuk cara membodohi otak pintar kita.<a href="http://www.sripoku.com/foto/berita/2009/6/2/2-6-2009-bisBunga%20bank2.jpg"><img class="alignright" src="http://www.sripoku.com/foto/berita/2009/6/2/2-6-2009-bisBunga%20bank2.jpg" alt="" width="298" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">saya rajin membodohi otak pintar saya dalam segala hal, terutama dalam hal kredit. saya alihkan perhatiannya dengan hal-hal yang menyenangkan, saya alihkan perhatiannya dengan besaran prosentase keuntungan, saya alihkan perhatiannya dengan kegunaan atau fungsi sesuatu yang bisa saya beli dengan cara kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">saya rajin sekali membodohi otak pintar saya, yang rajin berpikir rasional, tapi takut mengambil resiko itu, dengan cara mengalihkannya pada hal-hal positif dari tindakan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">pengalaman yang sudah saya alami selama ini, bikin saya yakin bahwa bila otak pintar kita sudah biasa dibodohi dengan hal-hal positif maka saya akan berani bertindak (tetep dengan kehati-hatian tentunya), tidak takut-takut dan tidak gampang sakit hati.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi takut dan sakit hati terhadap bunga bank, jauh deh itu dari saya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/10/06/bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Entrepreneur Sukses Harus Pelihara Takut</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/08/25/entrepreneur-sukses-harus-pelihara-takut/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/08/25/entrepreneur-sukses-harus-pelihara-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 16:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[ciputra]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[citraland]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=733</guid>
		<description><![CDATA[













Ekonomi Bisnis


[ Selasa, 25 Agustus 2009 ]
Entrepreneur Sukses Harus Pelihara Takut
Tidak ada orang yang tidak punya rasa takut gagal dalam berbisnis. Sehebat apa pun? Sesempurna siapa pun? Takut itu hal yang amat manusiawi. Semua orang mengalaminya, termasuk Ir Ciputra, konglomerat yang sudah kenyang dengan asam-garamnya pengalaman.
&#8212;
PERTANYAAN Retno Hartati, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen STIM YKPN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="underbanner">
<div><img class="alignleft" src="http://warisancoetomocoid.files.wordpress.com/2009/03/eoy_2007_winner_trophy_-_ciputra1.jpg" alt="http://warisancoetomocoid.files.wordpress.com/2009/03/eoy_2007_winner_trophy_-_ciputra1.jpg" width="98" height="140" /></div>
<div><img src="http://www.jawapos.co.id/imgs/selalauadaygbaru.jpg" alt="" /></div>
<div>
<form>
<input size="30" type="text" />
<input type="button" value="search" /></form>
</div>
</div>
<div id="konten">
<div id="kolom1">
<div>
<div>
<div class="judulbesar">
<div>Ekonomi Bisnis</div>
</div>
</div>
<div class="tglgray">[ Selasa, 25 Agustus 2009 ]</div>
<div class="judulsedang"><strong><span style="color: #ff0000;">Entrepreneur Sukses Harus Pelihara Takut</span></strong></div>
<div class="textsedang">Tidak ada orang yang tidak punya rasa takut gagal dalam berbisnis. Sehebat apa pun? Sesempurna siapa pun? Takut itu hal yang amat manusiawi. Semua orang mengalaminya, termasuk Ir Ciputra, konglomerat yang sudah kenyang dengan asam-garamnya pengalaman.<span id="more-733"></span><br />
&#8212;</p>
<p><strong>PERTANYAAN</strong> Retno Hartati, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen STIM YKPN Jogjakarta itu cukup menyentak. &#8220;Bagaimana bapak mengatasi rasa takut dalam berbisnis ? Takut gagal? Takut bangkrut? Takut apa yang sudah dibangun sekarang ini ambruk?&#8221; tanyanya dalam seminar bisnis bersama Ciputra di Surabaya awal bulan lalu. Ciputra pun memuji pertanyaan itu.</p>
<p>Ujian terberat bagi seorang entrepreneur adalah bangkit setelah jatuh. Mengembalikan kejayaan, ketika sedang dirundung kebangkrutan. Dan itu pernah dialami Ciputra saat krisis moneter 1997-1998 lalu. &#8220;<em>Practically</em>, krisis ekonomi itu membuat perusahaan saya bangkrut. Karena nilai dolar AS melonjak tajam hingga Rp 16 ribu, proprerti menjadi sektor yang paling terimbas badai krisis itu,&#8221; aku Ciputra.</p>
<p>Untung, lanjut dia, dengan prinsip-prinsip entrepreneurship, perusahaan bisa pulih<em> </em>lebih cepat dari yang diduga sebelumnya. Tentu dengan melakukan perubahan-perubahan ekstrem dalam kebijakan bisnis. Setelah berbenah selama hampir 10 tahun, tahun 2009 ini, empat perusahaan anggota Grup Ciputra, masuk nominasi terbaik nasional dalam lima besar dari lebih dari 23 perusahaan yang diteliti. Bahkan, salah satunya meraih juara pertama. Penghargaan itu melalui perhitungan yang detail, dan dilakukan oleh sebuah media bisnis.</p>
<p>Bahkan, omzet group yang di bawah pengelolaan Ciputra ini mencapai Rp 16 triliun selama satu tahun. Dari omzet itu, laba yang diperoleh mencapai Rp 1,6 triliun di tahun 2008, atau <em>proftl on sales</em>-nya 10 persen. &#8220;Musuh utama bagi entrepreneur muda adalah <em>overconfidence</em>. Kepercayaan diri yang berlebihan. Terlalu pede. Itu bisa menjadi penyakit yang bisa meruntuhkan semua yang ada,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Mengapa? &#8220;Itu yang pernah saya alami. Saya dipercaya bank untuk mengambil kredit dalam angka yang sangat besar, karena <em>track record</em> saya di bank selama ini sangat baik. Tidak ada kredit macet, semua <em>on progress</em>. Bank rela memberi kredit dengan angka yang spektakuler. Kala itu saya ambil banyak, karena hitungan di atas kertas, sangat menguntungkan. Saya yakin, dengan dikasih bunga 15 persen, maka return paling jelek 20 persen lebih. Sudah ada selisih 5 persen, karena itu saya sangat berani,&#8221; aku Ciputra.</p>
<p>Apa yang terjadi? Resesi menghantam dunia, termasuk Indonesia, ekonomi global tiba-tiba terserang sakit, suku bunga bank naik, sementara daya beli masyarakat jatuh. Harga bahan baku naik. Properti seperti tercekik kiri kanan. &#8220;Utang kami 20 kali dari kemampuan sales-nya. Tetapi sekarang berbalik, sales-nya 20 kali dari utangnya. Jadi tumbuh menjadi perusahaan yang sangat sehat,&#8221; tandasnya.</p>
<p>Mengapa bisa segera bangkit? Jawabannya: <em>Entrepreneurship!</em> Kuncinya ada di inovasi. Nyawanya ada di kreativitas. Prinsipnya, harus jeli melihat ada udang di balik batu. &#8220;Spirit inilah yang saya jadikan budaya perusahaan. Harus selalu bisa melihat ada peluang-peluang di setiap sisi,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Karena itu, &#8220;takut&#8221; itu harus tetap ada. Bahkan, takut itu harus dipelihara sebagai rem. Ibarat mobil yang melaju cepat, juga harus memiliki rem yang pakem, agar tidak gampang terjerumus ke jurang. Hanya Superman yang tidak bisa jatuh dan tidak pernah kalah. Manusia normal, pasti menghadapi gelombang naik turun. &#8220;Jadi takut pun harus proporsional. Terlalu takut tidak bisa maju, karena juga bisa takut berinovasi. Terlalu berani, juga bisa menabrak batas-batas yang bisa berakibat jatuh bangkrut,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Apa yang harus dipersiapkan? Itu yang paling penting. Ada yang namanya <em>risk managemen</em>, atau manajemen risiko. &#8220;Kami menggunakan jasa konsultan manajemen risiko itu, yang melihat struktur keuangan, sumber daya manusia, risiko kebakaran, risiko material, dan lain-lain. Ini perlu untuk mempersiapkan diri jika ada tanda-tanda bahaya,&#8221; ungkap dia. <strong>(don kardono) (jawa pos)</strong></div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/08/25/entrepreneur-sukses-harus-pelihara-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>keberanian &amp; kemerdekaan</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/08/19/keberanian-kemerdekaan/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/08/19/keberanian-kemerdekaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 02:55:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[kaos oblong]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[mindset]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[souvenir]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=661</guid>
