saya yakin banyak yang setuju dengan pendapat saya,  kalo sampai detik ini yang namanya keberanian yang dimiliki oleh para pemuda kita baru mulai bangkit lagi. mulai bangkit tapi belom bangun.

http://2.bp.blogspot.com/_E7JQZ-lBQOY/SKfVBWgXfZI/AAAAAAAAAXw/DocQUBvBUn4/s320/Lintas+7-13+08+06+_302_.JPG

sudah terlalu lama kita dijajah, pada masa lalu kita dijajah oleh bangsa asing yang ingin menguasai tanah air ini. karena terdesak dan tidak ingin menderita lebih lama lagi maka banyak pemuda yang bangkit keberaniannya untuk maju berperang dan berjuang demi kemerdekaan. keberanian mereka bangkit oleh kesamaan nasib dan kesamaan musuh. sama-sama dijajah oleh bangsa asing yang sama.

tapi kini pada jaman modern di era tahun 2009, kondisi para pemuda kita termasuk saya didalamnya, (karena saya selalu merasa masih muda) rasa-rasanya malah seperti krisis keberanian. padahal bangsa asing yang menjajah sudah lama pergi dan indonesia sudah 64 tahun merdeka. tapi kenapa yang namanya keberanian itu bukannya tumbuh dengan kuat dan semakin berkembang melainkan malah menjadi seperti sesuatu yang menakutkan.

keberanian malah menakutkan?

mungkin rada-rada aneh dan gak masuk akal tapi itulah sebenarnya yang terjadi pada saya dan rata-rata pemuda yang lain. keberanian saya baru muncul dan semakin berkembang pesat lalu menjadi bertambah kukuh pada usia saya mencapai 34-35 tahun. saat itu saya bener-bener punya banyak keberanian untuk mengubah nasib saya, banyak tapi belum punya 100% keberanian.

kalau saya pikir-pikir kenapa saya tidak punya keberanian sampai pada usia sedemikian uzur, bukan kah penjajah sudah lama pergi karena kalah. memang penjajahan bangsa asing sudah lama pergi tapi menurut saya lalu muncul penjajah-penjajah baru yang sangat sulit dilawan dan sangat menghancurkan moril dan keberanian saya.

penjajah itu ada disekitar kita, bukan bangsa asing dan bukan orang asing.  para penjajah itu bener-bener adalah orang terdekat kita dan itu menurut pendapat pribadi saya.   orang tua, saudara sekandung, saudara dekat, teman, tetangga adalah para penjajah yang bikin nyali dan keberanian saya hilang. itu baru di lingkungan terdekat. dilingkungan yang lebih jauh saya merasa dijajah oleh para guru disekolah.   di rumah saya sudah merasa keberanian yang saya miliki dikebiri itu tidak cukup tapi masih ditambah lagi disekolah. kemudian para penguasa di negara ini juga merupakan penjajah yang tidak kalah kejamnya dengan para penjajah bangsa asing dijaman perang dulu,  mulai dari penguasa terbawah sampai teratas.

dari cerita saya tadi hampir tidak mungkin saya punya keberanian untuk melakukan apapun karena adanya berlapis-lapis penjajahan yang berhasil memusnahkan segala keberanian saya.

orang tua secara tidak sadar berperan sebagai penjajah bagi anak-anaknya. dengan dalih demi kebaikan mereka sering menentukan secara ‘paksa’ apa yang harus ditempuh anak-anaknya. sehingga dari kecil kita atau saya sudah kehilangan daya inovasi dan kreativitas.  mulai dari dalam kamar tidur langkah saya sudah diatur-atur. dan saya gak mungkin ngelawan sama orang tua, karena sedari kecil sudah ditanamkan pada alam bawah sadar saya, bahwa jika berani pada orang tua dengan bentuk apapun adalah dosa besar, sedangkan menurut pada orang tua adalah suatu kebaikan. dengan kondiasi ini saya dituntut jadi anak baik yang tidak punya keberanian.

