dipikir dengan penuh keyakinan

posted in: Artikel Menarik, Sumber Daya | 1

masih inget dengan tulisan tentang karyawan senior saya yang saya beri kepercayaan tapi akhirnya merasa dirinya hebat dan sering berbuat ulah yang menjengkelkan?

saya dan istri sebagai owner bener-bener hampir kehabisan cara buat merubahnya menjadi lebih kalem. karena setiap kali di ingatkan dan diberi teguran baik secara halus sampai secara tegas reaksinya selalu sama, yaitu wajah cemberut, muka ditekuk dan setelah itu pekerjaannya bukannya semakin baik tapi malahan semakin parah.

kondisi ini semakin menghawatirkan karena seperti diketahui, dia itu adalah karyawan senior yang menjadi lead bagi teman-temannya di tempat usaha kami. kalau habis di tegur oleh kami berdua, bukan hanya kerjaannya yang kacau tapi juga ber-efek pada kawannya yang lain. mereka yang gak ngerti apa-apa ikut kena semprot wajah cemberutnya dan yang bikin tambah sumpek situasi kerja hari itu jadi gak nyaman.

bukannya kami gak mau langsung mengeluarkan keputusan tegas buat memecatnya tapi kami merasa pemecatan secara langsung bisa  membuat efek yang lebih buruk lagi. karena sebagai senior dia bisa saja kemudian mempengaruhi rekan kerjanya untuk berbuat yang tidak baik juga.

tapi kami tidak bisa berdiam diri saja karena tindakan dari karyawan tadi sebenarnya tidak juga disukai oleh teman-temannya. mereka juga merasa terganggu oleh tindakan si senior itu.

saya dan istri terus bertukar pikiran untuk mengambil keputusan yang terbaik buat menindak si senior tadi. bila menuruti sifat saya yang emosional ,  saya sih pinginnya langsung ambil tindakan tegas saat itu juga. tapi selalu bisa direm oleh istri saya, walaupun dia juga sebel tapi istri selalu mengingatkan tentang prestasi si senior saat awal kami membangun bisnis ini. istri saya selalu mengajak saya berpikir dengan kepala dingin tentang langkah-langkah apa yang harus kami ambil.

hampir setiap hari kami berdiskusi mengenai tindakan yang harus kami lakukan dan efek-efek dari keputusan kami.

akhirnya tindakan petama yang kami ambil adalah mengurang kewenangan dan tugas-tugas dari si senior, kami berusaha untuk mengajari karyawan lain untuk melalukannya. si senior sendiri supaya gak kerasa kalo porsi tugasnya dikurangi kami beri tugas untuk ngajarin karyawan yang nantinya akan menggantikan tugas-tugasnya. tentu saja kami tidak memberi tahukan alasan kami yang sebenarnya pada mereka. kami hanya kemukakan pada mereka berdua adalah bahwa sebaiknya tidak hanya seorang saja yang tahu tentang pekerjaan di perusahaan. karena bila hanya satu saja yang tau bisa menjadi masalah bila yang bersangkutan tiba-tiba berhalangan. supaya lebih halus si senior tidak hanya mengajari satu orang saja tapi dua temannya sekaligus.

si senior senang karena dia bisa merasa semakin hebat. saat sisenior bertindak dan mengajari teman-temannya tampak sekali rasa bangga dalam wajahnya. sebenarnya itu yang kami harapkan karena dengan rasa bangga maka si senior tidak merasa kalau dirinya sebenarnya sedang kami manfaatkan buat menjatuhkan dirinya sendiri.

selama si senior sibuk ngajarin dua teman juniornya, saya dan istri tetap berunding dan berpikir keras mengenai langkah-langkah apa yang harus kami ambil setelah ini.

sebenarnya dalam pikiran kami berdua, kami sangat berharap datangnya suatu hal yang muncul diluar kendali kami, yang akan membuat si senior mengundurkan diri. kami berdua benar-benar berharap dan yakin hal tersebut akan muncul.