		<description><![CDATA[setiap bulan agustus, saya mau tidak mau dipaksa untuk merayakan hari kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan bangsa asing. yang menjadi pokok perhatian dibulan agustus selalu keberanian para pemuda sederhana bangsa ini dalam bejuang dan berperang melawan para penjajah yang bersenjata modern hanya dengan senjata tradisional. dan hanya dengan modal keberanian serta tekad saja akhirnya para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://blinkstar.files.wordpress.com/2008/08/merdeka-cartoon.jpg"><img class="alignleft" src="http://blinkstar.files.wordpress.com/2008/08/merdeka-cartoon.jpg" alt="" width="166" height="105" /></a>setiap bulan agustus, saya mau tidak mau dipaksa untuk merayakan hari kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan bangsa asing. yang menjadi pokok perhatian dibulan agustus selalu keberanian para pemuda sederhana bangsa ini dalam bejuang dan berperang melawan para penjajah yang bersenjata modern hanya dengan senjata tradisional. dan hanya dengan modal keberanian serta tekad saja akhirnya para pemuda itu berhasil memenangkan sebuah kemerdekaan yang di idam-idamkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">64 tahun sudah saya merasakan dan menikmati alam kemerdekaan ini. dan perlahan tapi pasti keberanian para pemuda jaman itu hanya sekedar menjadi mitos belaka karena sekarang sudah sulit untuk mengaplikasikannya, selain sudah terlalu lama peristiwa itu terjadi juga para pelakunya sudah hampir punah semuanya. tinggal kini bagaimana saya sebagai pemuda di jaman ini bisa mengaplikasikan keberanian tadi tanpa harus ketinggalan jaman dan tetep bisa mengikuti perkembangan trend di jaman modern ini. <a href="http://albertjoko.files.wordpress.com/2008/08/saatnya-merdeka-lagi_resize.jpg"><img class="alignright" src="http://albertjoko.files.wordpress.com/2008/08/saatnya-merdeka-lagi_resize.jpg" alt="" width="136" height="85" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">saya dengar dari seorang senior bahwa dulu keberanian dan kemerdekaan adalah sebuah slogan yang penuh makna sebagai pembangkit semangat juang dari para pemuda dijamannya. tapi kini kalau tetep dijadikan slogan saja tidak akan ada hasilnya dan hanya menjadi slogan kosong.</p>
<p style="text-align: justify;">sebagai pemuda jaman ini saya melihat tetep ada upaya dari generasi saya agar keberanian dan kemerdekaan itu tidak hanya berlaku sebagai slogan kosong. kreativitaslah yang bisa bikin keduanya menjadi lebih bermakna. belum semua pemuda bisa berbuat yang sama tapi paling tidak sebagian pemuda yang bergerak dibidang marketing dan promosi selalu berusaha mengolah kedua jargon itu sebagai suatu slogan yang dapat meningkatkan penjualan produk-produk mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">sebagai contoh pada bulan agustus diberbagai mall dan pusat pembelanjaan berlomba mengadakan promo discount pembelian berbagai produk ditempatnya dengan menggunakan angka-angka yang dianggap keramat oleh bangsa ini misalnya &#8216;discount gede-gedean sampai 45% +17% + 8%&#8217; atau &#8216;untuk konsumen yang datang dengan memakai atribut atau asesoris dengan warna merah dan putih akan mendapat harga khusus&#8217; dan masih banyak lagi yang lainnya.<a href="http://ibotimes.com/images/image/hpeSIA.jpeg"><img class="alignright" src="http://ibotimes.com/images/image/hpeSIA.jpeg" alt="" width="94" height="110" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">keberanian para pemuda yang menjadi otak dibalik semua ini patut diacungkan jempol, karena kreativitas dan inovasi mereka sangat luar biasa. saya tahu saat awal program-program seperti ini diluncurkan banyak lontaran kritikan dari manusia-manusia yang selalu berpikir negative yang menganggap hal tersebut melecehkan dan merendahkan nilai-nilai luhur dan pengorbanan pahlawan bangsa ini. tapi seiring dengan waktu para pemuda tadi bisa membuktikan bahwa program-program mereka untuk menyambut hari kemerdekaan  bukan sesuatu yang nyeleneh kaena semakin disukai oleh konsumen.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://rumametmet.com/wp-content/uploads/2008/08/merdeka.JPG"><img class="alignleft" src="http://rumametmet.com/wp-content/uploads/2008/08/merdeka.JPG" alt="" width="148" height="106" /></a>keberanian mereka untuk mengangkat jargon klasik menjadi jargon pemasaran modern semakin menunjukkan nhasilnya bahkan semakin kreative dengan diluncurkannya berbagai produk-produk baru dengan nuansa merah putih. atau paket-paket promo dengan mengunakan angka kramat tidak hanya sekedar potongan harga tapi sudah merambah ke berbagai sektor konsumsi seperti      &#8217;jika beli pulsa senilai (&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.) maka akan mendapat bonus berupa 17 pulsa  + 8 kali sambungan + 45 sms tambahan gratis&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">keberanian dalam berkreasi inilah yang sekarang menjadi tantangan saya. saya tidak ingin terpuruk dalam mitos-mitos sakral masa lalu dan harus bisa merubah setiap momen yang ada menjadi alat untuk mendokrak omset penjualan produk saya.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti biasa hanya sebagian kecil yang berani berkarya secara kreative sedangkan yang lainnya saya rasa masih belum merdeka secara mindset mereka. banyak teman-teman yang terjajah oleh pola pikir mereka sendiri. mereka masih belum punya keberanian untuk memerdekakan dirinya dari pola pikir dan mental tradisional yang berlaku dalam norma dan kebudayaan yang ada di indonesia.<a href="http://www.mandalaair.com/images/promo/3dc6756a-994e-4d1c-a656-929246cfa073.jpg"><img class="alignright" src="http://www.mandalaair.com/images/promo/3dc6756a-994e-4d1c-a656-929246cfa073.jpg" alt="" width="174" height="135" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">banyak kawan yang pola pikirnya masih teratur dan rapi dalam kungkungan budaya sungkan yang ada. ini bikin kreativitas menjadi mandeg sebab keberanian berkarya dibatasi oleh hal-hal yang tidak real.</p>
<p style="text-align: justify;">sebenernya banyak pihak sudah berupaya memberikan pancingan dan dorongan bagi generasi muda untuk punya keberanian dan jangan takut-takut dalam mengeluarkan ide dan karya-karya mereka, dan bentuk pancingannyapun bisa bermacam-macam seperti penghargaan atau award bahkan hadiah uang tunai ratusan juta rupiah,  tapi tetep saja hanya sebagian kecil yang menyambutnya dan sebagian kecil dari para pemuda kreative itulah yang kini melenggang sebagai tokoh-tokoh muda yang sukses dan menjadi panutan bangsa ini. mereka sudah menjadi orang yang merdeka dalam bertindak dan berfikir, saya menjadikan mereka contoh untuk memotivasi diri saya agar tidak melempem kembali bila menemui kesulitan dan kegagalan.</p>
