teman-teman yang baik

posted in: Artikel Menarik | 1

menyenangkan sekali punya banyak teman itu.

dulu saat masih mengelola perusahaan keluarga saya hampir tidak punya teman sama sekali. selain karena saat itu saya baru menjadi penduduk surabaya setelah bekelana di jawa tengah dan jakarta, saya juga langsung didudukkan jadi pimpinan perusahaan oleh sodara-sodara saya, sehingga waktu saya sehari-hari habis untuk kerja dan mengenali serta mempelajari perusahaan. akibatnya saya hanya kenal dengan karyawan saya dan teman-teman karyawan saya yang sering main ke kantor.  tapi tentu saja pertemanan yang seperti itu sangat tidak menyenangkan karena walau bagaimanapun tetep ada gap diantara kami. saya pimpinan perusahaan dan mereka karyawan saya, jelas gak mungkin kita berbicara terus terang dengan santai, yang pasti basa basi banget sering terjadi dalam percakapan kami.

gak asik blas, apalagi kemampuan saya dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan itu sangat jelek.  mungkin ini diakibatkan karena saya sering berpindah-pindah tempat tinggal domisili waktu saya sekolah  dulu. dan itu mungkin yang membuat saya jadi malas bergaul dan membina komunikasi.

saking jeleknya kemampuan berkomunikasi saya, maka sejak saya menikah dan membangun bisnis pribadi,  setiap saya akan membangun  hubungan baru atau bertemu relasi, konsumen atau pelanggan, maka saya akan mengajak istri saya untuk ikut serta.  saya mengajak istri dalam kegiatan itu,  maksudnya supaya  istri saya bisa membantu dalam membuka dan memulai percakapan.  baru setelah itu saya bisa ikuti dan terlibat  didalamnya sehingga saya akhirnya bisa masuk dengan enak dalam percakapan itu.  kalau saya berangkat sendiri dijamin pasti pertemuan tersebut lebih banyak diam-diamannya karena saya sibuk berpikir tentang pembicaraan apa yang akan saya omongkan. sedang saat masih mengelola perusahaan keluarga saya sering bersembunyi dibelakang karyawan bagian marketing dan membiarkan mereka yang memimpin pembicaraan sedang saya hanya meng-amini saja.

sejak sering tandom dengan istri saya, banyak masukan yang saya terima terutama tekanan agar saya mulai belajar berbicara dan berkomunikasi. pusing kepala saya jadinya. berbicara dan berkenalan dengan relasi baru itu sama sekali berbeda dengan kalu berkenalan dan berbicara dengan cewek-cewek, lebih mudah bicara dengan cewek menurut saya karena ada kebutuhan wanita untuk dikenal cowok. tapi itupun sering kali untuk awalan saya masih sering juga ngajak teman, setelah pertemuan pertama baru saya maju sendiri. nah kalo dengan teman baru atau relasi baru, istri saya bahkan terpaksa harus ikut menemani pertemuan tersebut sampai tiga empat kali baru deh percakapan jadi lancar. istri saya gak mau saya selalu bergantung padanya setiap kali berhubungan dengan orang baru.  jadi saya harus berusaha mandiri, gitu perintahnya……

kondisi saya saat setelah perusahaan keluarga yang saya kelola itu bangrut rupanya sangat mendukung apa yang di perintahkan oleh istri saya. saya ketika itu bergabung dengan pelatihan entrepreneur, otomatis disana saya jadi kenal banyak orang yang semuanya mempunyai satu persamaan yaitu ingin berwirausaha. karena punya persamaan kepentingan, secara tidak disadari saya  akhirnya  menjadi  rajin menjalin pertemanan dan rajin berkomunikasi dengan teman-teman baru itu.  gak perlu pusing-pusing  nyari materi ngobrol, karena pokok bahasannya jelas yaitu tentang dunia entrepreneur  yang sangat banyak dan bervariasi.

di sana pula saya jadi punya figur atau contoh untuk menjalin komunikasi.  mentor-mentor  yang mengajar disana itulah yang menjadi contoh figur yang terbaik buat saya.  pada setiap sesi  pelatihan  saya dapat melihat bagamana para mentor menjelaskan isi materi yang di bawakannya.  dan  melihat cara-cara mereka membangun komunikasi dengan para peserta pelatihan itu. di sana mentornya banyak dan berganti-ganti. tidak seperti saat kuliah di universitas yang dosennya terbatas. dan para dosen itu biasanya tidak mau membangun komunikasi yang baik dan cenderung menjaga jarak dengan mahasiswanya.

para mentor senantiasa  selalu berusaha berkomunikasi dengan baik dengan para peserta pelatihan. teman-teman di pelatihan itupun demikian, mereka juga berusaha membangun komunikasi dan hubungan yang akrab dengan mentor-mentor yang ada. contohnya banyak dan jelas sehingga saya dapat dengan gamblang belajar dan menirunya.

seperti biasa setiap awal pasti sulit.