selangkah diluar pintu rumah, saya dijajah lagi oleh tetangga, saya harus mengikuti semua norma yang berlaku turun temurun dalam masyarakat saya. tetangga malah lebih kejam dari orang tua, begitu saya tidak mengikuti tata krama yang ada saya dirasani (bahasa indonesianya mungkin digosipin) dikucilkan dan berbagai tindakan yang menyakitkan. norma dan tata krama yang berlaku sering tampak aneh buat saya. seorang yang tidak bekerja sebagai karyawan (pegawai negri) tapi bisa menghasilkan uang sendiri, malah tidak dihargai sama sekali, disamakan dengan penganggur dan diberi derajat terendah. sedangkan seorang karyawan terlebih bila menjadi pegawai negeri dengan gaji berapapun pasti di beri pujian dan kadang terlalu berlebihan.

norma yang berlaku sangat mengagungkan status karyawan yang berpenghasilan tetap.  karena ini adalah culture, budaya dan cara pikir masyarakat indonesia pada umumnya. sebagai akibat maka  kondisi ini hampir tidak bisa dilawan dengan cara apapun,  sehingga kita akan mengalami kesulitan bahkan bisa tidak punya kesempatan menumbuhkan keberanian.

di luar itu ada lingkunan lain, yakni lingkungan sekolah.    dalam lingkungan ini menurut saya seorang guru disekolah benar-benar berperan sebagai penjajah dari pada sebagai pembimbing.  sebab sebagai siswa yang telah bersekolah selama sekitar 12 tahun, saya benar-benar merasa terjajah disana. saya harus menurut apa kata seorang guru, tidak boleh dibantah, tidak boleh ada usul, dan tidak boleh ada pendapat lain. pokoknya sebagai murid saya harus benar-benar patuh pada mereka, pada semua ajaran mereka. karena mereka selalu merasa paling benar sebagai seorang pendidik. bila saya berani melakukan sesuatu yang bertentangan maka saya pasti dapat hukuman dari mereka, orang tua saya dipanggil dan diberitahu bahwa anaknya telah bertindak tidak sesuai aturan yang ada. nah kalau kondiasi ini terjadi sudah pasti saya dapat hukuman double dari guru disekolah dan dari orang tua yang malu dirumah.

belum lagi linkungan daerah dan negara diluar lingkunan rumah tangga, tempat bermain dan sekolah. disini mungkin setara dengan masa penjajahan bangsa asing dulu. jika tidak setuju dengan penguasa jangan harap bisa hidup aman.

ada empat lingkungan tempat saya tumbuh, yaitu di rumah, tempat bermain di tetangga, sekolah dan negara. semuanya mengekang keberanian saya. saya dikekang bukan dengan senjata seperti jaman perang dulu tapi dengan dalih moril dan tata krama. baru setelah lebih dewasa saya dikekang dengan bedil saat saya keluar dari lingkungan kecil saya menuju lingkungan besar, lingkungan negara republik indonesia.

saya memang belum lahir pada jaman penjajahan dulu, tapi dari sejarah dan cerita yang saya dengar, situasi pada jaman itu jauh lebih mudah daripada jaman sekarang, untuk membangun mental keberanian dalam diri kita. karena keberanian telah dipupuk dari kecil oleh orang tua, keberanian untk melawan penjajahan bangsa asing. lalu sebagai pemuda dimasa itu, malu rasanya jika tidak mampu menunjukkan keberanian untukberperang melawan penjajah.

tapi dijaman modern saat saya dilahirkan sampai tumbuh dewasa rasanya tidak ada tempat untuk menumbuhkan keberanian saya. semua tampak buntu dengan batasan-batasan moril kemasyarakatan dan agama. dalam kondisi ini mana sempat keberanian saya muncul, yang ada adalah harus tunduk dan menurut.

makanya tidak heran, pemuda seangkatan dan seusia dengan saya pasti lebih tidak bernyali dibanding dengan pemuda dengan usia dibawah saya, penuh dengan ketakutan yang tak berkesudahan.