<p style="text-align: justify;">yuk kita bebaskan pikiran kita secara liar, pupuk keberanian buat nabrak norma yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.belanjadiskon.com/assets/drgalleries/508/big_podomoro20090723.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.belanjadiskon.com/assets/drgalleries/508/big_podomoro20090723.jpg" alt="" width="146" height="89" /></a>dengan cara itu dulu seringkali saya dianggap sableng, gila dan gak umum. tapi pada saatnya saya bisa membuktikan bahwa saya bener.  saya cuek aja dengan apa kata orang lain tentang diri saya,  karena mereka kan hanya bisa berkata-kata saja, tapi sebenernya hanya saya sendirilah yang bisa menentukan apakah saya mau jadi manusia bebas merdeka tanpa harus menyakiti orang-orang terdekat saya atau tetep hanya menjadi manusia terjajah yang tidak punya keberanian dalam bertindak hanya untuk memberikan kesenangan semu pada orang-orang terdekat kita.</p>
<p style="text-align: justify;">kemerdekaan adalah sebuah ide gitu kata senior saya dalam sebuah kesempatan.</p>
<p style="text-align: justify;">lalu muncul sesuatu dalam pikiran saya, tapi inipun juga tidak orisinil karena sesungguhnya muncul dari penjelasan perkataan senior tadi, dari pada duit negara dipakai untuk bikin patung-patung pahlawan atau berbagai monumen yang harganya sangat mahal dan biaya perawatanya lebih ahal lagi,  mending dibikinkan kaos oblong dengan tema perjuangan, para pahlawan yang telah gugur, atau bertema jargon-jargon keberanian dan kemerdekaan yang tetep bisa sesuai sepanjang masa. jadilah monumen itu tetep ada tapi dalam bentuk yang berbeda, lebih murah biayanya, lebih dekat dihati dan bisa dipakai semua orang siapa saja karena harganya terjangkau. apalagi iini bisa menjadi tambahan penghasilan bagi siapa saja yang terlibat didalam pengelolaannya dan bisa menjadi oleh-oleh atau souvenir dari negara ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.jagoanhosting.com/contentslider/content_file/promo_idmerdeka.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.jagoanhosting.com/contentslider/content_file/promo_idmerdeka.jpg" alt="" width="166" height="114" /></a>atau ada yang punya usulan lain agar teman-teman kita yang masih belom merdeka menjadi punya keberanian untuk menghancurkan penjajahan mental dan mindset yang ada dalam diri mereka sendiri?</p>
<p style="text-align: justify;">dan jangan pernah lagi bilang bahwa &#8216;lamanya masa penjajahan di indonesia&#8217; bisa dijadikan alasan penyelamat kenapa keberanian itu tidak pernah bisa berkembang di hati ini.</p>
<p style="text-align: justify;">semuanya gak harus mahal dan sulit kok, tergantung pola pikir kita sendiri&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/08/19/keberanian-kemerdekaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lubang wc atau tempat sampah</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/29/lubang-wc-atau-tempat-sampah/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/29/lubang-wc-atau-tempat-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 01:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[entepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[lubang wc]]></category>
		<category><![CDATA[tempat sampah]]></category>
		<category><![CDATA[toilet]]></category>
		<category><![CDATA[wc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=583</guid>
		<description><![CDATA[pada saat saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur saya merasa menjadi mahluk paling kesepian di dunia ini. saya merasa sangat sendirian karena gak ada yang bisa diajak ngobrol dan bertukar pikiran. lingkungan terdekat disekitar saya bukan entrepreneur, mereka terdiri dari karyawan baik swasta maupun pemerintahan. kencenderungan mereka selalu menyalahkan pilihan saya buat jadi entrepreneur terutama saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://ideacritik.com/blog/images/keyBoardWC.jpg"><img class="alignleft" src="http://ideacritik.com/blog/images/keyBoardWC.jpg" alt="" width="198" height="148" /></a>pada saat saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur saya merasa menjadi mahluk paling kesepian di dunia ini. saya merasa sangat sendirian karena gak ada yang bisa diajak ngobrol dan bertukar pikiran. lingkungan terdekat disekitar saya bukan entrepreneur, mereka terdiri dari karyawan baik swasta maupun pemerintahan. kencenderungan mereka selalu menyalahkan pilihan saya buat jadi entrepreneur terutama saat saya sedang berbuat salah atau sedang merasa putus asa dan tidak punya semangat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-583"></span>saya rasa hal ini juga dialami oleh semua entrepreneur pemula dimana pada saat-saat itu selalu butuh dukungan support dan semangat. bukannya mendukung lingkungan justru malah meruntuhkan semangat dan moril.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata kemudian saya merasakan hidup sendirian sebagai entrepreneur bukan hanya pada saat-saat awal merintis saja. tapi itu berlanjut pada semua fase kehidupan saya sebagai entrepreneur.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata yang saya bayangkan di awal salah lagi. mulanya saya mengira lingkungan terdekat akan menerima dan mendukung saya sebagai entrepreneur pada saat bisa membuktikan pada mereka bahwa saya bisa  berhasil dan menggantungkan kehidupan saya pada dunia entrepreneur, bahkan saya bisa berbagi pada sesama dari penghasilan yang saya peroleh dari situ. dugaan saya keliru, lingkungan terdekat memang akhirnya bisa menerima pilihan saya ini bahkan memuji-muji saya karena apa yang saya dapatkan dari entrepreneur begitu membanggakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi ya cukup sampai disitu, hanya pujian yang saya terima dan tidak lebih dari itu.   saat saya bertanya dan butuh kawan diskusi untuk menghadapi segala permasalahan yang saya temui dalam perjalanan perkembangan bisnis saya, ternyata saya menghadapi kenyataan yang sama, yaitu saya sendirian lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lagi lingkungan tidak bisa mendukung, lingkungan ternyata bener-bener tidak mengerti apa sesungguhnya yang saya hadapi. apapun,  lingkungan terdekat saya dipenuhi oleh kaum karyawan yang sangat berbeda dengan dunia yang saya geluti. <a href="http://sektorazalea.files.wordpress.com/2008/06/cimg1812.jpg"><img class="alignright" src="http://sektorazalea.files.wordpress.com/2008/06/cimg1812.jpg" alt="" width="269" height="216" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">karyawan bekerja karena target-target yang diberikan oleh orang lain, mereka juga punya rasa takut pada yang disebut dengan boss (itu yang memotivasi mereka untuk terus bekerja), dan yang terutama karyawan menerima penghasilan tetap setiap bulannya. dan itu selalu mereka peroleh tidak peduli kondisi apapun yang terjadi. apakah mereka berprestasi atau tidak, perusahaan sedang masa sulit atau tidak, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">sedang entrepreneur sebaliknya, tidak ada yang ditakutinya karena dia adalah sosok pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaannya.  bila tidak bekerja dengan baik dan maksimal maka dia benar-benar tidak akan berpenghasilan dan terutama dia harus rajin-rajin memberi motivasi dan membagkitkan semangatnya sendiri agar yang dikerjakannya berlangsung dengan maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">dua dunia yang sangat berbeda ini bagaimana bisa saling mendukung. makanya saya sebagai entrepreneur merasa sangat kesepian.</p>
