kaki diatas kepala dibawah

posted in: Artikel Menarik | 6

suatu fase kehidupan sudah berlalu. tapi sebagai manusia hidup saya harus terus menjalaninya apapun yang terjadi, baik atau buruk, susah atau senang, suka atau tidak.

semua yang terjadi dan berjalan itu sesuai dengan pilihan hidup saya ,makannya saya harus terus melewati fase-fase kehidupan berikutnya.

sebagai lulusan entrepreneur university angkatan 11 surabaya sekitar tahun 2005-2006 tentunya  saya ingin sekali segera mempraktekkan dan mengamalkan semua ilmu yang didapat di masa pendidikan. semua yang diajarkan oleh para mentor segea saya praktekkan hampir tanpa mikir lagi, dengan harapan tentu saja bisa memperoleh perbaikan kehidupan setelah mengalami kebankrutan di bisnis pertama.

step demi step yang diajarkan oleh para mentor saya lakukan dengan patuh padahal saat itu saya hampir tidak bisa melihat hasil atau akibat dari saya mengikuti cara-cara para mentor itu. saya nggak kenal para mentor, mereka juga gak kenal saya. saya juga sulit buat menghubungi dan berkomunikasi dengan mereka. tapi saya percaya bahwa gak mungkinlah para mentor itu membohongi anak didiknya. benar atau salah ajaran mereka biarkanlah alam semesta yang akan membuktikannya kelak, gitu pikir saya. karena memang gak ada pilihan lain buat saya saat itu, selain untuk mempraktekkan ajaran para mentor .    saya bener-bener gak pingin hidup diatur-atur oleh orang lain dan bekerja sebagai karyawan. saya pinginnya bisa ngatur diri sendiri sebebas-bebasnya.

hanya itu keyakinan yang saya bawa. dengan keyakinan itu saya memulai langkah dengan mencari kredit karena konon kabarnya dengan kredit maka bisnis baru bisa jalan. itu yang saya percayai. tanpa bekal modal dan asset saya coba untuk memperoleh kredit buat menjalankan bisnis. kredit untuk menjalankan bisnis apa saya sendiripun gak ngerti. poko’e nyari kredit.

seperti yang bisa diduga walaupun sudah mematuhi 100% teori EU dalam mencari kredit, ternyata bener-bener gak semudah membalikkan telapak tangan. semua aplikasi kedit saya ditolak oleh sekitar 20 bank. putus asa pastinya tapi saya gak putus-putus banget dalam membangkitkan semangat. setelah mengaca dan intropeksi diri sendiri dan memperoleh kesimpulan bahwa bank gak mau ngasih kredit ke saya  karena memang performa dan kredibilitas saya sangat meragukan. saya sendiri saja ragu apalagi orang lain.

akhirnya saya mulai berinovasi dalam pengajuan kredit, bukan diri saya pribadi sebagai pebisnis yang saya ajukan tapi saya mengajukan orang lain sebagai samaran. saat itu saya ajukan istri saya yang berprofesi sebagai dosen dan seperti sudah bisa diduga pengajuan kreditnya langsung cair karena memang profesi istri saya mendukung untuk itu.http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg

kredit pertama cair sehingga saya akhirnya punya modal beneran buat mengajukan kredit-kredit brikutnya dan menjalankan bisnis. sepeti teori kuno mengatakan, memang yang pertama itu yang paling sulit, setelah itu akan lebih mudah dan setelahnya menjadi sangat mudah.

jam terbang saya mulai ada karena telor sudah pecah. saya jalankan bisnis dirumah karena memang gak ingin jauh dari rumah segala aktivitas saya. karena memang modal yang didapat gak begitu besar barang yang bisa saya beli juga banyak, selain itu saya kan tetep perlu mencadangkan dana buat membayar angsurannya setiap bulannya. segera saya pakai trik yang lain. kalo gak punya barang sendiri pakailah barang orang lain dan akuilah dengan seyakin-yakinnya sebagai barang kita, gitu kan bunyi teorinya. saya pun menjalankan dengan patuh. kebetulan didepan rumah saya tinggal teman EU juga yang sama-sama berbisnis pakaian. tapi bisnisnya bener-bener nyata dan beliau punya stok barang dagangan  yang banyak dan lengkap karena memang beliau bertindak sebagai distributor.

