godaan asap sate….

posted in: Artikel Menarik | 0

Waktu itu saya dan beberapa kawan sedang jalan-jalan dan cangkruan di tepi telaga sarangan, sebuah daerah pareiwisata yang berada tepat di perbatasan jawa tengah dan jawa timur (cuman di batasi  oleh jembatan dan gapura).

Perut kami kebetulan sudah kenyang karena baru saja menyantap makan siang di sebuah warung di pintu masuk ke daerah wisata itu. yang saya nggak tau ternyata di seputaran telaga, banyak sekali pedagang yang berjualan sate, mereka berjualan sate ayam dan kelinci dengan di pikul sehingga bisa langsung menjangkau calon konsumennya seperti saya ini yang bejalan atau duduk-duduk di tepian telaga.

Seperti para pedagang pada umumnya tentu penjual sate itu bergantian menawari kami untuk memesan sate dagangannya. Mereka nggak henti-hentinya menawari kami, walopun mereka adalah para pedagang tradisional tapi mereka tampaknya sadar banget tentang artinya ‘sebuah penawaran’ mereka rasanya tau banget kalo mereka nggak menawarkan dagangannya pada calon konsumennya maka pasti nggak akan terjadi penjualan atau transaksi dan jika gak ada transaksi pastilah mereka nggak dapat duit.

Teori klasik ini ternyata di kuasai banget oleh mereka, para pedagang sate itu (memang yang gak henti-hentinya menawari saya kebetulan para penjual sate, mungkin karena postur saya yang ‘ndut’ jadi dianggap pangsa pasar yang empuk buat mereka)

Nah yang menarik buat saya, karena yang di lakukan oleh penjual sate itu ternyata nggak cuman menawarkan jualannya lewat suara saja dan berjalan hilir mudik di sekitar kami. Ada satu pedagang yang nampaknya sengaja menggelar dagangannya gak jauh dari tempat saya duduk.

Kira-kira pada jarak 4-5 orang dari saya salah seorang penjual sate itu nampak asik membakar beberapa tusuk sate, asap mengepul-ngepul dari bakaran satenya, saya heran juga padahal nggak ada orang lain disitu kecuali saya dan kawan-kawan, trus kami juga nggak ada yang memesan sate padanya, otak saya langsung berputar “jadi dia membakar sate buat siapa” begitu pertanyaan yang muncul dari otak saya.

Saya tanyakan ke kawan-kawan ada nggak diantara mereka yang memesan sate tanpa setahu saya, dan sesuai dugaan saya memang nggak ada yang pesan, wong kami semua masih kenyang setelah makan secara membabi buta sekitar 30 menit sebelumnya.

“Jadi tukang sate itu masak buat siapa?” tanya saya kepada kawan-kawan, nggak saya sangka mereka ketawa semua. Saya makin heran soalnya memang gak ada yang lucu.

Melihat kebingungan saya maka seorang kawan menjelaskan ke saya kalo apa yang dilakukan si tukang sate itu hanya trik saja buat menarik perhatian dan membuat calon pelanggannya tergoda karena mencium bau asap bakaran sate yang memang harum menggoda itu. Saya makin tertarik, karena memang bau asap bakaran sate itu bener-bener menggoda otak saya untuk bilang ke mulut agar berteriak memesan duapuluh tusuk sate ke tukang sate itu.

Kawan saya menjelaskan kalo si tukang sate itu gak bener-bener membakar sate, dia hanya seolah-olah membakar sate saja, tukang sate menyalakan bara lalu menyiram minyak ayam ke bakarannya sehingga mengeluarkan asap yang lalu dia kipas-kipas seolah-olah sedang membakar sate, sedangkan satenya sediri ditaruh di bagian bakaran yang jauh dari bara, jadi walo si tukang kelihatan sibuk membolak balik sate sebenernya dia nggak mbakar sate sama sekali.

Penasaran dengan penjelasan itu, saya langsung berjalan seolah-olah menuju ke suatu arah padahal tujuan saya adalah berjalan di belakang si tukang sate dan melihat apa yang dia kerjakan apakah bener seperti yang dikatakan kawan saya. Ternyata bener, walo nggak terlalu jelas kelihatan tapi tampak oleh saya kalo api dan bara ada di sisi yang berbeda dengan tusukan sate yang di bolak-balik oleh si penjual.

Hehehe, boleh juga cara si tukang sate itu menggoda selera calon konsumennya, dengan asap yang harum dia memang berhasil membangkitkan selera saya dan saya tergerak untuk memesan serta melupakan perut saya yangmasih kenyang.

Saya pernah dengar teori semacam ini di ajarkan di berbagai seminar dan worksgop bahkan juga di tulis di berbagai buku, teori ini dipake oleh berbagai usaha dan bisnis makanan mewah yang dijual di mall-mall di berbagai kota besar, yang menggugah selera konsumennya dengan bau harum masakannya untuk kemudian membuat konsumennya membeli karena tergugah oleh harum bau masakan.

Saya yakin si penjual sate tradisional itu nggak pernah ikut seminar, workshop dan bahkan belum tentu sudah baca buku yang membahas teori itu, tapi dia mempraktekkannya secara alami, dan apa yang dilakukannya ternyata memang terbukti berhasil…

Roti Boy….

Adalah sebuah contoh dari brand modern kenamaan yang paling gampang disebut dan popular, mereka melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan si tukang sate di telaga sarangan di pelosok perbatasan jawa tengan dan jawa timur.

Belajar dari si tukang sate, ternyata memang cara berpromosi dalam melakukan penawaran nggak harus mahal dan mengeluarkan biaya banyak, buat yang berkantong cekak ada banyak jalan untuk berpromosi tanpa harus takut sama biaya….