<p style="text-align: justify;">saat awal merintis, kesepian saya tertolong dengan saya menemukan komunitas atau teman-teman sekelompok yang sevisi dan semisi. ini sangat membantu, terutama pada saat-saat saya butuh suport, motivasi dan solusi dari permasalahan yang saya hadapi. itu terjadi karena kedudukan saya dan teman-teman setara. itu juga karena bisnis masing-masing yang sama-sama dalam proses perintisan dan pengembangan berjalan masih setara, dalam level yang sama-sama baru merintis dan membangun.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi kemudian satu atau dua tahun berjalan mulailah ada gap diantara kami semua sekomunitas. gap itu terjadi karena dalam perjalanannya perkembangan bisnis masing-masing tidak setara lagi.   kami tidak lagi berada pada level yang sama.   ini bisa terjadi karena pilihan bisnis yang diterjuni masing-masing dari kami berbeda, modal dasar baik yang berupa uang, prasarana atau pengetahuan juga berbeda.   tapi yang terutama menjadi penyebab adalah karena pertumbuhan bisnisnya yang berbeda,  ada yang melesat dengan cepat, ada yang jalan ditempat bahkan ada yang tutup bankrut karena berbagai sebab.</p>
<p style="text-align: justify;">pada kondisinyang berbeda-beda level ini,  mulailah terjadi kesulitan untuk berkomunikasi diantara kami, walaupun diawal kami sama-sama merintis bareng dan sering kumpul bareng karena tergabung dalam komunitas yang sama bahkan sering cankruan bareng dalam pergaulan kesehariannya.</p>
<p style="text-align: justify;">saat-saat itu kembalilah saya menjadi mahluk kesepian. kembali bingung mau ngobrol sama siapa, mau tanya sama siapa dan mau sharing sama siapa. sebenarnya saya masih bergabung dalam komunitas yang sama malah ikutan dibanyak komunitas entrepreneur yang lainnya, tapi ini lebih karena kebutuhan moril buat sharing yang luar biasa. hubungan dengan teman-teman lama  dan yang baru  juga masih berjalan baik dan akrab,  tapi kalau untuk berdiskusi sudah tidak nyambung lagi. ini yang bikin bingung dan bermasalah.</p>
<p style="text-align: justify;">level bsnis dan pengetahuan boleh beda tapi status saya dan kawan-kawan pada prinsipnya tetep sama, sebagai boss tertinggi diperusahaan masing-masing. jadinya ego kami masing-masing tetep tinggi karena merasa sama-sama setara jadi orang hebat, ada rasa tidak mau mengalah. atau ada rasa ingin menggurui saat bicara pada kawan yang bisnisnya lebih lemah. ini yang terjadi secara tidak kami sadari, tapi  akibatnya sangat mengganggu komunikasi kita semua. yang lebih repot lagi bila ada kawan yang saat merintis dulu sangat mudah ditemui buat diajak sharing, kini saat perkembangan bisnisnya melaju pesat bak meteor jadi sulit ditemui, bukan karena berubah jadi sombong, tapi karena kesibukan bisnisnya yang membuatnya bener-bener sibuk.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali menjadi mahluk kesepian di level bisnis manapun sangat berbahaya karena pasti sangat mempengaruhi jalannya perkembangan bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">untungnya sampai saat ini saya bisa menemukan seorang kawan yang masih bisa diajakberbagi cerita. berbagi cerita tapi tetep sesuai ego kami masing-masing. ini terjadi karena memang level bisnis kami berbeda jauh. level saya jauh tertinggal diliat dari sudut perkembangan bisnis manapun,  baik itu jumlah karyawan, omset, network yang dibangun, pengalaman dan pendidikan bahkan secara kecerdasanpun saya masih jauh dibawah. tapi dengan gap yang sedemikian lebar itu kami tetep bisa berkomunikasi dengan baik walaupun dalam keseharian jarang sekali bertemu, baik bertemu secara fisik maupun secara alat telekomunikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">saya dan kawan tadi masih bisa saling berbagi pengalaman dalam kesetaraan yang sama dan saat itu tidak ada ego kami yang muncul (ego yang muncul saat berkomunikasi sangat berbahaya karena bisa berakibat fatal saling ketersinggungan dan berakibat hancur hubungan pertemanan).</p>
<p style="text-align: justify;">saya kemudian berpikir apa yang terjadi, sehingga kami masih bisa berkawan dalam arti sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya kemudian mengambil kesimpulan buat diri saya sendiri. rupanya saat kami berkomunikasi secara tidak sadar saya dan kawan saya tadi bisa berperan seperti tempat sampah atau sebagai lubang wc.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://farm1.static.flickr.com/109/314155092_1328b36206.jpg"><img class="alignleft" src="http://farm1.static.flickr.com/109/314155092_1328b36206.jpg" alt="" width="233" height="178" /></a>seperti jika seseorang ingin membuang sampah setelah kotoran memenuhi tempat penampungan sementara, yaitu orang trsebut tinggal angkat tempat penampungan sementara dan lempar isinya yang berupa kotoran sampah ke tempat sampah. tempat sampah tidak akan protes, dia diam saja menerima sampah dari siapa saja dan berupa apa saja yang di buang oleh orang tadi. setelah sampah dari tempat penampungan sementara kosong, orang tadi lega dan pergi lalu mengisi lagi tempat penampungan sementaranya dengan sampah-sampah baru. sampah yang dibuang pasti sudah tidak berguna bagi orang tadi, tapi tempat sampah tetep akan menerimanya.</p>
<p style="text-align: justify;">lubang wc juga sama, saat seseorang kebelet pingin buang hajat dia akan cari lubang wc, lalu cuuur atau brol, hajat orang itu dibuangnya ke lubang wc. setelah hajatnya terbuang orang tadi pastinya akan merasa lega karena sudah tidak punya beban lagi dan bisa beraktifitas normal kembali. nah lubang wc juga gak pernah protes terhadap hajat apa yang dibuang kesitu.</p>
<p style="text-align: justify;">ibarat perumpamaan ini, saya bisa berfungsi sebagai tempat sampah atau lubang wc buat kawan tadi dan begitu juga sebaliknya. saat masing-masing dari kami sumpek dan pingin ngobrol ya kami bikin janjian dan kemudian bertemu. yang punya masalah akan nyrocos terus sampai tuntas sedang yang tidak punya masalah akan mendengarkan tanpa protes. setelah selesai nyrocos dan semua masalah di keluarkan kita pun pamitan untuk berpisah. begitu saja. si punya masalah tidak minta solusi dan si pendengar juga tidak memberikan solusi tanpa diminta, karena sesungguh-sunguhnya dari kami masing-masing sudah tau apa yang jadi jawaban dari persoalan yang ada,  makanya tidak ada yang bertanya dan tidak ada yang menjawab tanpa ditanya.  persis tempat sampah atau lubang wc, hanya berfungsi sebagai tempat penampungan kotoran.</p>
<p style="text-align: justify;">kecuali bila  ada pokok bahasan yang bener-bener perlu didiskusikan maka kami akan berfungsi kembali dengan normal, yang cerdas akan menujukakkan kecerdasannya dan yang berpengalaman akan menujukkan pengalamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">kondisi ini yang bikin saya gak kesepian lagi dan bisa bertahan hidup sampai hari ini. uniknya saat kita bertemu dan berfungsi sebagai tempat sampah atau lubang wc, waktu ngobrolnya juga bisa menjadi berjam-jam sehingga sering bikin pasangan masing-masing merasa sebel. waktu saya memang lebih flexibel dari waktu kawan tadi mungkin karena dia baru menikah dan baru punya momongan.</p>
<p style="text-align: justify;">jika dia berkunung ke tempat saya dan saya sedang berfungsi sebagai lubang wc,  akan ada timer yang berbunyi yang menunjukkan waktu kunjungan sudah berakhir. entah bagaimana caranya, pasangan kawan saya itu kok bisa tau ya, setelah kawan tadi duduk ngobrol dengan saya selama dua jam bisa dipastikan alat komunikasinya berdering dan itu pasti dari pasangannya yang menanti dengan tidak sabar kenapa kok belum pulang juga, padahal tadi janji kunjungannya hanya sebentar. selalu setelah duduk selama dua jam, hebat sekali. (dalam hati si nyonya pasti bilang &#8216;gak ada critanya ngobrol sama samurai cuman sebentar&#8217;)</p>