saya pinjem barang beliau satu-dua hari buat dipamerkan ke bank dalam pengajuan kredit-kredit saya. luar biasanya beliau mengijinkan walaupun saat itu kami lom terlalu saling kenal meski rumah kita hanya berjarak sekitar 100m-an. dengan cara itu saya bisa meyakinkan bank lagi dan kredit pun cair, tapikali ini benar-benar atas nama saya dan atas dasar bisnis saya.

dua teori yang saya dapat dari mentor dan saya praktekkan mentah-mentah ternyata berhasil. tentu saja bikin saya bangga dan semakin tergila-gila. mulai dari itu hari-hari saya hanya saya isi dengan mencari kredit kesana dan kemari. saya benar-benar fokus dalam mencari kredit. saya baca buku-buku, saya pelajari juga lewat semua media semua hal yang berkenaan dengan kredit. karena memang saya bener-bener ingin menguasai bidang kredit maka saya harus menjiwai dan mendalami semua hal mengenai kredit.

karena saya focus, rencana saya dan usaha saya pun mulai menampakkan hasil. bahkan hasilnya bener-bener sangat mengejutkan. saya menerima kredit dari berbagai bank, jenis kredit yang saya dapat juga beraneka ragam. pokoknya asal berjudul kredit saya pasti terima. hari-hari benar-benar saya lalui bersama kredit, tiap bulan ada saja kredit yang cair. jumlahnyapun sering bikin ta’jub, gak nyangka kalo saya ternyata dipercaya oleh bank buat mengelola kredit sedemikian besar.

karena memang mencari kredit adalah tujuan saya maka dari awalpun hal ini saya komunikasikan secara rutin terhadap istri. dari rutinitas komunikasi ini, istri sayapun setuju dengan apa yang saya  lakukan. dia sangat mendukung, bahkan dukungannya pun nyata tidak hanya di bibir saja. istri sayapun juga rajin mengajukan kredit. tentu saja yang di jual dalam pengajuan itu adalah status karyawannya.   situasi ini  berlangsung setiap hari dan akhirnya dalam rumah tangga kami seolah terjadi pelombaan, perlombaan mencari kredit.   siapa yang dapat duluan akan bersorak dan siapa yang dapat kredit dengan limit lebih besar dari yang lain akan tertawa keras sambil bersorak sorai.   bila salah satu  dari kami  kreditnya sudah disetujui dan sudah masuk ke dalam rekening,  maka hal itu kami rayakan bersama,  selayaknya suatu kemenangan.

menyenangkan sekali berlomba dengan istri dalam mencapai apa yang dituju dan disukai bersama. jadinya kita berdua semakin punya persamaan yang bisa lebih bikin lebih akrab satu sama lainnya.

permainan kami semakin meningkat, yang semula kredit yang kami dapat kami putar dalam perdagangan baju, maka kemudian kredit itu mulai kami belikan asset property. semakin banyak kredit yang kami peroleh maka semakin banyak kami membeli property. selain propery beberapa produk investasipun kami coba. kadang gagal tapi lebih sering berhasil. menyenangkan sekali menjlankan petualang baru ini.

dari kredit,  kami bisa melalukan dan membeli apa yang kami sukai. selain itu kamipun selalu membayar  semua angsuran sesuai dengan perjanjian dan hampir tidak pernah terlambat. pembayaran yang kami lakukan juga selalu sesuai yang ditagihkan, jarang sekali kurang, mungkin malahan tidah pernah kurang, selalu full.