apalagi buat saya yang gak mudah bergaul. tapi lagi-lagi lingkungan sangat mendukung. karena punya persamaan kepentingan para peserta pelatihan jadi kompak dan punya rasa kebersamaan, kita jadinya sering kumpul dan berdiskusi tentang apa saja. dan itu hampir setiap hari kita lakukan kadang sampai jauh malam. pokoknya saling sharing masalah dan mencari solusinya, dan sering kali kita pergi bersama dua sampai tiga orang untuk mengunjungi mentor atau senior yang lebih berpengalaman. dengan seringnya mengikuti setiap sesi pelatihan, kumpul-kumpul dan saling berkunjung, secara tidak langsung apa yang terjadi hari demi hari itu terekam dalam otak kecil saya. karena saking seringnya dan terbiasa memperhatikan dengan tekun, maka secara tidak sengaja apa yang terekam itu muncul secara otomatis dalam tindak tanduk saya.   maksudnya  saya jadinya bisa mulai mengajak orang lain berbicara, bisa memulai percakapan dengan orang baru  dan  kemampuan itu muncul secara tidak segaja dan biasanya pada saat yang di perlukan.

karena sering ikut kumpul-kumpul jadinya saya mulai bisa membuka pembicaraan, karena sering berkunjung ke senior saya jadinya mulai bisa berbicara dengan orang baru dan asing yang saya anggap punya kemampuan diatas kemampuan saya. dulu jika saya ketemu dengan kondisi yang demikian  maka saya benar-banar akan mejadi seorang yang pendiam, karena bingung harus ngomong apa.

kenapa kemampuan itu muncul?

itu juga karena tidak di sengaja, misalnya saat berkumpul cankruan ternyata yang datang adalah muka-muka baru semua yang tidak saya kenal, sedang teman-teman yang saya kenal belum ada yang datang. maka mau tidak mau akhirnya saya yang memulai percakapan duluan. begitu juga saat kunjungan dan bertemu dengan senior atau mentor, ternyata saya yang datang lebih awal dibanding teman-teman lainnya maka akhirnya saya terpaksa harus berbasa basi duluan.

kondisi tepaksa itu akhirnya bisa menjadi lancar dan terbiasa karena dalam otak kecil banyak tersimpan memori tentang percakapan yang sering saya dengar. lagi pula karena saya rajin sekali ikut kumpul-kumpul dan kunjungan wajah dan nama saya jadinya mudah dikenal oleh orang lain bahkan yang saya sendiri tidak kenal. sering ada telepon masuk dari orang yang saya tidak kenal menanyakan kapan ada acara kumpul-kumpul, dari kondisi itu pun kemampuan bicara saya secara tidak langsung terasah.

di dalam berbagai acara yang sering diadakan teman-teman entrepreneur pemula saat itu, karena saya termasuk yang paling rajin hadir, maka saya sering ditunjuk untuk membuka, menutup bahkan menjadi moderator-nya. dari seorang yang kesulitan untuk berbicara dan mengolah kata-kata, saya akhirnya jadi terbiasa berbicara. saya jadinya sering berbicara dengan siapa saja, apalagi alumni pelatihan itu banyak sehingga selalu ada wajah baru yang gak saya kenal saat kumpul-kumpul.

jadi sering kenalan deh, dengan banyaknya teman maka otomatis jam berbicara saya semakin banyak. dari  seringnya ditunjuk jadi moderator dalam acara kumpul-kumpul maka otomatis saya jadi punya keberanian dan terbiasa berbicara di depan orang banyak dan asing, dalam artian  tidak saya kenal dengan baik.

sesuatu yang menjadi kebiasaan itu ternyata bisa banyak membantu, dan bisa muncul menjadi suatu kelebihan secara tidak kita sadari.   kebiasaan kumpul-kumpul, kunjungan-kunjungan dan jadi moderator akhirnya banyak membantu saya dalam belajar bergaul dan berkomunikasi.

bahkan yang lebih ajaib sekarang ini saya sering diminta jadi pembicara dalam acara-acara talk show atau seminar entrepreneur. suatu pekerjaan yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi pada  diri saya.  bagimana mungkin bisa terbayang saat itu,  saat itu saya adalah seorang yang  nggak bisa sama sekali ngajak bicara bahkan bercakap-cakap dengan orang lain yang baru dikenal.  bahkan hampir selalu tidak pernah terlibat dalam suatu percakapan, bila percakapan itu diikuti oleh orang-orang yang tidak saya kenal.  tapi sekarang ini saya seringkali diundang menjadi seorang pembicara di depan umum yang dihadiri dan didengar oleh banyak orang.

saya gak pernah membayangkan ini bisa terjadi. saya yang awalnya introvert, kuper dan jarang bergaul. bisa berubah menjadi saya yang ada sekarang ini. memang sih saat mengikuti pelatihan dulu itu sempat muncul keinginan dalam hati dimana saya pingin sekali bisa bicara sebagai mentor didepan orang banyak dan semua orang yang hadir mendengarkan dengan seksama apa yang saya katakan.

memang menyenangkan punya banyak teman itu. banyak yang saya dapat dari mereka. banyak yang saya pelajari dari mereka. dari teman-teman itu, saya bisa berubah menjadi lebih baik. banyak pengalaman saya peroleh dari pergaulan, banyak ilmu yang saya dapat dari pergaulan, bahkan banyak kesempatan yang saya peroleh dari pergaulan.

saya bisa menjadi seperti sekarang, semuanya berkat teman-teman saya yang baik………….

Leave a Reply