<p style="text-align: justify;">kalau saya yang berkunjung dan saat dia yang berperan sebagai tempat sampah atau lubang wc,  ini dulu saat beliau masih bujang,  hp saya akan bunyi setiap kali waktu subuh dan itu pasti dari ibunya anak-anak yang bertanya &#8220;ngobrol dari magrib sampe subuh apa belom cukup? trus mau pulang jam brapa?&#8221; tapi sekarang saya culup tau diri dan hanya berkunjung kekantornya setelah bikin janji pada jam-jam kerja saja.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi jika kami masing-masing tidak punya kebutuhan ya kami tidak akan saling menyapa dan kalaupun bertemu baik sengaja ataupun tidak percakapan yang timbul hanya basa basi kurang dari lima menit. aneh memang tapi itu lebih dari cukup karena kalo dipaksain juga gak ada obrolan.</p>
<p style="text-align: justify;">dalam perkembangan berikutnya. saya menemukan lubang wc atau tempat sampah baru, tapi disini lebih tepatnya saya yang selalu berperan sebagai tempat sampah atau lubang wc bagi teman baru tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">setiap orang beda kebutuhan dan keperluannya tapi tetep butuh tempat sampah atau lubang wc, sehingga tidak bisa joint atau sharing di lubang wc atau ditempat sampah yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/29/lubang-wc-atau-tempat-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>hari ke tiga &#8211; ledakan</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/26/hari-ke-tiga-ledakan/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/26/hari-ke-tiga-ledakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 18:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[kartu kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit tanpa agunan]]></category>
		<category><![CDATA[majalah wirausaha dan keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[pola bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sma 54]]></category>
		<category><![CDATA[teman baik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[di hari terakhir saya dijakarta, saya dan mas rozy janjian sama pak isdianto dari majalah wirausaha dan keuangan.  kami minta ijin beliau untuk dapat berkunjung ke dapurnya majalah wk. untungnya kami janjian berkunjung sehabis jumatan karena dipagi hari itu ada dua bom yang meledak dan mengguncang ibukota sehingga mengakibatkan jakarta dalam kondisi siaga satu. tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">di hari terakhir saya dijakarta, saya dan mas rozy janjian sama pak isdianto dari majalah wirausaha dan keuangan.  <a href="https://www.insideoutshop.de/images/BlindEgo.jpg"><img class="alignleft" src="https://www.insideoutshop.de/images/BlindEgo.jpg" alt="" width="159" height="140" /></a>kami minta ijin beliau untuk dapat berkunjung ke dapurnya majalah wk. untungnya kami janjian berkunjung sehabis jumatan karena dipagi hari itu ada dua bom yang meledak dan mengguncang ibukota sehingga mengakibatkan jakarta dalam kondisi siaga satu. tapi akibat dari ledakan bom itu juga yang menguntungkan perjalanan saya dari bintaro ke pasar minggu.  jalanan menjadi sangat lenggang sehingga perjalanan menjadi lancar selancar-lancarnya.<span id="more-566"></span></p>
<p style="text-align: justify;">kedatangan kami sudah di tunggu oleh pas isdi dan kami langsung disambut oleh sekotak nasi ayam bakar &#8216;mas mono&#8217;.  dengan sedikit agak basa basi langsung kami sikat nasi sekotak dengan lauk ayam bakar plus tempe bacem dengan potongan raksasa itu. karena memang sudah waktunya makan siang dan memang perut kami sedang keroncongan maka dalam sekejap ludeslah makanan tadi kami sikat.</p>
<p style="text-align: justify;">pak isdi ternyata seorang yang sangat lincah dan tidak bisa diam, idenya sangat banyak dan cenderung loncat-loncat.  melihat kami sudah meludeskan menu santap siang yang beliau sajikan, segera kami diajak untuk jalan-jalanuntuk melihat  bisnis kuliner yang sedang beliau kelola.  memang selain sebagai owner dari majalah wk, bisnis beliau juga macam-macam dan yang terbaru adalah bisnis kuliner.  hebatnya, beliau bisa dapatkan semua bisnis itu hampir dengan tanpa modal,  sebab sebagai owner dan wartawan utama  sebuah  majalah entrepreneur beliau bisa meliput berita apa saja yang berhubungan dengan  bidang kewirausahaan.  dari situlah biasanya beliau dapat banyak tawaran untuk mengelola bisnis yang sedang dijalankan oleh para narasumber yang sedang diliput. mungkin itulah keuntungnya punya majalah entrepreneur sendiri,  jadi mudah mendapatkan dan memilih peluang bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">memang ada untungnya berkeliling jakarta setelah ledakan bom, jalanan menjadi sangat lancar tanpa macet sehingga perjalanan menjadi sangat cepat.  tujuan pertama kami adalah ke warung pempek patrolnya pak isdi. sampai disana langsung kami disuruh mencicipi seporsi pempek kapal selam yang jadi andalan menu disitu, sambil menunggu masakan matang kami juga diminta untuk mencicipi cakwe goreng dan roti goreng, bisnis jajanan ini juga dimiliki beliau dan dibuka di sebelah warung pempek.</p>
<p style="text-align: justify;">sambil makan beliau cerita kalo warung-warungnya itu dikelola oleh remaja yatim piatu yang sedang beliau latih dan diberdayakan,  dari pada hanya menjadi penganggur karena kesulitan cari kerja. misi beliau mulia sekali, mungkin itulah cara beliau membagi rejeki yang selama ini didapatkan dari bisnis-bisnis beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">pak isdi ini menurut saya rada nyentrik pola pikirnya, misalnya jawaban beliau atas pertanyaan saya tentang majalah wk yang sering tidak jelas kapan terbitnya. kadang awal bulan, kadang tengah bulan dan kadang di akhir bulan. beliau bilang itulah nikmatnya jadi pengusaha sebuah majalah,  jadinya bisa menerbitkan majalahnya sesuai kehendak hati, beliau juga bilang bahwa punya otoritas penuh untuk memerintahkan staffnya untuk mendistribusikan majalahnya,  apakah ingin ditaruh ditoko buku seperti gramedia atau hanya dijual secara eceran.  itu menjawab juga keheranan saya kenapa majalah wk kadang ada di toko buku dan kadang sulit sekali ditemukan di toko buku.</p>
<p style="text-align: justify;">ego beliau sebagai owner bermain disini.  tapi beliau juga bilang supaya tidak diprotes sama pelanggannya beliau harus akrab dengan berbagai kalangan  pengusaha yang menjadi tujuan utama konsuman pembaca majalahnya. komunitas pengusaha yang ada diberbagai kota dan pemerintah bahkan lembaga-lembaga swasta yang sangat menunjang perkembangan kemajuan dunia usaha seperti perbankan juga beliau bikin networknya. karena beliau sangat gaul diberbagai kalangan tersebut dan sangat &#8216;entengan&#8217; serta sering membantu memberikan liputan-liputan khusus bagi teman-temannya dikalangan ukm, makanya majalah wk yang terbitnya tidak jelas itu hampir tidak pernah dapat komplain bahkan jadinya menjadi majalah yang ditunggu-tunggu terbitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">semua harus balance dan seimbang, begitu kata beliau, sehingga membuat langkah kakinya jadi lebih mudah melangkah sebab dapat dukungan dari banyak pihak. seperti bisnis kulinernya, mainan baru yang sedang beliau jalankan, mulai dari jenis bisnisnya, tempat, design outlet sampai karyawan bisa diperoleh dan dikelola beliau karena support dari pihak-pihak yang merasa berterima kasih karena sudah disupport lebih dulu lewat majalah wk dan hasil dari liputan di majalah itu sungguh luar biasa. <a href="http://www.asiafxonline.com/UserFiles/Image/emas.jpg"><img class="alignright" src="http://www.asiafxonline.com/UserFiles/Image/emas.jpg" alt="" width="184" height="157" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">mas rozy termasuk yang merasakan hasil luar biasa akibat support dari majalah wk terhadap bisnis &#8216;raja sandalnya&#8217;. walaupun sudah beberapa bulan lewat, tapi efek dari liputan tersebut masih terasa sampai hari itu karena masih banyak saja orang yang bertanya tentang bisnis raja sandal, dan semua mengaku tau dan tertarik dengan bisnis itu akibat membaca majalah wk.</p>