langkah selanjutnya setelah si senior selesai meberikan latihan pada dua juniornya maka kini giliran si junior mempraktekkan semua latihan itu. artinya kini si senior bertindak sebagai pengawas yang hanya memantau apakah pekerjaannya yang dilakukan oleh dua juniornya itu secara bergantiann akan berhasil dengan baik sesuai ajarannya dan seperti saat dia mengerjakan sendiri pekerjaan itu.

dalam masa pengawasan ini otomatis si senior jadinya jarang terjun ke lapangan, dia menjadi banyak berdiam di kantor dan hanya tinggal menerima laporan tentang hasil tugas yang dikerjakan oleh juniornya.

sehari dua hari, sisenior tampak menikmati pekerjaan barunya itu. tapi lewat dari itu seperti dugaan kami dia mulai bosan dengan kondisi kerja yang dialaminya. yang tadinya sisenior bisa dengan leluasa keluar kantor dengan alasan menjalankan tugas-tugasnya, kini dia tidak punya alasan lag buat keluar kantor karena pekerjaannya itu sedang di uji cobakan pada juniornya.

bila dia minta ijin keluar saya jadinya punya alasan buat bertanya kenapa dia harus keluar, toh dua juniornya sedang berlatih dan kemudian melarangnya buat keluar juga dengan alasan sudah gak perlu lagi dia mendampingi temannya yang dua itu karena mereka toh harus juga diberi kepercayaan.

perang urat saraf antara kami dan si senior berlangsung terus. kuat-kuatan tapi kami yakin si senior pasti tidak akan bertahan lama karena memang selama dia tidak keluar kantor, dia memang tidak punya pekerjaan apa-apa. selain memang sengaja tidak diberi tugas, sisenior memang lemah dalam tugas administratif.

selang seling tugas ke luar dilakukan antara si senior dan juniornya, tapi lama-lama kami terus berusaha agar tugas keluar lebih sering dikerjakan oleh si junior.

karena merasa bosan tidak ada kerjaan di kantor maka si senior ini kemudian minta ijin cuti. suatu hal yang tidak pernah dilakukannya selama ini. selama hampir lima tahun dia bekerja di tempat kami dia hanya cuti bila bener-bener kepepet, dalam artian dia diminta pulang kampung oleh keluarganya di desa.

sebenarnya itu yang kami tunggu-tunggu, dengan dikemukakannya ijin cuti oleh si senior maka kami jadi punya lebih banyak waktu lagi buat menyusun strategi.

antara senang dan sedih juga bila mengingat kondisi ini, jarang sekali memang karyawan yang sedemikian loyalnya, bahkan saat liburan hari raya pun sisenior lebih suka bertugas menjaga kantor dari pada harus pulang mudik. dan dia baru pulang setelah hari raya lewat dan kami kembali beraktifitas, itupun dia ijin tidak lama, tiga hari berikutnya sudah dipastikan dia akan kembali ke kantor dan beraktifitas seperti biasa.

seperti yang sudah kami perkirakan sebelumnya, dengan ijin cutinya si senior kondisi kantor kami bukannya kacau karena ditinggal oleh orang yang berpengalaman tapi malah menjadi kebalikannya. kondisi kantor menjadi lebih tenang dan kami merasakan adanya hawa positif dalam kami bekerja karena gak ada lagi yang ngomel-ngomel saat di tegur dan tidak ada lagi orang yang bikin kami semua jengkel.

dengan kondisi ini saya jadinya semakin yakin bahwa saya harus mengeluarkan si senior dari perusahaan saya. ternyata si senior bisa digantikan semua fungsi-fungsinya oleh staf yang lebih junior bahkan dengan hasil kerja yang lebih baik lagi.