angkatan kami jarang yang punya inisiatif, ide segar atau kreativitas. yang ada adalah satu kata ‘nggeh, nggeh, ya,ya, saya laksanakan’

jika tidak habis sudah cercaan datang dari segala penjuru. jangankan punya keberanian buat bertindak, punya kebneranian untuk berpkir saja jarang. akibatnya kondisi saya menjadi tidak berkembang, seperti robot yang tidak bisa bertindak bila tidak diperintah. standart hidup cuma satu sekolah yang pintar lalu setelah lulus mencari pekerjaan sebagai pegawai. bagai mungkin bisa menentang karena memang gak mungkin punya nyali.

saya termasuk tipikal pemberontak yang tidak suka diatur-atur sehingga nyali saya tumbuh dan saya menjadi berani bertindak. akibatnya jelas orang tua marah, sodara marah,   tetangga membicarakan seakan tidak ada habisnya. jadinya saya sendirian tanpa kawan untuk terus melangkah sesuai keinginan saya.

saya harus buktikan bahwa tindakan saya benar, dan itu yang menjadi semacam dendam yang semakin mengobarkan semangat dan keberanian dalam diri saya. nilai akademis yang pas-pasan, di berhentikan dari tempat kerja dan memilih untuk membangun usaha sendiri pastilah penuh perjuangan secara moril dan meteriil.  dan saya sedang dan sudah mengalaminya.

pikiran yang muncul dari otak saya selalu dianggap aneh dan tidak masuk akal. jadinya pasti ditentang. padahal sekarang pikiran-pikiran seperti itu sekarang dikenal dengan banyak istilah seperti otak kanan atau think out of box.

karena memang pemberontak otomatis keberanian terus muncul dan saya trus melakukan perlawanan dengan cara-cara saya dengan pikiran-pikiran saya yang otak kanan atau think out of box.   tekad saya cuman satu, saya dapatkan kebebasan saya lalu dengan itu akan saya buktikan pada dunia kalo saya bisa.

karena pemberontak cap negative selalu lekat dengan saya tapi saya gak peduli saya harus bisa terus hidup dengan menjadi entrepreneur.   alhamdulillah saya bisa, tapi itu pun setelah ayah saya meninggal dunia dan hanya bisa saya tunjukkan ke ibu saya.

tapi lebih dari itu saya bisa buktikan pada diri saya sendiri bahwa saya punya keberanian buat melawan sesuatu yang tidak mungkin bisa dilawan, dan ternyata saya bisa.   tugas saya yang berikutnya adalah harus bisa membuktikanya pada dunia, bahwa disisa umur yang saya punyai ini saya tetep bisa menjadi entrepreneur yang sukses dan berhasil.  untuk itu saya harus tetep punya keberanian untuk bertindak bebas, berpikir bebas dan berkembang bebas sesuai dengan kebutuhan bisnis saya.

waktu terus berjalan dan jaman terus berubah.

jaman perang kemerdekaan dengan keberanian dan darah sudah jauh berlalu, jaman otoriter dan feodalisme pelan-pelan juga telah berlalu.  jaman sekarang ini jauh lebih modern dan bebas.  berbagai fasilitas pendukung keberanian untuk bertindak dan menjadi berubah telah tersedia dimana-mana. sekarang tinggal giliran para pemudanya mau maju dengan keberanian bekreasi dan berinovasi sebagai entrepreneur yang bisa menghasilkan uang sendiri atau tetep terpuruk dengan janji-janji manis sebagai pegawai yang berpenghasilan tetap dan mendapatkan uang pensiun di masa tua.

semua itu hanya pilihan.

kita sebagai pemuda bebas untuk memilih, memilih untuk maju dengan keberanian atau terus menunggu perubahan pasrah dan dengan tertunduk lesu.

ini eranya kebebasan kok.

Leave a Reply

©2008 Demo | Designed by: Elegant Wordpress Themes & Made free by SOURCE-Promo.com Promo Items | Valid XHTML | WordPress