bener-bener dari nol, tanpa asset atau jaminan tapi bisa dikucuri kredit sedemikian banyak bikin kami punya banyak cerita. dengan kredit pula pada sekitar tahun 2006-2007 saya berhasil memiliki sebuah toko baju, yang lokasinya berada di sebuah mall ditengah-tengah kota surabaya. itu bisnis nyata saya yang pertama. dengan ketambahan potensi berupa toko tersebut, nilai kredit yang kami peroleh pun semakin besar  berlipat-lipat. akibatnya maka kemudian toko ke dua sampai toko keempatpun berhasil kami dirikan dalam kurun waktu tidak lebih dari setahun.

punya toko lebih dari satu pastinya bikin urusan menjadi lebih repot dan rumit. yang tadinya bisa hanya dilakukan berdua antara saya dan istri disela-sela waktunya sebagai dosen. kini urusan yang kami tangani akhirnya beraneka ragam meliputi pengelolaan karyawan, managemen, pembelian   dan  pejualan, administrasi  keuangan serta macam-macam yang lain.   meski berawal dari sekedar kredit tapi dalam pengelolaan toko kami berdua tidak main-main. kami berdua serius mengelola keempat toko kami itu. perputarannya cukup baik dan penghasilan dari situ  cukuplah buat  beli rokok saya , kosmetik istri saya   dan susu buat anak-anak saya.  walau masih jauh dari cukup untuk menutup  pembayaran kredit-kredit yang kami miliki.

kondisi ini bahkan bisa menulari dua kawan seprofesi istri saya. bukan kawan biasa, tapi kawan senior bahkan bisa dikatakan atasannya. melihat apa yang kami lakukan, terutama  setelah mereka melihat sepak terjang istri saya. itu membuat mereka akhirnya ikutan terjun dalam bisnis yang serupa.  masing-masing dalam waktu beberapa bulan saja bisa membuka dan menjalankan dua toko pakaian di mall yang sama. ini  menjadi lebih menyenangkan, karena akhirnya istri saya ternyata bisa menjadi inspirasi kawan-kawan seniornya.

hari-hari terus berjalan, dengan modal kredit saya dan istri terus hidup,   bisa memiliki dan memgelola empat toko, sekian property, sekian kendaraan dan bahkan bisa jalan-jalan keluar negri.  liburan pun menjadi setiap hari karena urusan toko sudah dijalankan oleh karyawan,  semua sesuai apa  yang kami  impikan.  anak-anak pun dapat disekolahkan ditempat yang bagus. mungkin jika kami tidak  pernah mengambil kredit dan hanya hidup dari penghasilan kami perbulan sekitar dua puluhjutaan-lah, jika penghasilan saya dan istri digabung. maka pastinya kami saat ini tidak mungkin menikmati itu semua hanya dalam kurang dari masa lima tahun.  kehidupan perekonomian kami mungkin hanya pas-pasan saja.

tapi kami sadar bahwa yang kami jalani ini bukannya jalan tol yang bebas hambatan. jalan yang kami pilih sangat beresiko bahkan tingkat resikonya maksimal. kami berusaha teus menyadari hal itu, berusaha terus menyadari bahayanya sehingga kami selalu barusaha siap bila menghadapi kondisi gawat. komunikasi tentang resiko ini terus kami tingkatkan. masing-masing beusaha mengingatkan yang lain dan berusaha saling menyemangati bila kondisi berunbah jadi buru.

gak ada satu orangpun yang menginginkan kondisi buruk. semua orang selalu mendambakan kondisi bahagia nan sempurna selama-lamanya. pastinya gak ada kan kondisi seperti itu.