<p style="text-align: justify;">saya sendiri juga merasakan walaupun berada di surabaya, banyak bisnis teman-teman saya baik yang dari surabaya entrepreneur club atau dari komunitas lain yang bertambah kencang jalannya setelah diliput oleh wk. makanya saya selalu menunggu-nunggu, walaupun dengan dengan pasrah, kiriman majalah wk setiap bulan. yang saya cari hanyalah siapa lagi dari teman-teman saya yang liputannya dimuat dalam wk edisi terbaru.</p>
<p style="text-align: justify;">sambil berusaha mengabiskan seporsi pempek, dua potong roti goreng dan dua potong cakwe yang disediakan, kuping saya tetep terbuka lebar untuk mendengarkan tuturan pak isdi.</p>
<p style="text-align: justify;">ada teori beliau yang juga unik menurut saya. kata pak isdi, dalam bisnis itu yang penting terus ekspansi dan membuka usaha lagi dan lagi. nggak terlalu penting menunggu datangnya BEP atau kondisi plus karena sudah laba. yang terpenting hanyalah pendapatan dari perputaran bisnis itu sudah bisa menutup biaya operasional perbulannya. hanya itu saja yang penting. kalo itu tepenuhi segera buka bisnis lagi. gitu seterusnya, bisnis itu juga  sebuah investasi jangka panjang. makanya jangan buru-buru pingin dapat untung.</p>
<p style="text-align: justify;">ada yang setuju dengan teori ini?</p>
<p style="text-align: justify;">teori berikutnya juga gak kalah menariknya. kalau kita sebagai seorang entrepreneur sudah menemukan pola bisnis yang tepat dan sesuai dengan karakter kita, maka bisnis apapun itu otomatis akan jalan dengan sendirinya dan menghasilkan. gak perduli jenis bisnisnya. semua bisnis pasti bisa  jalan asalkan si owner sudah menemukan jiwa atau pola yang tepat tadi.   kenapa pasti bisa, karena setelah formula tadi ketemu maka binis berikutnya yang dijalankan hanyalah sekedar &#8216;copy paste&#8217; saja dari bisnis awal.  pada prinsipnya, kata pak isdi, semua bisnis itu jadi hampir sama hanya jenis dan siapa yang mengelolanya saja yang berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">dan lagi kita sebagai boss atau owner gak perlu turun langsung campur tangan sendiri dalam setiap menjalankan bisnis. mulailah belajar mempercayai karyawan kita bagaimanapun caranya,  termasuk apabila kondisinya sangat sulit.</p>
<p style="text-align: justify;">yang dijadikan contoh pak isdi adalah pengusaha-pengusaha keturunan.   mereka semua rata-rata memilki banyak ragam bisnisnya dan sering kali bisnis yang dikelola tidak ada kaitan langsung satu bisnis dengan bisnis lainnya.  tapi hebatnya bisnis beraneka ragam yang mereka kelola itu berjalan, bertambah besar dan semakin mengurita. rata-rata dari mereka, walau skala bisnisnya sudah mendunia tidak dikenal oleh kebanyakan warga indonesia lainnya terutama yang pribumi. kalaupun ada satu dua yang terkenal karena memang care dengan pertumbuhan dunia entrepreneur di indonesia, sedang yang lainnya terkenal hanya namanya saja atau dikaitkan dengan nama induk perusahaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">misalnya ciputra dengan citraland, sampoerna dengan  pabrik rokok sampoernanya di surabaya atau bob sadino dengan supermarket kem ciks-nya di kemang jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">padahal selain nama usahanya yang sudah terkenal itu mereka juga punya banyak jenis usaha lain yang juga maju dan berkembang.  tapi kita sebagai orang pribumi awam, bahkan yang juga entrepreneur, sering tidak mengerti bisnis apa saja yang mereka kelola.</p>
<p style="text-align: justify;">lain halnya dengan orang pribumi, baru saja mulai bisnis sudah pingin terkenal dan lalu  jadi identik dengan bisnis yang dijalankannya. karena belum menemukan pola bisnis, roh bisnis atau jiwa bisnisnya maka setelah identik dengan suatu bisnis, entrepreneur kita yang pingin mengembangkan bisnis lainnya, padahal kadang hanya brand-nya saja yang beda, menjadi sangat kesulitan. masyarakat sudah terlanjur meng-indentikkan atara seorang entrepreneur dengan suatu bisnisnya yang paling populer.   akibatnya  jika dia pingin bermain dibisnis lainnya masyarakat sulit untuk percaya.</p>
<p style="text-align: justify;">rata-rata pengusaha keturunan tidak ingin cepat-cepat terkenal walaupun bisnis yang mereka kelola sudah turun temurun,  yang mereka butuhkan adalah kemapanan bisnis.  ini kebalikan dengan rata-rata pengusaha pribumi yang pingin segera terkenal oleh publik walaupun bisnis yang dikelolanya baru seumur jagung. <a href="http://www.the-aps.org/education/sixstarscience/images/star_hg_clr.gif"><img class="alignright" src="http://www.the-aps.org/education/sixstarscience/images/star_hg_clr.gif" alt="" width="192" height="192" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">nah karena faktor tidak terkenal tadi banyak pengusaha keturunan mudah merambah dan memajukan berbagai ragam bisnis yang ingin dijalankannya.</p>
<p style="text-align: justify;">pak isdi lalu mengembalikan ke saya dan mas rozy, pilih mana terkenal lalu stag di satu bisnis atau tidak terkenal dan lama baru terkenal setelah menjadi konglomerat. kalo saya sih pinginnya langsung terkenal dan langsung jadi konglomerat. semua orang pastinya juga sama keinginannya dengan saya, sekarang tinggal faktor kemampuan diri kita masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">kita bebas memilih kok.</p>
<p style="text-align: justify;">perjalanan kami dilanjutkan ke warung baksonya pak isdi, tapi disini kami sudah tidak sanggup untuk mencobanya takut ada ledakan baru yang akan mengguncang jakarta, yaitu meledaknya perut kami karena kekenyangan.</p>
<p style="text-align: justify;">cukuplah dua teori saja dari pak isdi, karena rasanya sudah berhasil bikin otak kami berputar keras dan  hampir mejadi ledakan dahsyat. apalagi saat itu  hari sudah menjelang maghrib dan saya baru ingat kalau punya janji dinner dengan kawan-kawan lama dari tempat saya dulu kerja di salah satu bank swasta.   kami pamit dengan pak isdi dan staff-staffnya dengan segudang perasaan yang mengharu biru terhadap teori-teori beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">karena besok saya pulang ke surabaya, mas rozy merasa cuman bisa ngobrol dengan saya malam itu saja makanya sebelum saya berangkat menuju tempat dinner, saya diculik oleh mas rozy ke sebuah stasiun pengisi bbm yang jadi satu dengan cafe dan atm dari berbagai bankgak jauh dari kantornya wk.</p>
<p style="text-align: justify;">sambil ngemil kentang goreng dan minum milk shake saya bilang sama mas rozy, saya harus ketemu teman-teman lama itu karena mereka saat ini sudah menjadi orang penting di berbagai bank di jakarta. rata-rata teman saya yang dulu seangkatan atau setingkat diatas saya, sekarang sudah menjabat menjadi kepala atau &#8216;head&#8217; dari berbagai bank penerbit kartu kredit atau kredit tanpa agunan. atau kalaupun kurang beruntung jabatan terendah yang dipikulnya adalah manager.</p>
