menjengkelkan sekali

posted in: Artikel Menarik, Sumber Daya | 1

pada saat saya memulai usaha baru setelah masa kebankrutan saya sekitar tahun 2005-2006, saya sama sekali tidak inging menggunakan tenaga karyawan dalam membantu usaha saya.

hal ini dikarenakan pengalaman buruk saat itu dimana saya belum punya kemampuan yang baik dalam mengelola karyawan (sampai saat ini pun sesungguhnya kemampuan saya tidak jauh berbeda) saat itu berdasarkan evaluasi saya dalam menganalisa penyebab kebankrutan, salah satu sebabnya dan ini sepertinya yang utama adalah salah langkah dalam pengelolaan sumber daya terutama karyawan.

saat itu saya masih tangani semua urusan sendiri, semua kebijakan sepihak berasal dari saya, jadi arahnya dari atas ke bawah. apalagi didukung oleh sifat saya yang temperamental, mudah emosi, keras dan mau menang sendiri sehingga kondisinya hampir tidak ada masukan dari bawah ke saya.

saya hanya andalkan satu orang sebagai wakil saya, bila saya sedang berhalangan tapi itupun karena kondisi lingkungan yang otoriter sang wakil tadi hampir tidak berfungsi banyak. malahan kondisi bertambah buruk, atasan dan bawahan hampir tidak ada komunikasi. sehingga semua pihak merasa saling curiga-mencurigai satu dengan yang lainnya. hal yang tidak sehat ini terus berlangsung dan membuat lingkungan bekerja menjadi semakin tidak kondusif sampai akhirnya usaha yang saya kelola benar-benar bubar.

situasi yang tidak menyenangkan itu tidak ingin saya ulangi di bisnis saya yang sekarang. saya benar-benar tidak mau merekrut karyawan pada saat awal merintis bisnis baju ini, sehingga saat itu selain saya membantu istri jualan baju saya lebih focus ke perdagangan derivatif dan investasi. dimana semua pergerakan dalam menjalankan bisnis benar-benar bisa dilakukan sendiri.

tapi pada perkembangan berikutnya, saya dan istri semakin kewalahan dalam menjalankan bisnis baju ini,  disini akhirnya kami mau tidak mau harus merekrut karyawan lagi untuk meringankan tugas harian kami. apalagi kemudian dari sekedar bisnis di rumah, akhirnya kami mempunyai toko yang harus dikelola dengan baik. hampir empat tahun perjalanan bisnis ini, empat toko sudah kami miliki dan sekarang kami punya sekitar duapuluh karyawan baik yang tetap maupun yang freelance.

pada awal perekrutan dulu, prinsip kita dalam mencari karyawan hanya berdasarkan kesetiaan, kejujuran dan mau mengabdi serta bekerja keras. itu lebih di pengaruhi faktor keuangan yang memang tidak dianggarkan kearah pencarian karyawan yang profesional. prinsip saya waktu itu, hanya mencari orang yang dapat membantu.

karena memang mencari dengan spesifikasi yang rendah dapatnya juga rendah. tapi sesuai dengan kriteria yang saya inginkan, jujur, rajin, setia dan mengabdi. itu saja, tidak lebih! saya belum sama sekali kepikiran untuk investasi di karyawan yang handal, profesional dan mumpuni. sampai sekarang hampir semua karyawan yang kita punya hanya memiliki standart jujur dan rajin saja.

perekrutan tenaga profesional pun belum enam bulan ini kami jalankan, itupun masih profesional kelas menengah, sesuai dengan budget yang ada. sehingga sampai saat inpun saya dan istri masih banyak terlibat dalam pengarahan teknis.

apapun saya tetap tidak ingin kasus di bisnis pertama dulu terulang, karena saya masih merasa sifat-sifat jelek ini masih belum terlalu banyak berubah dalam diri saya. sehingga peran istri saya sangat dominan dalam pengelolaan sdm kami.

dalam pemberian motivasi kerja menyelesaikan sengketa antar karyawan, atau penjelasan-penjelasan visa dan misi perusahaan isteri saya yang bayak berperan. kemampuan komunikasinya bagus dan berkepala dingin sehingga peran sertanya diperusahaan membuat tidak ada lagi ‘jarak’ antara atasan dan bawahan. sedangkan saya lebih berperan dalam pembagian kerja.

selama ini hampir tidak ada masalah berarti dalam pengelolaan managemen sdm kami. ketakutan saya akan terulangnya kasus dulu hampir pupus. sampai tiba-tiba saja muncul masalah yang sebenarnya sepele tapi sangat mengkelkan pada salah seorang karyawan senior saya.

sebenarnya masalah ini tidak secara tiba-tiba munculnya, tapi sudah cukup lama bibit-bibit penyakit ini nampak, tapi tertutup dengan pikiran positif kami bahwa ini masalah bisa cepat ditangani dan tidak semakin menjadi-jadi. tertutup juga oleh perlaku si karyawan senior ini yang memang rajin dan jujur dalam bekerja, selama ini memang dia kami unggulkan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan, dan dapat dia selesaikan dengan relatif baik tanpa keterlibatan kami secara fisik. tertutup  juga oleh sifatnya yang baik dan supel membuatnya di segani oleh teman-temanya yang lain. dia sebenarnya kami kaderkan buat menjadi leader.

karena sudah lama bekerja si senior ini merasa sangat senior sehingga merasa dapat bertindak lebih bebas tanpa terlalu harus berkoordinasi dengan kami, dia mulai sering memakai fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadinya, walaupun dia gunakan setelah semua pekerjaannya beres, sikapnya masih tetap kooperatif tapi sering tidak sejalan dengan aturan-aturan yang sedang kita terapkan bersama. tidak merugikan sih cukup sering bukin kami jengkel.

saat saya sedang menyusun sistim kerja yang baik, si senior sering bertindak diluar prosedur.  teman-temannya yang lain segan pada si senior, sedang si profesional selain usianya masih lebih muda juga sedang taraf pengenalan dengan lingkungan kerja barunya di tempat kami. kekhawatiran kami tingkah yang seperti itu menular pada karyawan yang lain sementara sistem belum lagi siap.

tindakan-tindakan si senior yang menurut saya sering tidak tepat ini yang sekarang bikin pusing saya dan istri. dalam kondisi ini saya bersukur karena sekarang saya berpartner dengan istri dalam menjalankan bisnis ini karena istri lebih sering berpikiran dingin dan tidak mengikuti emosinya. coba jika usaha ini masih saya kelola sendiri seperti dulu, pasti sudah tejadi ending yang buruk anatara saya dan si senior.

sekarang kami berdua sedang berpikir keras bagaimana mencari sikap dan tindakan yang tepat dalam penanganan si senior.

sedang si profesional lebih kami focuskan dalam pembuatan sistem yang harus segera jadi supaya karyawan kami yang lain tidak menjadi seperti si senior.

disini kami mendapat pelajaran yang berharga dalam kasus ini,

karena kami tidak mencari yang profesional maka dapatnya juga yang tidak profesional.

karena belum punya sistim maka yang kami dapatkan adalah segala hal yang berjalan tidak teratur .

muncul kesulitan dalam mengambil keputusan yang tepat dalam permasalahan sdm karena memang belum adanya patokan berupa peraturan dan sistem yang jelas.

faktor ‘merasa tidak enak’ juga menjadi penghambat dalam pengambilan keputusan, karena apapun jasa-jasa sisenior besar dalam membantu kami di saat-saat awal membangun bisnis sampai berkembang  seperti sekarang.

Leave a Reply