http://justnurman.files.wordpress.com/2009/04/truk-terbalik.jpg?resize=148%2C111

sekitar lima tahun kami mengukir prestasi gemilang di bidang kredit. sampai akhirnya saat itu tiba, saat yang tidak pernah diharapkan semua orang. akhir 2008 muncullah krisis ekonomi dunia yang semakin lama semakin gawat. banyak terkena dampaknya, baik diluar negeri maupun di indonesia. perbankan yang paling terpukul dengan kondisi ini. mereka tidak ingin terkena imbas lagi sehingga masa keterpurukan perbangkan seperti tahun 1998 terulang.

langka-langkah preventif dilakukan dunia perbankan, selain menaikkan suku bunga mereka juga selektif dalam pemberian kredit. tidak hanya selektif bahkan juga dengan menghentikan sementara pengucuran kredit bank. penghentian itu dilakukan dengan masa yang tidak pasti batasnya berakhirnya.

nah, hantu-hantu pun mulai mendatangi kami. kegelapan mulai menyelimuti kehidupan kami. dengan dikurangi bahkan dihentikannya pengucuran kredit oleh bank maka perolehan keredit kami mulai menyusut.  perlahan tapi pasti semakin tidak ada kredit yang kami peroleh. dengan tidak adanya pemasukan dari kredit maka tidak ada lagi perputaran uang yang bisa kami lakukan.

tidak ada kredit yang kami peroleh dan tidak ada perputaran yang bisa kami lakukan, berakibat dalam berbagai pembayaran angsuran yang jatuh tempo. dari awal kami sadar bahwa pendapatan dari bisnis nyata tidak akan mencukupi jika dialokasikan buat pembayaran kredit, pendapatan dari investasi juga terhenti terutama yang kami tanamkan di pasar modal, karena nilai saham-saham yang kami koleksi berguguran  dengan cepat di saat-saat awal krisis itu  datang.

kini kami benar-benar harus siap menghadapi saat-saat yang tadinya hanya berupa wacana dalam diskusi saya dan istri. pengeluaran yang berupa kewajiban jalan terus tapi pemasukan seakan berhenti. kalo pemasukan berhenti total trus kami harus menggunakan apa buat membayar semua kewajiban dan biaya operasional. itu pertanyaan yang muncul dan berputar-putar dalam pikiran saya.

akhirnya yang tadinya hanya strategi dan wacana,  sekarang musti dan harus benar-benar diterapkan. supaya kehidupan kami gak tambah terpuruk. untungnya mental kami sudah disipakan lama sebelum kondisi ini benar-benar terjadi. jadi secara mental kami lebih siap.

rupannya kondisi buruk tidak hanya mendatangi keuangan kami. tapi juga mendatangi kami secara phisik. dengan strategi mencari invetor kami berharap bisa mengembalikan situasi menjadi normal kembali. tapi ternyata krisis bikin investorpun sembunyi. tapi kami tetep semangat buat mencari dan mendapatkan mereka. suatu saat istri saya berhasil bernegosiasi dengan seorang investor dan bisa bikin investor itu mengucurkan dananya ke kami buat kami kelola.   istri saya senang sekali dengan keberhasilannya,  dan berita  bahagia itu segera disampaikan kesaya yang saat itu bertugas menyusun strategi di rumah.

proses standart berlangsung, uang diserahkan oleh investor dan istri saya segera membawanya untuk disetor ke bank.                  situasi ini memang nampak seperti sudah diatur  oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan.   tindakannya tidak seperti biasanya,  istri saya  sedikit terlena oleh prestasinya.   apalagi saat itu  anak-anak  diajaknya  serta karena  saya tidak bisa ikut menemaninya datang ke investor.  istri saya yang sangat bahagia karena dia berhasil menggoalkan proyek itu,   ternyata  tidak langsung menyetorkan uang yang di bawanya itu  ke bank seperti biasanya.     dia pingin seneng-seneng dulu sama anak-anak,   toh bukan sekali dua kali dia bawa uang banyak dalam tasnya dan menyopiri mobil sendiri.    hal itu sudah sering dia lakukan jadi gak ada beban dan rasa takut sama sekali saat menjalaninya.