<p style="text-align: justify;">setelah berpisah selama hampir sebelas tahun, menyenangkan sekali mendengar kalo perbankan khususnya yang berhubungan dengan kredit dikuasai oleh teman-teman main saya dulu. mungkin kesempatan bertemu langsung dengan banyak kawan secara sekaligus hanya saat itu saja.   setelah itu karena kesibukan, mereka pasti sulit buat diajak cangkruan. lagian yang bikin mereka niat kumpul bareng adalah karena undangan dinner itu datang dari mantan big boss kita (dulunya head collection) yang sekarang jadi big boss besar di arab sana, tapi tetap di bank yang sama. <a href="http://www.accountancyextra.co.uk/blog/wp-content/uploads/2009/04/break_even_point_neurmadicaestheticflickr.jpg"><img class="alignright" src="http://www.accountancyextra.co.uk/blog/wp-content/uploads/2009/04/break_even_point_neurmadicaestheticflickr.jpg" alt="" width="237" height="177" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">saya berkesepatan mendengar dan diajak gabung dalam acara tersebut, atas informasi dari teman baik saya mr. rudi lontong. beliau ini  satu sekolah dengan saya mulai dari smp dan sma.  karena jasa beliau jugalah yang bikin saya bisa diterima satu kerjaan di bank yang sama setelah saya lulus kuliah. kemudian selama bekerja di collection departemen bank tersebut beliau jugalah yang menjadi mentor saya.  secara personal, beliaulah yang berhasil membimbing dan menjadi mentor pribadi saya sehingga saya fasih dan berpengalaman dalam dunia kaum hawa. bahkan kemudia saya keluar dari bank tersebut juga karena bersengketa secara pribadi dengan beliau. tapi uniknya saya dan mr. rudi lontong tetep jadi kawan baik sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi manusia punya rencana, tetep saja allah lah yang menentukan segalanya. saya akhirnya gak bisa dinner bareng para boss-boss itu karena tiba-tiba ibunda menelepon ngajakin dinner bareng saya dan adik-adik untuk merayakan ulang tahun keponakan perempuan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">begitulah malam terakhir saya dijakarta dan kali ini tanpa cewek sama sekali walaupun tetep bergelimang dengan makanan yang enak-enak.</p>
<p style="text-align: justify;">cerita ngobrol saya dengan mas rozy mungkin akan ditulis di catatan saya berikutnya, itu juga dengan catatan kalo saya gak males.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/26/hari-ke-tiga-ledakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>passion = iman = ?????</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/11/passion-iman/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/11/passion-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 16:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan hosting]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[reng oneng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[banyak orang bilang kalo ingin berbisnis kita harus punya passion terhadap bisnis yang akan kita kerjakan. tapi menurut saya passion itu harus dipunyai oleh setiap orang saat ia ingin melakukan sesuatu apa saja, tidak hanya dalam menjalankan bisnis saja.
saat mendengar kata passion pertama kali saya blas gak mudheng apa artinya, setelah dijelaskan beberapa kali oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1623" title="Passion Of The Christ - Songs" src="http://www.samuraijagoan.com/wp-content/uploads/2009/07/Passion-Of-The-Christ-Songs-150x150.jpg" alt="Passion Of The Christ - Songs" width="150" height="150" />banyak orang bilang kalo ingin berbisnis kita harus punya passion terhadap bisnis yang akan kita kerjakan. tapi menurut saya passion itu harus dipunyai oleh setiap orang saat ia ingin melakukan sesuatu apa saja, tidak hanya dalam menjalankan bisnis saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-519"></span>saat mendengar kata passion pertama kali saya blas gak mudheng apa artinya, setelah dijelaskan beberapa kali oleh teman-teman dekat secara pelan &#8211; pelan baru saya &#8216;agak&#8217; mengerti apa yang dimaksud dengan istilah passion itu. tapi kemudian segera lupa tentang maksud dari passion setelah pembahasan tentang istilah itu berhenti paling lama tiga-empat hari kemudian. maklum sebagai mahkluk yang blass gak ngerti bahasa inggris jelaslah gak akan ingat terhadap istilah-istilah yang menggunakan bahasa internasional tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya biar gak terlalu dianggap &#8216;oon&#8217; saya cari padanan kata,  yang paling bikin saya  gampang mengingat istilah tersebut. sampai suatu saat saya temukan dan saya yakin bahwa istilah &#8216;iman&#8217; bisa saya anggap sejajar dengan istilah &#8216;passion&#8217; minimal saya sendirilah yang menganggapnya sejajar.</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya setiap orang harus meng&#8217;imani&#8217; apa yang dia kerjakan. maksudnya menurut saya bahwa seseuatu yang dikerjakan itu agar tidak menjadi suatu keterpaksaan dalam pelaksanaannya atau pengerjaannya. seperti dalam beragama, bila saya beragama muslim maka tentunya akan percaya dan ber-iman terhadap semua ajaran muslim tersebut. jika saya tidak mengeti akan suatu hal mengenai agama yang saya anut agar iman saya tidak luntur maka saya segera memcari dan mempelajari semua hal tentang muslim, semua yang menjadi kewajiban dalam beragama saya harus laksanakan dengan senang hati walaupun itu berat. kenapa harus dlaksanakan dengan senang hati, kaena memang itu konsekwensinya bila saya berniat untuk beragama muslim dan beriman terhadap semua ajarannya. bila sedikit saja muncul keterpaksaan, maka lambat laun kepercayaan saya akan luntur dan saya kemudian menjadi semakin tidak suka terhadap apa yang diperintahkan oleh agama yang saya anut.<img class="alignright size-thumbnail wp-image-1624" title="passion-clock" src="http://www.samuraijagoan.com/wp-content/uploads/2009/07/passion-clock-150x150.jpg" alt="passion-clock" width="150" height="150" /></p>
<p style="text-align: justify;">entah benar atau tidak, tapi begitulah menurut versi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">saat saya sudah membulatkan tekad untuk terjun 100% ber-entrepreneur apapun yang terjadi,  maka saya pun harus siap dengan segala konsekwensinya. supaya iman saya tidak luntur terhadap bidang entrepreneur yang saya geluti ini, maka setiap saat dalam hidup saya, saya pergunakan untuk mempelajarinya. tentunya gak mudah, karena entrepreneur itu luas banget dan saya nggak ngerti bidang mana yang saya sukai.</p>
<p style="text-align: justify;">waktu itu hampir setahun saya mencari pola tentang bidang entrepreneur apa yang akan saya jalani. setiap kali ada bidang usaha yang saya anggap menarik perhatian, maka saya akan tonkrongin dan saya perhatikan secara sungguh-sungguh hampir setiap hari, dari pagi hingga malam. tapi biasanya setelah pengamatan selama dua mingguan saya kemudian menyerah tidak melanjutkan dalam bentuk real action karena takut akan resiko yang mungkin saya hadapi.</p>
<p style="text-align: justify;">sempet putus asa juga saya terhadap bidang entrepreneur ini karena semakin lama di geluti semakin gak berani buat action sebab resiko yang diperkirakan bakal muncul benar-benar bikin hati ciut.</p>
<p style="text-align: justify;">saya kemudian merenung, mikir apa sih sesungguh-sunguhnya yang musti saya kerjakan supaya saya bisa bener-bener action. dalam perenungan itu tiba-tiba saja muncul sebuah kesadaran bahwa saya itu sesungguh-sungguhnya sudah melakukan sesuatu yang rutin, bener-bener rutin karena setiap hari saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. dari pagi, siang, sore bahkan sampai malam hari. walaupun saya tidak pernah bisa tahu secara pasti hasil apa yang akan saya peroleh dari rutinitas tadi. rutinitas tersebut masih sangat berkaitan erat dengan entrepreneurship. tapi mungkin memang gak bisa dikatakan sebagai bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">saya ternyata memang bener-bener menjalankan suatu rutinitas, saya menghabiskan hari-hari saya secara sungguh-sungguh untuk mencari kredit dari bank, karena saat itu saya pikir gak mungkin saya dapat mulai membuka suatu usaha tanpa mendapatkan pinjaman modal dari bank. tanpa saya sadari upaya saya dalam pencarian kredit ini saya rencanakan dengan sunguh-sungguh dan terencana dengan baik. saya punya program-program kerja yang jelas, saya tau pasti apa yang harus saya lakukan step demi stepnya secara detail. bahkan yang tadinya anggapan saya tentang penelitian atau survey saya terhadap suatu bisnis yang menarik perhatian saya, dan rencananya akan saya geluti, merupakan kegiatan utama yang gak bisa diganggu gugat. setelah saya renungkan lagi ternyata kegiatan tersebut menjadi kegiatan kedua bahkan ketiga setelah kegiatan saya mencari kredit. jadi upaya mencari kredit merupakan kegiatan utama yang tidak boleh terganggu sedang apapun kegiatan saya lainnya tidak boleh sampai menggangu aktivitas pencarian kredit saya.</p>