tapi dengan tidak adanya standart operasional atau peraturan yang jelas dalam perusahaan kami, jadinya kami kesulitan juga buat mencari cara  yang baik dan benar untuk memutuskan hubungan kerja kami dengan sisenior.

dengan adanya kelemahan ini, kami sekarang sedang menyusun standart yang jelas dan tegas buat patokan bila terjadi  permasalahamn dengan karyawan. dengan peraturan yang jelas dan standart, kami sebagai owner atau siapapun yang ditunjuk untuk berkewenangan menangani masalah-masalah karyawan jadi punya patokan yang tegas dan jelas dalam membuat keputusan dan mengambil tindakan.

karena tidak adanya patokan yang jelas tadi satu-satunya harapan kami, saya dan istri, buat mengeluarkan si senior adalah terjadi lagi suatu kejadian yang terjadi karena kebetulan.  kami berdua benar-benar berharap keajaiban akan muncul lagi.

entah karena kami benar-benar berharap dengan semua energi yang ada dan entah karena pikiran kami selalu tercurah ke sana maka muncul suatu berita yang benar-benar kami harapkan.

si senior selama cuti memang masih berada di sekitar kami dalam mingu-mingu awal. dia masih sering muncul dikantor, hanya buat memamerkan kalo dia sedang cuti, harapannya mungkin bisa membuat rekan kerjanya kepingin cuti seperti dia. tapi lama-lama kemunculannya dikantor mulai tidak ditanggapi secara antusias oleh kawan-kawannya, maka kemudian dia minta ijin pada kami buat pulang kampung. tentu saja kami memberikan ijin dengan senang hati, apalagi memang masa cutinya masih panjang dan belum habis.

dengan kepulangan si senior ke kampungnya otomatis lama-lama bikin bayangan kami semua padanya semakin tipis. komunikasi yang terjadi hanya melalui sms saja. situasi di kantor menjadi semaki baik dan menyenangkan. bahkan saya dan istri selalu berpikir supaya si senior menghubungi kami untuk mohon ijin tidak kembali lagi bekerja di perusahaan kami.

harapan tinggal harapan, begitu kata teori. tapi kami tetap tidak berhenti berharap. seperti cerita di novel-novel atau di sinetron televisi, tiba-tiba kami mendapat sms dari si senior kalau dia minta ijin tidak akan bekerja di tempat kami lagi karena dia harus menyelesaikan tugas-tugas orang tuanya di desa. rupanya si senior ini di desa menjadi tokoh hebat karena pengalaman kerjannya di perusahaan kami, dia ternyata bisa menerapkan didesanya dan diminta oleh orang tuanya  buat bekerja disana dan tidak usah kembali bekerja pada kami.

tentu saja permohonan tadi segera kami setujui. karena itu memang yang kami harapkan. si senior tidak lagi bekerja pada kami dan bukan karena kami yang menghentikan kerjanya (secara kasar bisa dibilang kami pecat) tapi karena dia yang mengundurkan diri karena permintaan sendiri. apalagi yang terjadi adalah sisenior mengundurkan diri karena mendapat tawaran pekerjaan yang lebih baik dari yang kami tawarkan padanya.

kalo kami pikirkan lagi kejadian ini sungguh diluar pikiran normal kami. harapan kami terkabul dan terjadi hampir seratus persen. hanya karena kami sungguh-sungguh berpikir dan berusaha supaya apa yang kami harapkan bener-bener terjadi.

mungkin ini yang sering disebutkan oleh berbagai sumber sebagai kekuatan pikiran. kami akhirnya mengalaminya sendiri. kami bersyukur bisa mengalaminya sendiri. kekuatan pikiran memang nyata dan hasilnya luar biasa.

tapi kami tetap belajar bahwa mestinya kami bisa bertindak tegas dalam menegakkan peraturan dalam bisnis kami jika kami punya pertatutan baku tentang berbagai masalah yang akan terjadi dalam pengelolaan persusahaan.

Leave a Reply