rupanya kali ini beda, seperti sudah ada sutradara yang mengaturnya. dalam perjalannya ban mobil istri saya kempes di suatu tempat dan pada saat dia turun hendak memeriksa,  tasnya yang berisi segala macam barang berharga serta uang dari investor disambar dan dibawa kabur penjahat. istri saya berteriak dan mengejar tapi lalu terjatuh saat berlari, melihat ibunya jatuh anak-anak berteriak dan menangis. kondisi semakin kacau balau gak keruan. tapi yang jelas duit investor bersama berbagai barang berharga dalam tas istri saya lenyap.

yang tadinya satu lilin berhasil menyala sekarang benar-benar padam dan gelap gulita karena satu-satunya lilin yang dipunyai padam. uang yang seharusnya bisa berputar-putar hilang lenyap dan yang lebih menyenangkan adalah yang hilang itu bukan uang kami. sudah jadi kewajiban kami buat menggantinya, dan kami memang berusaha mengganti apalagi investor tadi juga sudah berbaik hati mau memberikan tempo pengembalian pada kami.       yang semestinya kami bisa menghasilkan sesuatu melalui uang tersebut, malah menjadinya tambahan beban kewajiban.

skenario ini tidak pernah kami siapkan, jadinya kami sekarang harus melangkah tanpa rencana yang siap. yang paling gampang dan paling pertama muncul dalam otak kami adalah menghentikan sebanyak mungkin pengeluaran atau menghindari rencana pengeluaran baru.

strategi itu yang kami jalankan kini.

salah satu mobil yang kami miliki, langsung  kami kembalikan ke dealer supaya gak perlu dibayar lagi angsurannya.

https://i1.wp.com/2.bp.blogspot.com/_Iv3R6_w1SVw/Snb5HvzX4NI/AAAAAAAABzw/XUhkSULYZz8/s400/kaki+paling+mahal.jpg?resize=144%2C152

dua buah toko kami langsung ditutup,  karena kebetulan masa sewanya sudah habis dan kami harus segera perpanjang pembayaran sewanya bila ingin menggunakannya kembali. memperpanjang sewa kedua toko itu berarti mengakibatkan pengeluaran baru, apalagi kini harga sewanya sudah naik.  menurut kami dari pada ngeluarin uang buat sewa mending uangnya kami belikan lebih banyak produk.toh kami tetep bisa bertransaksi di rumah kami.  ada perasaan haru yang muncul dalam hati,  kami jadi teringat pada saat-saat  awal saya dan istri merintis bisnis ini lima tahun lalu, kami melakukan semuanya sendiri atau berdua  bersama-sama dari rumah.  dengan ditutupnya dua toko berarti kami juga telah memangkas biaya karyawan, karena dua karyawan yang bertugas disitu terpaksa harus di phk

langkah berikutnya menjual semua property supaya bisa jadi uang kas yang bisa diputer-puter.

langkah berikutnya lagi, laporan sama bank-bank yang sudah memberi kami kredit bahwa mungkin pada bulan-bulan kedepan pembayaran kami akan tersendat bahkan bisa macet.

langkah paling berikut, berpikir keras buat mencari sumber keuangan baru yang bisa di pakai untuk senang-senang bersama anak-anak………

kami sekarang sedang melakukan langkah-langkah itu, sambil menyiapkan suguhan yang layak bila kami dikunjungi oleh banyak debt collector. disamping itu kami juga harus menghafal greeting yang akan kami ucapkan bila kami deteleponi oleh mereka.

menyenangkan bukan!!!!!!!!

—————————————————-

New comment on your post #447 “kaki diatas kepala dibawah”
Author : online (IP: 95.132.219.123 , 123-219-132-95.pool.ukrtel.net)
E-mail : xfersomanis@gmail.com
URL    : http://my-addr.com/
Whois  : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=95.132.219.123
Comment:
Terima kasih untuk blog yang menarik

Leave a Reply