<p style="text-align: justify;">pokoknya aktivitas pencarian kredit adalah yang utama dan tidak ada suatu hal pun yang boleh menggangu dan menghambatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">tanpa saya sadari upaya pencarian kredit merupaka action real saya setelah saya selesai mengikuti pelatihan entrepreneur. apa yang diajarkan dalam pelatihan saya praktekkan semuanya dengan sungguh-sungguh setiap hari.</p>
<p style="text-align: justify;">setelah saya sadar, saya bukannya menghentikan kegiatan itu tapi malahan semakin saya jadikan kegiatan utama saya. semakin saya di tolak semakin penasaran saya. semakin saya disetujui dalm mengajuan kredit yang saya minta,  maka semakin mantab lah saya dalam mejalani apa yang sudah saya geluti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">saya pun semakin rajin mempelajari apapun yang berbau dan berhubungangan dengan kredit. para marketing bank yang menawarkan kredit selalu saya temui jika mereka minta ijin utuk bikin janji ketemuan. saya pingin tau tentang produk-produk yang mereka tawarkan dan bagaimana upaya perolehannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://farm1.static.flickr.com/46/148280826_65b23fd93d.jpg"><img class="alignleft" src="http://farm1.static.flickr.com/46/148280826_65b23fd93d.jpg" alt="" width="113" height="145" /></a>semua kredit apapun jenisnya saya coba kenali dan saya coba aplikasikan dalam kehidupan saya. untuk itu saya harus meyakinkan istri dan mertua agar mereka bisa memahaminya. istri dengan mudah bisa memahami karena memang dia &#8216;kanan&#8217; sekali. sedangkan mertua yang relatif lebih sulit selain profesinya sebagai pensiunan pegawai negeri sipil, pola pikir beliau tentang kredit sangat tradisional dan konvensional, tapi apapun beliau terpaksa harus tetap dilibatkan dalam urusan kredit saya. dan ini jelas setelah mendapat persetujuan dari istri, beliau saya daftarkan &#8217;sebagai keluarga tidak serumah yan bisa dihubungi&#8217; makanya kemudian dalam masalah ini, istri saya lah yang ambil peranan paling besar.  sebab mertua itu kan orang tua kandungnya. perlahan tapi pasti mertua pun setuju dan telepon yang berdering hampir setiap hari di rumahnya yang menanyakan tentang kepastian pengajuan kredit atas nama saya atau istri akhirnya menjadi kegiatan rutin yang tidak lagi istimewa.</p>
<p style="text-align: justify;">itulah pada akhirnya saya semakin sadar, rupanya passion saya atau iman saya dalam bidang entrepreneur terutama tertuju pada masalah kredit. saya begitu menguasai masalah kredit, bukan hanya saya, istri sebagai orang terdekat juga sangat fasih dalam hal ini. kami berdua akhirnya menjadi seperti berlomba dalam mengajukan berbagai macam kredit. siapa yang disetujui lebih dahulu atau yang memperoleh kredit limit lebih banyak itulah yang menjadi juara. yang jadi juara pastinya akan dapat reward.</p>
<p style="text-align: justify;">dan kondisi seperti ini tidak hanya berada antara saya dan istri. tapi juga bergaung keras di kalangan teman-teman dekat. saya menjadi sedemkian populernya sebagai orang yang paling mengerti masalah tentang kredit. jadinya banyak kawan yang datang dan bertanya-tanya kepada saya tentang tips dan trik dalam pengajuan kredit. saya dengan senang hati menjelaskan karena dengan adanya orang yang bertanya pada saya, jadinya saya seperti memperoleh ladang untuk mempraktekkan teori-teori baru saya tentang kredit. rata-rata teman-teman tidak keberatan karena yang sudah-sudah lebih banyak yang di setujui pengajuannya daripada yang ditolak. dipihak lain, istri yang hanya mengamati sepak terjang saya dan sebagai pendengar yang baik dari semua cerita saya, akhirnya pun menjadi ahli tentang kredit di lingkungan teman-temannya. istri akhirnya juga menjadi tempat bertanya bagi teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">kegiatan pencarian kredit akhirnya menjadi kegiatan utama saya dan itu merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. semua yang saya lakuka disitu saya lakukan dengan senang hati dan tanpa adanya keterpaksaan. efek lain yang saya dapatkan adalah saya akhirnya jadi punya bisnis real beneran. berupa toko baju, rental mobil dan pengelolaan properti yang disewakan. semuanya tanpa direncanakan dan hanya megalir begitu saja karena memang yang bener-bener direncanakan dengan baik adalah hanya pencarian kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">dari semua faktor yang menyenangkan itu, faktor-faktor resiko pastilah juga menjai pemikiran utama saya. dalm teori bisnis manapun selalu dikatakan &#8216;high return &#8211; high risk&#8217; makaya saya tidak pernah menganggap remeh soal resiko yang bakal saya hadapi bila segala sesuatunya tiba-tiba tidak berjalan mulus sesuai rencana. orang pertama yang harus juga paham adalah istri saya, makanya saya selalu meluangkan waktu berdua untuk membahas kesiapan kami berdua bila bener-bener harus menghadapi resiko kredit macet. ternyata disini kami saling menguatkan satu sama lainnya, jadi ya sudah jalan saja terus.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi saya juga tau dengan pasti di kalangan teman-teman banyak juga yang tidak setuju dan tidak suka terhadap apa yang saya kerjakan. kadang tampak nyata bahwa mereka berharap saya suatu saat akan terjungkal akibat kebanyakan kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">mungkin ini juga yang bikin saya yakin bahwa passion atau iman saya adalah kredit. karena di surabaya dikalangan teman-teman sudah beredar  bahwa nama samurai identik dengan kredit. seperti aqua identik dengan air mineral, atau al&#8217;quran identik dengan umat muslim, atau imam samudra identik dengan teroris atau golkar identik dengan warna kuning.</p>
<p style="text-align: justify;">pokoknya yang kayak-kayak gitulah. <a href="http://zenhabits.net/fotos/20080805passion.jpg"><img class="alignright" src="http://zenhabits.net/fotos/20080805passion.jpg" alt="" width="128" height="117" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">di kalangan teman-teman entrepreneur surabaya juga banyak yang passionnya jelas misalnya seperti danton identik dengn internet hosting, riano identik dengan masakan madura, samsul gendut identik denga broker atau makelar dan banyak lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">entah salah entah betul, kira-kira begitulah passion menurut saya, dan passion seseorang tercermin dari apayang dilakukannnya secara rutin hari demi hari.</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya lagi, jika seseorang sudah menemukan apa yang jadi passionnya, bisnis apapun atau kerjaan apapun yang digeluti biasanya berjalan relatif lancar kalo nggak menjadi sangat lancar.</p>
<p style="text-align: justify;">entah ini juga ngawur atau enggak, menurut saya passsion seseorang bisa menggambarkan apa yang menjadi tujuan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">pokoknya gitu deh!!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/11/passion-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

